Pecah Kongsi, Dulu Berjuang Bersama Kini Bersaing

KENDARI, SUARAKENDARI.COM- Dalam Politik, tidak ada persahabatan ataupun musuh abadi. Adanya kepentingan abadi seseorang. Hal itulah yang terjadi dalam penyelenggaraan Pilkada serentak 2015 ini. Sejumlah kepala dan wakil kepala daerah yang pernah berduet pada pilkada lalu, kini berpisah dan bersaing memperebutkan kursi kepala daerah.
Pecah “kongsi” itu tidak hanya terjadi terhadap calon yang masih menjabat atau petahana hingga penetapan calon. Pisah hubungan itu juga terjadi terhadap kepala dan wakil kepala daerah yang telah mengakhiri masa jabatan periode 2010-2015.
Di Sulawesi Tenggara, dari tujuh daerah yang akan melakukan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Dari tujuh daerah tersebut, ada dua daerah yang menjadi persaingan calon yang pernah atau masih berpasangan memimpin satu daerah yang sama (petahana). Perpecahan ini umumnya karena kedua calon ingin maju sebagai kepala daerahnya masing-masing.
Di Kabupaten Konawe Utara, Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman dan Wakil Bupatinya Ruksamin, kini bertarung memperebutkan kursi kepala daerah. Di Kabupaten Muna, dr LM Baharuddin dan Abdul Malik Ditu, kini juga bertarung memperebutkan kursi panas tersebut, dengan pasangan yang berbeda.
Saat ditemui kediamannya belum lama ini, Pengamat Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo, Dr Peribadi, mengatakan, saat calon petahana tidak lagi maju bersama dalam pemilihan kepala daerah di daerah asalnya, mungkin saja ada perbedaan pendapat atau tujuan dari keduanya. Hal seperti ini juga sudah menjadi hal yang lumrah dalam politik.
“Bagi saya, timbul satu pertanyaan besar mengapa kedua petahana ini berpisah? Biasanya, antara bupati dengan wakilnya ketika memiliki strategi yang sama, tujuan yang sama, saat akan mencalonkan lagi maka kedua orang tersebut akan berlanjut. Tetapi, ketika keduanya memilih jalan masing-masing, maka akan timbul pertanyaan seperti itu,” jelasnya.
Kedua calon petahana tersebut, lanjutnya lagi, pastinya memiliki kekuatan materi yang hampir sama, ketika melihat pengaruh dari pemilih konvensional, maka siapapun yang mampu masuk melalui jalur pemilih konvensional yang lebih dominan ini, maka dialah yang bisa memenangi pertarungan ini.
“Figur petahana ini, tidak mutlak juga akan terpilih. Justru, peluang untuk terpuruk sangat besar. Mengapa demikian, satu contoh adalah salah satu incumbent, selama satu periode masa jabatannya, tidak memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kesejahteraan masyarakat, maka peluang untuk tidak terpilih dalam Pilkada nanti sangat besar. Tetapi, ketika ada satu pesan positif yang bisa tertanam di hati masyarakat, maka sangat sulit untuk menandingi figur incumbent ini,” katanya.
Terlepas dari itu, para figur yang maju ini, harus mereflesikan visi misi mereka dari studi aspirasi masyarakat yang sebelumnya telah dilakukan pada saat mau mencalonkan sebagai kepala daerah. (Arn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *