Connect with us

Pentingnya Peran Kelompok Masyarakat Pengawas Laut

Konsel Minapolitan

Pentingnya Peran Kelompok Masyarakat Pengawas Laut

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Jufri warga Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe selatan mengarahkan pandangan ke arah suara ledakan bom di ujung perairan desa. Ia meninggalkan alat pancing dan bergegas ke arah bunyi ledakan saat menjelang magrib. Di sana, pria parubaya itu menyaksikan empat nelayan tengah asyik mengumpulkan ikan  hasil bom yang mengapung di atas permukaan air. Ke empat nelayan yang tak dikenalinya itu buru-buru pergi saat tau Jufri datang. Amarahnya mencuat melihat patahan-patahan terumbu karang yang hancur akibat bom ikan tersebut. Apalah daya dia hanya seorang diri tidak mampu berbuat apa-apa. Namun ia tak patah semangat, Ia pun berjuang melawan para pembom ikan.

Beberapa bulan kemudian kesempatan itu tiba, saat tim survey wilayah pesisir Dinas Kelautan dan Perikanan Konawe Selatanmampir ke desanya. “Saat itu saya sedang di pantai dan melihat tim survey datang ke desa saya,”kata Jufri.

Dari sinilah awal mula perubahan terjadi. Jufri sang nelayan mengungkap semua kegundahannya sebagai nelayan pesisir yang setiap saat melihat aksi pemboman ikan. Jusfri mengadu kerusakan terumbu karang akibat illegal fhising telah merusak lingklungan pesisir serta merusak perekonomian nelayan yang selama ini sangat bergantung pada keramahan laut. “Kerusakan pesisir telah membuat kami susah memperoleh hasil tangkapan dan berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga kami,”kata Jufri. Mendengar keluhan Jufri, petugas dinas menyarankan agar nelayan membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).

Setelah mendapat saran, maka sejak 2009 silam, warga membentuk komunitas kelompok yang diberinama Kelompok Masyarakat Pengawas Laut

(Pokmaswas) Samaturu yang diketuai oleh Jufri. Pokmawas pun mulai melakukan pengawasan dan membuat Daerah Perlindungan Laut (DPL) di sekitar perairan Pulau Lara tempat nelayan-nelayan destructive fishing melakukan pemboman ikan. Alhasil, upaya Jufri dan kawan-kawan membuahkn hasil, selain pembom ikan semakin berkurang, hasil tangkapan nelayan pun mulai kembali normal seiring makin baiknya terumbu karang. Tak hanya mengawasi, pokmawas melalui bantuan dinas, juga membuat traspalasi karang yang rusak dan mendapatkan bantuan modal usaha bersama.

Agar nelayan atau anggota Pokmaswas Samaturu dapat menjalankan operasinya maka mulailah dikelola Pulau Lara sebagai daerah ekowisata. Pulau Lara yang tadinya kotor dengan sampah-sampah masyarakat pesisir mulai dibersihkan oleh anggota Pokmaswas Samaturu. Semakin lama pengunjung mulai berdatangan, pundi-pundi dana Pokmaswas Samaturu pun mulai ada dalam menjaga (DPL) di sekitar perairan Pulau Lara. Pundi-pundi dana ini berasal dari sumbangan nelayan Desa Wawatu sebesar Rp. 10.000 per satu kali mengantar wisatawan maupun mahasiswa dalam penelitian.

Dengan adanya ekowisata Pulau Lara perekonomian Desa Wawatu mulai bergejolak naik ada yang menjadi tukang parkir, kios hingga penyewaan perahu. Sehingga tugas dalam melindungi Daerah Perlindungan Laut (DPL) di sekitar perairan Pulau Lara tidak memata-mata tanggung jawab anggota Pokmaswas Samaturu tapi hampir sebagian besar masyarakat Desa Wawatu. Nelayan pun dalam menangkap ikan tidak terlalu jauh disekitar daerah pemanfaatan DPL Pulau Lara karena ikan-ikan mulai banyak di daerah transplansi karang (pembiakan karang) yang dilakukan para mahasiswa.

Jufri kini bisa tersenyum, dengan melakukan hal kecil (membentuk Pokmaswas) tetapi memberi efek perubahan sungguh besar bagi masyarakat dan ilmu penelitian. (TIM DKP Konsel)

 

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Konsel Minapolitan

To Top