Connect with us

Nyanyian Sunyi Eks Tapol PKI di Kendari

Metro

Nyanyian Sunyi Eks Tapol PKI di Kendari

KISAH sedih nan panjang dialami 40 keluarga bekas tahanan politik Partai Komunis Indonesia (Eks Tapol PKI) di Kendari. Mereka menghuni kampung nanga-nanga, kampung yang penghuninya sejak tahun 1978 hingga kini masih di cap “merah” dan status politiknya belum dicabut pemerintah. Berikut kisahnya, yang ditulis cukup apik oleh Riza Salman, seorang jurnalis muda di Kendari.
———————-

Namanya Lambatu. Lengkapnya Lambatu Bin Lanasi. Pria kelahiran Kapontori, kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara ini sudah berusia uzur. Di zamannya, mungkin ia satu-satunya pemuda kelahiran Buton yang paham betul ideologi komunis sejak bergelut secara sembunyi-sembunyi dengan buku Karl Max dan pemikiran Lenin ketika bekerja paruh waktu sebagai penjaga perpustakaan di kota Ujung Pandang (sebelum berganti nama menjadi Makassar) ibukota provinsi Sulawesi Selatan.

“Dalam komunis upah pekerja sesuai dengan kebutuhan, bukan diukur berdasarkan hasil kerja. Maksudnya, upah kerja kita disesuaikan dengan kebutuhan dalam keluarga” kata Lambatu menjelaskan satu point paham Marxisme yang membuat dirinya kemudian bergabung dengan partai Komunis di tahun 1964 dan menempati posisi sekretaris komite subseksi CSS partai komunis di kecamatan Kapontori Buton.

Lambatu adalah satu dari 40 orang bekas pengurus dan anggota PKI yang selama 36 tahun lamanya merasakan pengasingan di Nanga-nanga, kampung Eks Tapol PKI. Kampung yang hanya berjaraknya kurang lebih 20 kilometer dari pusat kota Kendari menjadi saksi bisu perihnya hidup pada napi. Mereka hidup tanpa fasilitas mendukung dan tanpa listrik, nanti tahun 2005 lalu penerang listrik masuk.

Latar belakang masa kecil terlahir dari keluarga non bangsawan, Lambatu ingat betul bagaimana rasanya hidup sebagai petani miskin yang terpaksa menggantungkan hidup bekerja pada pemilik lahan dengan upah berdasarkan hasil kerja.Upah itu dinilai tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.Baginya, kabupaten Buton saat itu masih mewarisi feodalisme kerajaan yang harus diubah.

Sepulanganya ke kampung halaman dan menjadi seorang guru SMP, Lambatu aktif membangun kelompok diskusi tentang bagaiman memajukan negara dan memberi pendidikan politik kepada warga di daerah asalnya.Keterlibatan Lambatu dalam partai Komunis menempati posisi sekretaris komite subseksi CSS partai Komunis di kecamatan Kapontori Buton.

Kisah pilu Lambatu bermula pasca beredar informasi melalui siaran Radio RRI tentang peristiwa menyeramkan yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965, di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota PKI.

Seingatnya, sekitar pukul tujuh malam di awal November petugas polisi menangkap dan menggeledah rumahnya untuk mencari dokumen terkait kudeta militer yang menyebabkan tewasnya enam jenderal: Letjen TNI Ahmad Yani Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staff Komando Tertinggi)/ Mayjen TNI RAden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi), MAyjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD Perencanaan dan Pembinaan), Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/PAnglima AD bidang Intelejen), Brigjen TNI Donald Isaac PAnjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik), Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inpektur Kehakiman/Oditur Jenderal AD). Mayat mereka ditemukan di desa LUbang Buaya kawasan Cipayung Jakarta Timur pada 4 Oktober 1965 oleh operasi yang dipimpin Pangkostrad Mayjen Soeharto.

“Kita dijemput polisi katanya mau diamankan, ternyata kita tidak pulang-pulang. Dalam tahanan kita disiksa, disetrum, dipukul, ditindis pakai meja selama beberapa hari untuk menjawab pertanyaan mana dokumennya, struktur PKI seperti apa?”, cerita Lambatu.

“Bulan pertama setiap hari jatah makan kita hanya 40 biji jagung per orang, bulan kedua setiap hari satu ubi per orang, bulan ke tiga hanya satu sendok sagu kental perorang. Jadi kita jilat-jilat saja itu sagu supaya hemat-hemat”, mengenang betapa pahitnya menjalani masa-masa awal penahanan selama lima tahun di penjara Buton tanpa surat penahanan dan pengadilan.

Satu dari tahanan yang bersamanya, Bupati Buton, Muhammad Kasim dinyatakan meninggal gantung diri dalam sel. Kasim dituduh terlibat gerakan PKI atas penyelundupan pasokan senjata dari Cina melalui kapal yang berlabuh di pesisir Sampolawa dan kemudian hari tuduhan tersebut tidak terbukti.

Dari keluh kesah Lambatu, ada satu hal yang mengejutkan ketika ia mengomentari adegan film G30S/PKI yang setiap tahun pemutarannya ditunggu-tunggu pemirsa TVRI saat masa Orde Baru. Dalam film ini, rapat persiapan kudeta militer digambarkan kepulan-kepulan asap rokok keluar dari mulut anggota PKI. Hal itu dianggap tidak sesuai dengan paham PKI.

“Di PKI kita dilarang merokok, karena rokok itu candu. Kita juga dilarang beristri 2, karena 1 istri saja belum tentu bisa adil”, tegasnya.

Kenyataan itu tercermin dalam kehidupan Lambatu, yang menikah kembali beberapa tahun setelah istrinya meninggal dunia tahun 1976. Tidak ada anak dari pernikahan pertamanya, nanti kemudian dipernikahan ke-dua ini Lambatu dikaruniai empat orang anak.

Anak-anak Lambatu juga mengalami masa perkembangan yang sulit seperti anak-anak eks tapol PKI lainnya. Tidak sedikit dari mereka mampu bertahan hingga menyelesaikan jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama saat itu. Dan tidak sedikit pula yang terpaksa putus sekolah lantaran tidak tahan dengan stigma dicap anak PKI oleh siswa lain.

“Banyak itu anak-anak PKI yang berhenti sekolah, mereka tidak tahan diganggu teman-temannya. Kalau saya punya anak pulang sekolah, mereka ceritakan tentang sejarah PKI yang diajarkan guru dan diganggu teman-temannya. Biasanya teman-teman lainnya hanya tunduk diam saja dan kalau tidak tahan mereka keluar kelas untuk berdiam diri. Saya cuma kasih nasihat ke anak saya, sabar saja”, kata Lambatu.

Tapi, tidak mudah untuk menyekolahkan anak saat itu, sampai-sampai orang tua harus mengganti nama. Lambatu harus merubah namanya menjadi Taufiq.

Rupanya, nasihat Lambatu kepada anak-anaknya berbuah keberhasilan. Kini ke-empat anaknya menjadi PNS mengabdi pada negara. Kecerdasannya seolah-olah mampu memprediski jika putaran waktu akan berpihak pada sejarah dan generasi mendatang.

Sudah 37 tahun lamanya sejak tahun 1977 menjalani pengasingan di Nanga-nanga, kini Lambatu hidup seorang diri, berharap status politiknya dipulihkan pasca usulan presiden ke-5 RI, Abdurrahman Wahid atau “Gus Dur” ditahun 2000 yang menuai kontroversi, yakni pencabutan Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pelarangan PKI dan pelarangan penyebaran ajaran komunisme dan Marxisme/Leninisme di Indonesia. Usulan ini berdasarkan pertimbangan Gus Dur akan hak asasi manusia.

Saban hari, hidup dirumah yang berdinding lubang-lubang, tiang lapuk dan bertopang kayu di setiap sudut bangunan tidak membuat Lambatu putus asa menanti kemerdekaan hak asasinya. Baginya, hidup di Nanga-nanga memiliki arti kebebasan tersendiri. Terlepas dari bayang-bayang trauma penderitaan mencap label PKI.

“Saya biarkan saja rumah ini begini, hingga roboh bersama sejarah”ujar Lambatu.***

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top