Connect with us

Meretas Jalan Damai di Kawasan Gunung Jati

Metro

Meretas Jalan Damai di Kawasan Gunung Jati

KENDARI, SUARAKENDARI.COM-Di Kelurahan Gunung jati sejengkal tanah sangat berharga, hingga nyaris tak menyimpan bagi ruang public.  Di kiri kanan jalan, rumah-rumah warga berdiri kokoh  di bukit-bukit curam membuat kawasan ini rawan bencana  tanah longsor saat musim hujan tiba. Seperti namanya, Topografi wilayah Gunung Jati memang berada di ketinggian membuat wilayah ini sedikit sulit terjangkau. Akses jalan hanya ada satu, yakni dari jalur jalan Kota Lama di kawasan Cina Town Kendari. Jalan yang sudah dilapisi aspal  menanjak cukup tajam hingga pengendara perlu ekstra hati-hati.

Sejarahnya, gunung jati  adalah kawasan hutan konservasi, sejak tahun 1970-an sudah mulai didiami oleh mayoritas etnis Muna. Mereka berdiam dan beranak pinak hingga membentuk koloni besar. Tak heran sejak sejak tahun 2004 wilayah ini dipecah menjadi dua wilayah, yakni Kelurahan Jati dan Kelurahan Jati Mekar.  Warga yang berdiam memiliki beragam pekerjaan, dari PNS, wiraswasta hingga kaum buruh. Namun prosentasenya, jumlah kaum buruh cukup besar.  Pelabuhan Kendari, pasar dan proyek bangunan di Kendari banyak menggunakan jasa buruh  dari wilayah ini.

Saat berkunjung ke daerah itu, Kelurahan Gunung Jati benar-benar normal dan terasa damai saat pagi hari. Jalan raya dipenuhi anak sekolah, tukang ojek hingga buruh pelabuhan, melintas sambil melempar senyum. Beberapa diantaranya saling menyapa dengan ramah. Namun nampaknya ini hanya kamuflase, sebab akan berubah panas saat menjelang malam tiba. Di jam-jam itu warga mulai dirundung gelisah. Warga kerap mendengar  teriakan, saling kejar,  lemparan batu hingga lesatan busur panah. Situasi yang menjadi momok menakutkan bagi warga di sana.

“Kami resah karena pertikaian sudah terjadi berkali-kali tanpa ada ujung penyelesaiannya,”kata Ridwan, warga Gunung Jati. Tapi warga yakin tidak selamanya wilayahnya harus terus membara. Untuk itu perlu kerja ekstra untuk membangun pondasi kedamaian.

Meretas jalan damai di Gunung Jati memang tidak mudah, apalagi pemerintah telah berkali-kali memfasilitasi jalannya rekonsiliasi antara pihak yang bertikai.Paling tidak inilah yang masih dalam memori AKBP Yuyun. Mantan Kepala Kepolisian Resort Kota (Kapolresta) Kendari masih ingat betul bagimana harus membangun komunikasi perdamaian di wilayah Gunung Jati. Baginya, jalan damai sudah berkali-kali dilakukan di tahun-tahun sebelumnya, kubu-kubu yang bertikai telah dipertemukan dengan menghadirkan tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah setempat, dan wakil wali kota serta pihak DPRD.

Bahkan pemerintah  kelurahan dan warga sepakat  hukum ditegakkan demi menjaga stabilitas di daerah itu. Karenanya, polisi langsung bergerak membangun Pos Polisi di pertigaan yang menghubungkan antara wilayah di kawasan Gunung Jati. Personil polisi juga disiagakan selama 24 jam agar daerah tersebut bisa aman dan kondusif sehingga masyarakat bisa nyaman beraktivitas. Namun, sayang hasilnya masih saja terjadi tindakan anarkis. Terakhir pertikaian telah memakan korban jiwa serta rusaknya harta benda milik warga tidak berdosa. Harapan hidup damai pun kian kencang disuarakan.

Topografi dan kesenjangan sosial seolah linear di sana. Ini pula yang membuat sebagian warga rawan tersulut amarah.  Lurah gunung Jati, Laode Sahidin menilai ada dua akar masalah seringnya terjadi aksi kekerasan yakni karena peredaran minuman keras serta motif ketimpangan ekonomi yang terlampau tinggi. Hal ini setelah melihat fakta data penduduk dimana dari sekitar 4000 jiwa atau 929 kk, sebagian besar  penduduknya bekerja bekerja sebagai buruh. “Ada 80 persen buruh,terdiri dari buruh pelabuhan, buruh pasar, buruh bangunan dan juga sopir angkot dan truk. PNS  hanya sedikit, tidak sampai 100 orang,”kata La Ode Sahidin.

Bagi warga dan pemerintah setempat  tak ada yang tidak bisa sepanjang ada kemauan untuk terus meletupkan api perdamaian. Harapan ini terbersit dari warga Kelurahan Gunung Jati yang daerahnya terus dilanda konflik yang seolah tidak ada habisnya. Pemerintah dan warga Gunung Jati sangat ingin daerah itu damai agar bisa beraktifitas tanpa ada rasa takut lagi. “Terus terang warga sudah bosan dengan pertikaian, warga mau hidup damai, supaya bisa beraktifitas seperti biasa ,”ungkap Laode Sahidin. Pasalnya, pertikaian kerap meletup sewaktu-waktu dan berujung hilangnya nyawa warga dan kerugian material bagi warga di sekitar lokasi bentrokan.

Harapan yang sama juga disampaikan Ridwan, warga Gunung Jati. Ia  sangat ingin, daerah yang ditinggalinya bersama anak istrinya itu dapat kembali damai seperti dulu. “Dulu warga di sini hidup rukun dan damai, tak ada pertikaian sehingga saya berharap agar pemerintah dan aparat berwajib dapat menegakkan hukum,”harap nya.

Tak hanya Ridwan, Umar juga berharap agar warga kembali rukun dan meninggalkan segala amarah. “Tidak ada gunanya bertikai karena yang rugi kita semua. Saya berharap Gunung jati bisa kembali rukun dan damai,”ujarnya.

Pemerintah Kota Kendari sendiri telah berkali-kali melakukan himbauan dan memfasilitasi terjadinya rekonsiliasi di daerah itu. Wali Kendari juga menghimbau pemerintah kelurahan bersama tokoh masyarakat setempat untuk duduk bersama melakukan musyawarah demi membangun jalan perdamaian semua pihak. Termasuk menyerahkan sepenuhnya penanganan hokum pada pihak berwajib.

“Saya mengimbau, agar masyarakat kita yang berada di Gunung Jati tanpa terkecuali, tetap menahan diri dan tidak mudah terprovokasi. Mari urusan ini kita serahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk diusut tuntas, sehingga jangan lagi ada aksi balas membalas, karena dapat merugikan kita sendiri,”kata Asrun kepada sejumlah warrtawan, Minggu (17/8) di Kendari

Tak hanya Wali Kota, himbauan untuk menyalakan api perdamaian juga datang dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Abdul Razak.

Politisi PAN ini berharap agar kelompok yang bertikai untuk saling menahan diri, dan tidak terpancing oleh isu-isu yang menyesatkan sehingga tergerak untuk melakukan saling balas membalas.“Ini tidak boleh terus dibiarkan, pemerintah harus proaktif untuk melakukan pendekatan kedua kelompok yang bertikai agar tidak terulang lagi,” kata Razak.

Menurut Razak, seluruh elemen harus terlibat untuk mendamaikan kedua kelompok warga atau kelompok pemuda yang bertikai tersebut, termasuk melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda.“Masalah ini sudah sering terjadi berulang-ulang. Saatnya sekarang kita mencari akar permasalahannya agar jelas cara penanganannya,” kata Razak.(YOSHASRUL)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top