Connect with us

Nelayan Bajo Makin Terpuruk Ditengah Eks Lokasi Tambang

Suara Lingkungan

Nelayan Bajo Makin Terpuruk Ditengah Eks Lokasi Tambang

KOLAKA,SUARAKENDARI.COM- Dua desa yang dominan dihuni oleh Suku Bajo di Kolaka, Sulawesi Tenggara kini mengalami kesulitan. Terutama bagi para penduduknya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Desa tersebut adalah desa Tambea dan Hakatutobu yang terletak di Kecamatan Pomalaa.

Kepada awak media, sejumlah nelayan didaerah tersebut mengaku kini kehidupan mereka semakin susah pasca berhentinya perusahaan-perushaan tambang nikel beroperasi. Wajar saja, sebab dua desa pesisir ini bersentuhan langsung dengan sedimentasi lumpur merah yang berasal dari aktiftias tambang. Kata nelayan, saat perushaan tambanb masih aktif mereka sudah merasakan susahnya mendapat ikan, namun setelah perushaan tambang berhenti makin sulit lagi sebab lokasi tambang dan pelabuhan ditinggal begitu saja.

“Dulu waktu masih aktif itu perusahaan kita sudah sulit karena air merah kalau hujan, lumpurnya dari atas gunung itu turun semua dilaut. Saat itu perushaan masih ada upaya mencegah limbah meskipun tidak selalu berhasil. Tapi sekarang tidak ada lagi yang perhatikan. Kalau hujan turun itu lumpur dipinggir pantai, semua merah dan tidak bisa lagi kita cari ikan,” kata Iskandar, Minggu (15/06/2014).

kini, saat mereka melaut hanya bisa mendapatkan beberapa ekor ikan. Dan ketika dijual hanya laku Rp.50.000. “Biasa dapat dua tusuk saja pak. Kalau dijual paling banyak Rp.50.000. kita rugi pak, mana operional banyak karena kita cari ikan jauh diluar pulau sana. Kalau didekat-dekat pesisir jangan harap mau ada ikan,” tambahnya.

Nelayan lain yang bernama Hasyim kini mengaku berat untuk menopang ekonomi keluarganya, pasalnya sembilan orang anaknya kini menjadi pengangggunran. “Waktu ada tambang semua anak saya bekerja diperusahaan-perushaan itu jadi bisa dapat uang. Kalau saya hanya melaut meskipun jauh diluar pulau sana. Tapi sekarang, tangkapan ikan juga sudah berkurang, anak-anak semua menganggur. Beban semakin berat pak,” cetusnya.

Secara terpisah Bupati Kolaka, Ahmad Safei mengaku akan memanggil seluruh pengusaha tambang untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

“Khususnya yang memiliki pelabuhan, itu berapa ton tanah merah mereka pakai untuk buat pelabuhan, kini ditinggal begitu saja. Siapa yang mau urus itu, apakah harus kita angkat lagi ke hutan, tidak mungkin. Hal ini saya akan pertegas sama pengusaha itu. Bahwa kalian harus bertanggung jawab dan kalau sampai berdampak pada nelayan mereka juga tanggung jawab,” tegasnya. ABDI

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Suara Lingkungan

To Top