Connect with us

Meninggalnya Wanita Hamil Pengidap HIV/AIDS di Muna

Uncategorized

Meninggalnya Wanita Hamil Pengidap HIV/AIDS di Muna

RAHA-( Suara Kendari) Meninggalnya seorang ibu hamil yang terinveksi virus HIV/AIDS berinisial SMN (42 thn) yang beralamat di Kelurahan Palangga Kecamatan Duruka,Selas (4/2), merupakan kasus pertama yang tercatat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Muna. Hal itu dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Muna,La Ode Rimba Sua didampingi Komisi penanggulangan HIV/AIDS Muna, La Hasari saat diwawancarai jurnalis Suara Kendari.

Kadinkes mengklaim bahwa SMN selama ini selalui dipantauan Dinkes Muna. “Setelah terdeteksi terinveksi virus HIV/AIDS,kami dari Dinkes sudah beberapa kali melakukan kunjungan ke rumah almarhumah di palangga untuk melakukan konseling,”ucap La Ode Rimba Sua.

Menurut Rimba Sua,persoalan yang dihadapi oleh ibu SMN adalah daya serang atau patogenesis virus yang diidapnya sudah mencapai tingkatan sangat tinggi. Sehingga sangat sulit untuk diobati. “Masa inkubasi virus ini kan lima sampai tujuh tahun. Bisa jadi penyakit yang dideritanya diketahui setelah masuk usia lima atau tujuh tahun sehingga sulit untuk ditolong,”tambah Kadinkes Kabupaten Muna ini.

Masih dari La Ode Rimba Sua, ketika disinggung adanya keluhan keluarga atas sikap pengucilan oleh petugas medis di RSUD Muna,Rimba Sua tak mau berkomentar karena hal itu adalah kewenangan RSUD. Namun selama ini lanjut dia,pihaknya telah melakukan serangkaian sosialisasi tentang HIV/AIDS di masyarakat baik di sekolah-sekolah,organisasi kewanitaan maupun di tingkat kecamatan.

“Salah satu poin yang kami sampaikan bahwa penyakit HIV/AIDS itu bukan penyakit turunan dan bukan pula penyakit kutukan yang mesti dijauhi dan dikucilkan. Karena penularan penyakit ini hanya bisa terjadi melalui tranfusi darah,jarum suntik,ASI,dan saluran kelamin (cairan vagina dan sperma),”jelasnya panjang lebar.

Menurut Rimba Sua pihaknya terus berupaya memberi pemahaman dan meyakinkan masyarakat agar penderita tidak dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. “Salah satu cara yang kami lakukan adalah mendatangi pasien secara diam-diam agar warga sekitar tidak heboh dan merasa ketakutan serta menjaga kerahasiaan pasien. Tapi kan namanya penyakit pasti akan ketahuan juga,”ujarnya.(TRI)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top