Connect with us

Pemulung Berebut Rezeki Kampanye Parpol

Hukum & Kriminal

Pemulung Berebut Rezeki Kampanye Parpol

 

KENDARI, SUARA KENDARI.COM-Kampanye para caleg dan partai politik (Parpol), sedang berlangsung dimana-mana. Hal itu mengakibatkan banyaknya sampah-sampah yang berserakan, mulai dari sampah visual dari poster, dan juga sampah plastik karena berkumpulnya massa parpol pada saat kampanye terbuka.

Bagi segelintir orang yang aktifitasnya memulung, hal ini merupakan salah satu moment emas untuk mereka. Pasalnya, dengan mengumpulkan sampah plastik dari sisa air mineral yang dikonsumsi oleh simpatisan parpol, mereka mampu meraup keuntungan hingga ratusan ribu rupiah, tidak seperti hari-hari lainnya.

Wa Mina (42), warga lorong Dolog, Kelurahan Tobuuha, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, dengan cekatan ia mengumpulkan satu persatu gelas-gelas plastik dari sisa-sisa air mineral. Sesekali ia membasuh keringat yang menetes dari wajahnya, akibat teriknya matahari saat itu.

Aktifitas tersebut telah dilakoninya sejak 10 tahun. Ibu lima anak ini terpaksa harus memulung, untuk membantu sang suami menopang kehidupan keluarganya. Sang suami yang setiap harinya menarik becak, hanya mampu menghasilkan Rp 25.000. Jelas itu tidak mencukupi untuk keperluan hidup mereka. Apalagi, dua orang anaknya saat ini berumur 5 tahun, sedang yang satunya lagi masih berumur 2 tahun.

“Ya, kalau tidak ada acara begini, saya bisa dapat sampai Rp 10.000 setiap hari. Tapi, kalau ada acara, lumayan banyak. Kadang sampai seratus ribu lebih saya dapat, tapi sampai malam saya mencari,” ujar Wa Mina.

 

Dengan nada yang sedikit datar, ia berkata, tiga orang anaknya tidak lagi melanjutkan studinya karena alasan himpitan ekonomi yang dialami oleh keluarganya. Ia mengakui, ia bisa saja memaksa anaknya untuk kembali bersekolah. Namun, sang anak lebih memilih membantu sang ibu, dengan menjadi buruh di pasar.

“Anak saya yang bernama Adi, berhenti sekolah kelas dua SMP. Katanya, dia ingin membantu ibunya mencari nafkah. Apalagi, dia juga terlanjur kecewa dengan sekolahnya yang dulu,” ucapnya sembari memperbaiki karungnya.

Di sekolah, tempat anaknya menimba ilmu dulu, sang putra yang bernama Adi (14), hendak mengurus beasiswa miskin, agar orang tua tidak memikirkan lagi biaya sekolahnya. Namun, entah apa alasan sang guru, sampai-sampai putra keduanya itu, tidak mendapatkan beasiswa tersebut.

“Biarlah, itu tidak apa-apa. Tapi, dua orang anak saya yang masih kecil ini harus saya sekolahkan. Siapa tahu, mereka bisa jadi orang yang besar,” jawabnya sambil berkata amiin. (min)

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Hukum & Kriminal

To Top