Memerangi Pembom Ikan

0

Penulis: Yos Hasrul

Pria parobaya itu punya cara mengesankan untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak gentar menghadapi para pelaku pemboman ikan di kampungnya.  Ia tak segan mengejar para pelaku hingga ke jauh dari perairan desa. Karena ketatnya pengawasan yang dilakukannya, Syamsudin bahkan dicap sebagai ‘orang gila’ urusan. Tapi Syamsudin tak peduli. Ia terus mengawasi hingga beberapa kali harus adu mulut dengan para pelaku. “Saya hanya memberi tahu mereka jika membom ikan akan merugikan banyak orang, termasuk pelaku sendiri. Mau sadar atau tidak itu terserah mereka,”ujarnya.

Pria beranak tiga ini pun mengklaim pelaku pemboman ikan di desanya sudah habis. Perairan laut bebas pemboman ikan berhasil diprotek sejauh satu mil laut dari desanya.

Realitas suram yang menaungi kehidupan nelayan di hampir seluruh perairan laut negeri Konawe Selatan kini—yang hampir 90 persen penduduk perairan bekerja sebagai nelayan–.adalah perekonomian mereka digerakkan oleh sumber pencaharian satu-satunya di lautan, dan dilakoni oleh dua sumber yang saling bertentangan, yakni mencari ikan dengan cara alami dan cara pintas.

Beragam cara alami, dari memancing, menjaring hingga membangun rumah bagang. Kegiatan ini dianggap ruwet, serta memakan waktu berhari bahkan beringgu-minggu di lautan. Inilah yang membuat sebagaian nelayan frustasi, belum lagi minimnya peralatan tangkap membuat mereka mengambil jalan pintas dengan cara membom ikan.

Baru belakangan pemerintah menyadari situasi nyata yang dihadapi, agar lingkungan pesisir terutama terumbu karang dan perekonomian nelayan membaik, ketergantungan pada jalan pintas itu mau tak mau harus dihentikan.Namun mencerabut pola pikir masyarakat pesisir soal pemboman ikan bukanlah perkara gampang.

Di Desa Wiawia, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan tampaknya memperoleh kemajuan dalam upaya menurunkan laju frekuensi pemboman ikan. Enam tahun silam, desa ini masuk dalam satu dari banyak lokasi pemboman ikan terparah di Kabupaten Konsel setelah wilayah Kecamatan Moramo dan Tinanggea.

Setelah pemerintah Kabupaten Konawe Selatan mengintensifkan pengawasan perairan laut dari aktifitas illegal fishing, para pelaku semakin berhati-hati melancarkan operasi hitam mereka. Pasokan bahan baku bom seperti pupuk dibeli di di kota dan diracik menjadi bom secara sembunyi-sembunyi di rumah-rumah penduduk. Para pelaku sangat alergi dengan warga baru, dan mudah mencurigai orang lain. Mereka juga terkadang memasang mata-mata terutama anak-anak untuk memantau kehadiran petugas. Kegiatan pemboman pun beralih saat sore menjelang pagi hari. Gerakan rapi dan tersistematis ini membuat aktifitas mereka sulit terdeteksi. Daerah terpencil seperti perairan laut desa Wiawia menjadi sasaran empuk. Selain perairannya sedikit dangkal, juga karena posisi desa berada di semanjung Moramo. Jadilah aktifitas illegal mereka jauh dari pantauan aparat.

Dapat dibayangkan akibat yang ditimbulkan dari aktifitas pemboman ikan ini. Diperkirakan 90 persen terumbu karangnya telah hancur dan berdampak besar semakin berkurangnya pasokan ikan di laut Wiawia. Tak hanya terumbu karang yang musnah, panen rumput laut para nelayan juga ikut menuai getah. Bom ikan yang menggunakan bahan sianida mencemari lautan dan memiliki efek negative bagi pertumbuhan rumput laut.

“Aktifitas pemboman ikan harus dihentikan, karena kerugian yang ditimbulkan sangat besar. Tak hanya bagi lingkungan terumbu karang yang hancur, tetapi, juga merugikan petani rumput laut kita,”ujar Muhammad Ernanto Tawulo, SPTp, MSi, Kepala Bidang Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Konawe Selatan, geram.

Ketika, Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Konawe Selatan mengumumkan ‘perang’ terhadap para pelaku pemboman ikan, para pelaku pemboman ikan di wilayah Moramo dan Moramo Utara bahkan memimpin rating pemboman ikan tertinggi, setidaknya terdapat lebi dari tiga puluhan pembom ikan aktif di wilayah itu. Beberapa dari mereka berkali-kali harus berurusan dengan aparat penegak hukum, namun tetap saja tak jera. Namun, pola pendekatan pun diubah dari devensif ke pola pemberdayaan. Dua tahun belakangan para pelaku perlahan mulai menyusut, setidaknya setengah dari pelaku kini beralih menjadi nelayan budidaya ikan kurapu dengan membentuk unit kelompok kerja.

Dari hasil Pengawasan Perikanan Sulawesi Tenggara (Sultra), terungkap status terumbu karang di Sultra dari sebarannya hampir di seluruh perairan laut Sultra, yaitu kurang lebih 68 lokasi telah teridentifikasi. Luas hamparan karang hidup tahun 1996 kurang lebih 5.146 ha (tutupan karang hidup 33,9 sampai 87,0 persen). Sedangkan di tahun 2005 kurang lebih 3.178 ha (turun 38,24 persen) sementara beberapa lokasi masuk site penyelaman terbaik dunia yaitu keragaman bio diversity tinggi misalnya Pulau Hoga dan Pulau Tomia.

Dari tingkat pemamfaatan terumbu karang yang paling banyak sebagai penangkapan ikan dan disusul wisata bahari serta budidaya laut. “Ini data belum masuk secara keseluruhan dan saya prediksi semakin parah ketika petugas kami mengawasi terumbu karang,” katanya.

Untuk tingkat pengrusakan terumbu karang pada posisi paling atas dimenangkan oleh bahan peledak dan kedua racun, sedangkan sedimentasi, iklim global, gempa bumi, jangkar limbah industri pada posisi paling rendah terjadi.

Dari pengawasan dan pengamatan selama di lapangan kata Amrun, penyebab kerusakan terumbu karang karena rendahnya tingkat pendidikan nelayan, rendahnya tingkat pendapatan nelayanan, sulitnya mencegah suplay bahan baku bahan peledak serta masyarakat membom sudah menjadi kebiasaan. Anehnya, aparat keamanan hanya bisa melihat dan tidak memberikan sanksi tegas kepada para pelaku yang sengaja merusak terumbu karang.

Rupanya kriminalitas khusus bom molotov yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan di Sulawesi Tenggara, cukup besar. Sesuai data kepolisian setempat, sejak 2006 hingga 2010 mencapai 131 kasus. Jumlah tersebut didapatkan hanya saat operasi bahan peledak (handak)  yang berlangsung selama sebulan. Jika dalam setahun saja operasi handak terus dilakukan  maka sebelas bulan dalam setahunnya, entah barapa nelayan yang mengunakan bahan peledak yang bisa merusak biota-laut serta terumbu karang.

AKBP Fahrurrozi yang kala itu menjabaat Kabid Humas Polda Sultra, mengatakan dalam kurun waktu lima tahun terhitung sejak 2006 sampai 2010 jumlah kasus khusus penguna bom ikan sebanyak 131 kasus dengan jumlah tersangka lebih dari 140 orang. Namun, sebagian dari tersangka hanya diberikan pembinaan karena berjanji tidak akan mengunakan lagi bom saat menangkap ikan di perairan Sultra. ***

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.