Mencari Sperma Berkualitas

Berdasarkan hasil temuan baru dari Ginemed Assisted Human Reproduction Clinic, Ternyata, tidak semua ejakulasi bisa menghasilkan sperma dengan kualitas yang sama. Bahkan, perbedaan kualitas sperma antara ejakulasi pertama dan kedua begitu signifikan.

Hasil penelitian tersebut seperti dilansir situs berita www.bersuara.com menunjukan sperma yang keluar dari ejakulasi pertama berisi spermatozoa berkualitas DNA yang lebih tinggi, bergerak lebih cepat, dan memiliki jumlah sel jantan lebih banyak, sehingga berpeluang besar untuk membuahi sel telur.

Selama terjadinya orgasme, kontraksi otot yang kuat menyebabka air mani keluar dari sistem kelamin laki-laki. Cairan yang dirilis pada umumnya dibagi menjadi tiga tahap: pra-ejakulasi, kemudian diikuti dengan ejakulasi pertama dan kedua.

Cairan pra-mani, sekresi berwarna dari kelenjar Cowper, tidak mengandung sperma. Sebaliknya, fungsi cairan ini adalah untuk melindungi sperma dengan menetralkan setiap asam urine yang mungkin ada dalam uretra.

Cairan pra-ejakulasi juga melumasi uretra untuk melindungi sperma dari kerusakan mekanis. Setelah cairan ini keluar, ejakulasi fraksi pertama akan terjadi, yang terdiri dari sekitar 15 sampai 45 persen dari total volume sperma, dan kemudian ejakulasi fraksi kedua dilepaskan.

Pada penelitian itu, peneliti meminta 40 partisipan pria mengumpulkan hasil ejakulasi mereka dalam dua wadah yang terpisah — satu wadah untuk setiap fraksi ejakulasi. Kemudian para peneliti mempelajari karakteristik sperma pada masing-masing tahapan.

Pada ejakulasi pertama, peneliti menemukan air mani memiliki volume yang lebih rendah tapi mengandung lebih banyak sperma. Seiring dengan konten sperma yang tinggi, cairan ini juga berisi komponen pelindung sperma, termasuk magnesium dan zinc.

Yang terpenting, sperma dalam ejakulasi fraksi pertama memiliki tingkat motilitas (kemampuan untuk bergerak) yang lebih tinggi, dan berisi fragmentasi DNA sperma yang lebih rendah dibandingkan sperma pada ejakulasi fraksi kedua.

Kemudian, ejakulasi fraksi kedua yang memiliki volume air mani lebih banyak sekitar 70 hingga 90 persen, terdiri dari sekresi dari vesikula seminalis. Tidak hanya berisi lebih sedikit sperma, tapi cairan tersebut termasuk komponen yang dapat merusak sperma. Dan ternyata memiliki dampak negatif pada kualitas Sperma secara keseluruhan.

“Seperti yang kita harapkan, sperma dari ejakulasi fraksi pertama bergerak lebih cepat dan memiliki jumlah lebih tinggi,” kata Dr. María Hebles, penulis ketua studi dan co-direktur laboratorium reproduksi di Klinik Ginemed di Seville, dalam siaran persnya, seperti dilansir dari laman Medical Daily. “Lebih penting lagi, mereka memiliki integritas DNA lebih tinggi dari sperma tahap kedua.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *