Connect with us

Pasca Tambang Tutup, Nelayan Pomalaa Mulai Bergairah

Suara Lingkungan

Pasca Tambang Tutup, Nelayan Pomalaa Mulai Bergairah

KENDARI, SUARAKENDARI.Com-Setelah lingkungan pesisir Hakatutobu menjadi rusak akibat aktifitas pertambangan, sebagian besar masyarakat di daerah itu kini melakukan penangkaran ikan dengan membangun keramba-keramba di tengah-tengah laut agar populasi ikan di Desa Hakatutobu tetap lestari. Namun, yang menjadi alasan utama sehingga mereka melakukan itu adalah daerah pesisir yang dulunya mereka gunakan sebagai tempat membudidayakan rumput laut dan teripang, kini telah rusak akibat kiriman lumpur merah dari hasil pembukaan lahan yang jaraknya sangat dekat pesisir hakatutobu.

Koordinator Forum Swadaya Masyarakat Daerah Kabupaten Kolaka, Jabir, saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, untuk di wilayah Kecamatan Pomalaa, desa Hakatutobu merupakan daerah yang paling parah menerima dampak dari aktifitas pertambangan di desa tersebut. Pasalnya, didaerah tersebut terdapat lima kuasa pemegang IUP, diantaranya PT DRI, Perusda, PT.TRK, PT Cinta Jaya, dan PMS. Selain itu, di sekitar pesisir juga terdapat 2 pelabuhan pengangkut material orenikel yang akan dikirim ke luar negeri.

“Secara keseluruhan wilayah Pomalaa, empat desa yakni desa Tambea, Hakatutobu, Sopura dan Oko-oko, adalah daerah yang menerima dampak secara langsung dari aktifitas pertambangan ini,” jelasnya.

Memang ada jaminan yang diberikan oleh pihak perusahaan, seperti memberikan biaya ganti rugi kepada petani rumput laut yang rusak akibat lumpur merah ini, namun hal itu tidak dilakukan secara berkala. Sehingga setelah rumput laut mereka mati, apa lagi yang mereka bisa lakukan? Sama sekali tidak ada. Pemberian kompensasi ini juga dilakukan oleh pemegang IUP setelah ada aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat. Ketebalan lumpur merah yang terjadi di tiga desa tersebut bahkan mencapai lutut orang dewasa.

“Sebelum hal ini terjadi, kegiatan masyarakat selalu bersentuhan dengan laut yakni dengan membudidayakan rumput laut dan teripang. Namun setelah aktifitas pertambangan nikel berlangsung, daerah Hakatutobu yang tadinya merupakan daerah penghasil rumput laut kini kondisinya tidak seperti itu lagi atau sudah habis total,” ungkapnya.

Desa Tambea sendiri, lanjutnya lagi, dulunya sebagai penghasil terbesar teripang di Kabupaten Kolaka, sejak adanya pelabuhan pengangkut orenikel di daerah itu salah satu jenis hasil perikanan ini sudah mulai terkikis. Sedimentasi yang terjadi, bukan hanya disebabkan oleh aktifitas pertambangan, tetapi dengan adanya pelabuhan pengangkut orenikel di beberapa desa di Kecamatan Pomalaa ini, menjadi penyumbang lumpur juga karena pembangunan yang tidak sesuai dengan aturan Menteri. (MIN)

Continue Reading
You may also like...
1 Comment

1 Comment

  1. Marina

    February 27, 2014 at 1:38 pm

    Mas Yos Hasrul, ini kenapa judulnya tidak sesuai dengan isi? Isinya bercerita kalau sejak ada tambang (atau tambang dibuka?) nelayan rumput laut dan teripang layu tidak bisa budidaya. Tapi judulnya sebaliknya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Suara Lingkungan

To Top