Connect with us

Meraih Untung di Keramba Apung

Bisnis

Meraih Untung di Keramba Apung

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Ismail (59 tahun) sumringah. Warga desa Landipo, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan ini akhirnya bernapas lega  setelah berhasil  merehap rumahnya . “Alhamdulillah saya sudah bisa mengganti atap rumah dengan seng,”kata Ismail, sambil menunjuk atap rumahnya yang ciber. Tak hanya atap, Ismail juga mengganti seluruh dinding rumah dengan papan baru. “Papan yang lama sudah lapuk jadi harus diganti,”katanya.

Ismail mengaku, delapan bulan lalu, rumahnya masih beratap rumbia yang sebagain besar  sudah bolong-bolong. Saat musim hujan, air langsung jatuh ke lantai rumah. “Terpaksakami harus menyedikan baskom untuk menadah air hujan,”kayanya mengenang.

Asrul juga demikian. Pria satu anak ini sudah bisa mengabulkan cita-cita membeli perahu berikut mesinnya. Perahu atau bodi (istilah warga nelayan setempat) digunakan Asrul  untuk mencari ikan tanpa harus lagi menyewa. “Dulu, sebelum punya bodi, saya selalu menumpang ke kapal teman untuk mencari ikan,”ujar Asrul.

Perubahan nasib kedua lelaki ini bukan tanpa alasan. Berkat menekuni program kelompok nelayan, kesejahteraan mereka perlahan mulai berubah. Nasib mempertemukan keduanya tepat setahun yang  lalu, “Saat itu, Kami berdua berinisiatif membentuk kelompok nelayan dengan program kerja keramba jaring apung,”kata Ismail. Ide ini muncul, setelah berdiskusi dengan intens dan berkat bimbingan Hasanudin, seorang penyuluh lapangan dari Unit Pengelola Perikanan (UPP) Konsel, yang kebetulan bertugas di wilayah   Moramo.

Kelompok yang dibentuk bernama Nelayan Abadi ini kian melejit setelah mendapat bantuan khusus dari Dinas Kelautan dan Perikanan Konawe Selatan sebanyak sepuluh unit keramba.  Termasuk pembangunan rumah apung  bagi sepuluh orang  yang semuanya tergabung dalam kelompok Nelayan Abadi. “Hasilnya pun kami nikmati,”jelas Ismail.

Sebelumnya, lanjut Ismail, dia dan warga nelayan sangat kesulitan dalam berusaha hasil laut. “Kadang kami berhari-hari mencari ikan tapi hasil tidak signifikan, bahkan hasilnya hanya cukup untuk makan bersama keluarga,kenang Ismail.

Kendala utama  lagi-lagi soal peralatan tangkap yang minim, termasuk masih menggunakan menggunakan cara tradisonal dalam membudidaya.  “Dulu kesulitan utama kami, yakni, tidak adanya keramba, sehingga sebagian bibit ikan hasil tangkapan banyak yang hilang, akibat peralatan  keramba jaring tidak memadai. Ditambah lagi kami harus menghadapi  para pelaku pencuri ikan hasil budidaya, yang pelakunya banyak berkeliaran di sekitar perairan desa Landipo,”kata Ismail. Ismail menduga para pencuri berasal dari luar desa Landipo.

Saat berkunjung ke keramba milik Ismail, Jumat pekan lalu, tampak keramba apung modern berdiri kokoh dan mampu menampung ratusan ekor ikan berbagai jenis. Kelompok Nelayan Abadi sendiri telah melakukan panen ikan sebanyak dua kali di tahun pertama. Hasil budidaya ini dijual dipasaran dengan harga yang lumayan menggiurkan. “Setelah kami timbang basah, hasil budidaya keramba  apung mencapai seratus kilogram,”kata Ismail.

Harga ikan jenis kurapu    di pasaran untuk perkilonya sebesar 90 ribu rupiah. Proses memasarkan ikan pun tidak sulit, sebab, saat panen para pembeli sudah memesan duluan. “Untuk penjualan kami tidak kesulitan, para pemesan ikan kebanyakan dari kalangan pengusaha restoran,”kata Asrul.

Jenis ikan yang dipelihara pun tidak hanya satu jenis ikan saja, melainkan beberapa jenis, diantaranya jenis ikan putih,  baronang, kurapu hingga udang lobster.

Budidaya ikan laut sendiri  memang terbilang gampang-gampang susah. Gampangnya, pertama, karena sirkulasi air tempat hidup ikan, tidak perlu diganti karena terjadinya proses pasang surut air laut yang menyebabkan pergantian air laut terus terjadi. Kedua, pakan yang digunakan memberi  makan ikan mudah diperoleh yang berasal dari laut itu sendiri.

Nah, untuk susahnya, para pemilik keramba terpaksa harus  bersiaga siang malam menjaga keramba. “Kalau tidak dijaga, para pencuri kerap menyantroni isi keramba,”kata Ismail. “Ya, beruntung kalo hanya  ikan yang diambil, terkadang para pencuri juga merusak jarring keramba,”tambahnya.

Sebagai solusi, rumah bagang pun sengaja dibangun yang dipakai untuk lokasi berjaga sekaligus memantau para pencuri. Sistem kerja kelompok nelayan yang diprakarsai Ismail, ini diam-diam mendapat perhatian luar dari warga nelayan lainnya di Desa Landipo. “Alhamdulillah kerja keras kami mendapat perhatian warga lainnya dan saya dengar mereka juga telah membentuk kelompok nelayan. Dengan begitu saya yakin ekonomi nelayan Landipo akan lebih baik,”katanya.

Keduanya pun menaruh harapan, agar pemerintaah tetap memberi perhatian pada nasib nelayan dan membantu mereka meraih kesejahteraan.

Butuh Pelatihan

Keterbatasan pengetahuan cara budi daya ikan di karambah jarring apung tentu saja mempengaruhi hasil produksi dan berdampak pada pendapatan ekonomi nelayan. Para nelayan pun berharap agar turun tangan memberikan pembekalan pengetahuan bagi nelayan di desa Landipo.  “Terus terang pengetahuan kami tentang membudidaya  ikan di karamba jarring apung masih minim, karenanya, kami berharap ada pembekalan pelatihan bagi kami agar hasil produksi budidaya kami meningkat,”kata Ismail. TIM

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis

To Top