Mengenal Varietas Padi Lokal di Konawe Selatan

SUARAKENDARI.COM-Asap mengepul dari bulir putih di nampan besar. Kian nimat ditemani sedert lauk seperti ayam goreng, sayur kangkung tumis dan ikan masak. “Gurih, renyah dan harum,”kata Umar, warga Laeya. Nasi yang dimakan ini tak lain merupakan verietas padi local Konawe Selatan, namanya pun diambil dari nama local, yakni padi Laeya. Laeya diambil dari nama sungai terbesar yang melintasi wilayah kecamatan Laeya di Kabupaten Konawe Selatan. Varietas padi Laeya sendiri hingga kini masih eksis bahkan menjadi andalan petani di daerah Konawe Selatan.

Varietas padi Laeya diluncurkan pertama Desember 2009 silam saat Bupati Konawe Selatan masih dipimpin Drs H Imran MSidalam panen perdana padi varietas unggul baru Inpari 10 Laeya di Balai Benih Utama di Kec. Laeya, Kabupaten, Konawe Selatan, ketika itu. Acara peresmian varietas padi laeya dihadiri oleh ketua DPRD Kab. Konawe Selatan, para satuan perangkat kerja daerah (SKPD) lingkup Kab. Konawe Selatan, penyuluh pertanian, para perwakilan kelompok tani dan gapoktan se-Konawe Selatan.

Bupati Konawe Selatan sendiri ketika itu memberikan apresiasinya terhadap ketekunan para peneliti BPTP Sulawesi Tenggara dalam mengawal penelitian uji multilokasi padi ini, “Tidak mungkin varietas ini disetujui untuk dilepas kalau tidak ada hasil penelitian,”ungkapnya.

Ia mengharapkan varietas laeya menjadi varietas yang dominan ditanam di Kab. Konawe Selatan tanpa melupakan varietas lainnya karena dengan melihat karakteristiknya yang tahan kekeringan sangat cocok dikembangkan di daerah ini yang sebagian besar lahannya merupakan lahan tadah hujan dan rawan kekeringan.

Pemaparan peneliti BPTP Sultra yang juga sebagai salah satu pemulia varietas ini yakni Ir. Idris, MS mengenai karakteristik atau sifat-sifat unggul varietas Laeya menjadi inspirasi Bupati juga menambahkan Laeya sebagai nama varietas padi local ini.

Dipilihnya nama sungai ini adalah karena mata airnya tidak pernah kering yang bisa membawa kesejahteraan pada masyarakat, dan itu pula harapannya terhadap varietas padi Laeya. Apabila BPTP Sultra kembali menghasilkan varietas bisa saja kita beri nama Roraya tambahnya lagi.

BPTP Sultra mengungkapkan disetujuinya nama Laeya melalui proses hasil penelitian uji multilokasi selama kurang lebih 7 tahun dan kemudian dikoordinasikan dengan pemda Konsel untuk diberi nama yang diusulkan kepada Badan Litbang pertanian untuk diteruskan ke Departemen Pertanian.

Kepala BPTP Sultra juga mengharapkan varietas ini, berdasarkan sifatnya yang tahan kekeringan, dapat melebihi ‘kakaknya’ yakni varietas Konawe dan Mekongga yang juga sama-sama varietas padi Sulawesi Tenggara yang telah lebih dulu lahir.

Kepala BPTP Sultra juga merespon harapan Kadis Pertanian Konsel agar BPTP Sultra pada tahun selanjutnya juga bisa menghasilkan padi gogo yang spesifik Konawe Selatan. Kepala BPTP Sultra menambahkan peran BPTP Sultra ke depan yang terdekat pada tahun 2010 adalah adalah mendampingi program Dinas Pertanian yakni pendampingan sekitar 60% lokasi kegiatan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL-PTT).

Dinas Pertanian Provinsi Sultra, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, BPTP Sulawesi Tenggara, dan institusi lainnya. Pada kesempatan inipula Bupati Konawe Selatan bersama Kepala BPTP Sultra beserta Kadinas lingkup Pemda Sultra berkenan melaksanakan panen perdana padi varietas Laeya, serta penyerahan salinan surat keputusan varietas padi Laeya oleh Kepala BPTP Sultra kepada Bupati Konawe Selatan. (SK/BPPT Sultra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *