Connect with us

Mencium Aroma Kemiskinan di Desa Puuwulu

Daerah

Mencium Aroma Kemiskinan di Desa Puuwulu

SUARAKENDARI.COM-MASJID Al Amin berdiri tepat di pinggir jalan desa yang penuh lubang. Kondisinya memprihatinkan. Seluruh bagian bangunan terutama di bagian dinding nampak lusuh tak terawat. Bahkan kondisi bangunan yang terbuat dari bahan ramuan kayu itu sudah mengalami pelapukan dan tiang utama penyangga gedung nyaris roboh. Karena kondisinya yang memprihatinkan itu, warga urung beribadah di masjid itu.

Kondisi yang sama terjadi pada bangunan balai desa yang terletak beberapa meter dari masjid Al Amin. Setengah dinding bangunan yang terbuat dari kayu nampak kotor dan kusam, akibat sudah lama tak digunakan pemerintah setempat.

Kita dapat merasakan aroma kemiskinan yang akut dan kian terasa saat masuk jauh ke polosok pesisir Kecamatan Wawonii Tengah ini. Tercermin dari kehidupan sehari-hari warga, rumah-rumah penduduk terbangun seadanya. Hanya ada sedikit rumah berbahan semen, sisanya lebih banyak rumah berbahan ramuan kayu.

Mengacu definisi penduduk miskin, maka desa Puuwulu dapat didefinisikan sebagai penduduk yang pendapatannya kurang dari kebutuhan yang diperlukan untuk hidup secara layak di wilayah tempat tinggalnya. Dalam prakteknya, pengukuran dilakukan antara lain berdasarkan kecukupan pengeluaran konsumsi makanan dan non makanan. Hasil penelitian menujukkan sumber pendapatan ekonomi masyakarat sangat tidak menentu. Pendapatan perkapita penduduk di bawah angka rata-rata kehidupan layak masyarakat pada umumnya.

Warga yang mayoritas nelayan tidak benar-benar menjelma menjadi nelayan tangguh akibat minimnya peralatan tangkap yang dimiliki. Kondisi ini tentu berdampak pada kebutuhan hidup warga yang serba kekurangan. Warga terkadang harus membarter hasil bumi mereka demi mendapatkan sekilo beras. Kondisi ini pula yang membuat warga tak lagi melanjutkan pendidikan anak-anak mereka. Sebagian besar anak desa banyak yang putus sekolah dan hanya tamat sekolah dasar. Warga juga tak tersentuh sarana kesehatan yang membuat banyak warga mengandalkan dukun untuk berobat.

Tak hanya itu, kondisi infrastruktur seperti jalan dan jembatan semua dalam kondisi rusak. Ini tampak dari sebuah jembatan sepanjang 15 meter hanya memiliki lebar 1,5 meter sehingga hanyadapat dilalui kendaraan roda dua. Lantai jembatan yang terbuat dari kayu sudah mengalami pelapukan dan saat banjir maupun air laut pasang, jembatan ini tidak dapat dilalui warga terutama anak sekolah.

Jembatan ini memang memiliki arti penting bagi warga, karena merupakan jalur penghubungan antar desa, diantaranya ke desa Morobea, Batumea dan Desa Wahara yang merupakan jalur terdekat untuk mendistribusikan bahan pangan dan ekonomi warga, menuju ibu kota langara.

Desa Puuwulu adalah desa transmigrasi yang seluruh warganya eksodus berasal dari Ambon (Maluku). Mereka mengungsi setelah pecahnya perang berdimensi agama di wilayah negeri ambon manise tersebut. Sebagai masyarakat nelayan, selain tanah dan rumah, warga juga diberikan bantuan makanan dan sarana alat tangkap ikan, seperti perahu, jarring dan mesin tempel.

Sayang tak semua warga pengungsi bertahan hidup di desa ini, sebagian besar dari mereka memilih kembali ke Ambon seiring situasi yang sudah kondusif. Bagi mereka yang memilih bertahan jumlah tidak terlalu banyak diperkirakan tersisa 50 KK, mereka hidup dengan kondisi ekonomi yang terbatas, kurangnya pengetahuan warga tentang kegiatan nelayan. Begitu pula, masyarakat tidak punya keahlian di bidang pertanian padahal faktanya tanah di puuwulu cukup baik untuk budidaya perkebunan.

Sebenarnya, desa yang terletak di pinggir pantai ini memiliki potensi sumber daya alam yang tak kalah dari daerah lain di Wawonii, yakni, mengandung tambang pasir kwarsa yang belum dijamah hingga kini. Luas areal diperkirakan mencapai puluhan hektar. Di atas hamparan pasir kwarsa, tumbuh potensi lain berupa tumbuhan bernama kolosua. Bunga kolosua tumbuh dalam koloni besar dalam hamparan lahan luas mirip padang ilalang dengan bentuk batang tumbuh tegak lurus.

Sejak lama, tumbuhan bunga kolosua oleh warga dimanfaatkan untuk membuat kerajinan handycraf berupa tikar alas. Jauh sebelum puuwulu mekar, warga di sepanjang pesisir, seperti Batumea hingga ke kawasan Lampeapi menjadikan kolosua sebagai bahan membuat tikar. Warga membuat kerajinan tikar di saat musim panen belum tiba dan biasanya warga bekerja berkelompok Hasil kerajinan ada yang digunakan sendiri serta ada pula yang dijual kepada warga di desa-desa lainnya. ***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Daerah

To Top