Connect with us

Nasib Lulo yang Mulai Tergusur dengan Medije

Opini

Nasib Lulo yang Mulai Tergusur dengan Medije

 

Sebelumnya saya memohon maaf karena mungkin saya tidak berkompoten untuk menyampaikan ini, semata rasa empati saya pada sebuah budaya, dimana budaya tersebut adalah identitas dari saudara-saudara saya di tanah tolaki, tanah yang memberi ruang untukku bertahan hidup, tanah dimana segala macam bahan pangan yang  saya konsumsi.

Awal saya menjejakkan kaki di tanah yang penuh berkah ini pada tahun 1997 silam. Saat pertama hadir sebuah kata local yang membuat saya begitu tertarik yakni kata “lulo”. Kata yang teramat singkat namun sarat makna. Ketika itu,  saya masih numpang kos di pondok ratu,  lorong pelangi, kampus baru, Kendari. Seorang teman mengajak saya  ke kampungnya di Wawotobi untuk menghadiri pesta perkawinan familynya.

Sebagai pemuda jomblo ketika itu,  sebelum berangkat saya sempat bercanda pada teman tersebut dengan pertanyaan “banyakji cewek.???.”. Pertanyaan klasik dari seorang pemuda ketika akan menghadiri acara keramaian. Teman tersebut pun menjawab, “Pastimi,  banyak cewek karena ada lulo”. Seketika itu, ketertarikan saya bukan lagi pada pembahasan tentang cewek (gadis), tapi pada kata “lulo” yang baru saya dengar. Rasa penasaran mengusik untuk  saya bertanya pada teman tersebut, “Apa itu lulo?”.Teman tadi menjawab, bahwa Lulo itu tarian adat Tolaki yang dilaksanakan saat ada acara, semisal pesta kawin atau syukuran lainnya.

Singkat cerita, saya pun berangkat ke kampung teman tadi dengan menumpang sebuah mobil angkutan umum. Kami tiba sebelum hari benar-benar gelap . Pesta begitu meriah, suara musik dari elekton sudah menghibur seisi kampung.  Musik dangdut megitu memacu adrenalinku Seperti diketahui  dangdut adalah musik rakyat yang cenderung digandrungi anak kampung sepertiku di tanah seberang.

Kami mendekati arena pesta, terlihatlah olehku laki-laki dan perempuan yang saling berpegangan tangan membentuk sebuah lingkaran, bergoyang mengikuti irama musik yang terus mengalung tiada henti. Pemandangan yang begitu menarik bagi orang baru sepertiku yang baru menyaksikan tarian yang penuh makna itu. Makna yang dapat kutangkap dari tarian lulo pada malam itu adalah nilai-nilai kebersamaan yang begitu tinggi bagi masyarakat Tolaki.

Semakin larut semakin ramai orang-orang yang memasuki arena lulo, Lelaki, perempuan, tua, muda membaur satu dalam lingkaran yang semakin melebar. Sebuah gambaran kebersamaan dan pembauran dalam irama yang begitu memukau.

Namun, jaman terus berubah dan kehadiran buaya-budaya barat ikut menggerus keberadaan budaya lokal. Inilah yang terjadi beberapa tahun belakangan ini ada sebuah kecenderungan yang mengusik benak saya dimana dalam acara-acara pesta, lulo sudah mulai disandingkan dengan hendakan musik ala-ala barat dengan tarian-tarian tak beraturan yang sedikitpun tak memiliki makna dalam penilaian saya yang mungkin cenderung kolot atau ketinggalan jaman.

Tarian tak beraturan itu trendnya di sebut “DJ” dan aorang local pun menyebut “medije” . Dalam hiburan acara-acara pesta, lulo masih tetap menjadi prioritas, namun ketika detak jam dinding sudah melewati angka 10 malam, irama musik dangdut pengirim lulo mulai digantikan dengan hentakan musik barat (walaupun yang saya dengar dari cerita kawan-kawan saya bahwa sesungguhnya dulunya yang mengiringi tarian lulo  bukanlah musik elekton tapi dari bunyi-bunyian yang berasal dari Gong).

Hentakan musik disco, sorotan lampu blitz seadanya mengiringi tarian tak beraturan yang bernama medije. Kecenderungan medije dilakukan dengan penuh semangat hingga larut malam, rentang waktu yang lebih panjang dibanding tarian lulo yang kadang hanya sampai pada jam 10 malam. Sebuah ketakutan dalam benak saya ketika nantinya acara lulo dinilai hanya sekedar pelengkap dari acara meDJ. Ketika arus transformasi budaya asing semakin deras menggulung mental generasi-generasi lokal.

Sekiranya saudara-saudara saya untuk penuh kesadaran dan semangat mempertahankan tradisi budaya sebagai identitas sebuah peradaban dari para leluhur, meyadari bahwa meDJ bukanlah tradisi Leluhur tapi lulo lah sesungguhnya yang mereka wariskan.

Penulis: Irwan Nur (pemerhari Budaya) Tinggal di Konawe

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini

To Top