Connect with us

Bisnis Ikan Sidat yang Menggiurkan

Bisnis

Bisnis Ikan Sidat yang Menggiurkan

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Potensi sumber daya perairan laut dan darat Konawe Selatan (Konsel) cukup besar dan beragam. Sejumlah spesies ikan di perairan darat Konsel yang kini banyak dikembangkan adalah ikan Mujair, Nila , Mas, Belida dan Gurame. Lokasi budidaya pun tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Konda, Laeya dan Angata. Meski begitu, salah satu spesies yang juga tak kalah menggiurkan adalah bisnis ikan jenis sidat sidat (Anguilla sp). Sidat sendiri sebenarnya berasal dari lautan dalam ini merupakan ikan yang memiliki tubuh menyerupai belut.

Sidat merupakan spesies amfibiotik yang menghabiskan periode pembesarannya di sungai sebelum kembali ke laut untuk memijah. Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Konsel, Spesies sidat ini banyak terdapat pada tiga sungai utama yakni Sungai Osena, Sungai Laeya dan Sungai Roraya. Ikan sidat dilokasi tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar sungai melalui kegiatan penangkapan.

“Ikan sidat merupakan spesies bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditi ekspor, namun di wilayah ini usaha penangkapannya pada umumnya masih bersifat artisanal atau untuk dikonsumsi sendiri. Karena itulah produksi ikan ini belum tercatat dalam statistik perikanan setempat,”kata Ernanto Tawulo, Kepala Bidang Budidaya DKP Konsel.

Di Jepang, ikan sidat cukup terkenal. Dagingnya dianggap lezat dan memiliki kandungan vitamin yang sangat tinggi. Sehingga, banyak restoran-restoran Jepang yang menjadikan sidat sebagai menu andalan, seperti Kabyaki dan Unadon.

Sementara di Indonesia, ikan sidat masih terdengar asing di telinga. Apalagi manfaat-manfaatnya. Bentuknya yang bulat dan memanjang seperti belut atau ular membuatnya tidak terlalu menarik bagi masyarakat Indonesia. Itu yang menyebabkan tingkat konsumsi sidat terbilang rendah.

Menurut Rohkmin Dahuri, Kketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia, selain dagingnya yang lezat, sidat juga memiliki harga yang fantastis di pasar luar negeri.

“Untuk sidat yang masih benih (Glass eel) harganya US$7, atau setara Rp70.000 per ekor. Sedangkan per kilogramnya yang terdiri dari 5.000 benih bisa mencapai Rp350 juta,” kata Rokmin, di acara Diskusi Peran Riset, Teknologi Budaya, dan Pemasaran Ikan Sidat di Kantor BPPT, Jakarta.

Di pasar luar negeri, harga ikan sidat dewasa mencapai Rp70 juta per kilogram, sementara di pasar Indonesia harganya Rp1,2 juta per kilogram.

“Harga yang luar biasa mahal itu yang membuat ikan sidat lebih banyak diekspor, baik dalam bentuk benih atau yang sudah dewasa,” kata Rokhmin.

Menurut Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, kegiatan ekspor dapat membahayakan, karena nilai tambahnya tidak ada di Indonesia. Kalau negara ini mau menjadi besar, seharusnya dapat melihat ikan sidat sebagai peluang.”Saya lebih menginginkan ikan sidat menjadi komoditas unggulan. Kenapa? Karena kebutuhan ikan sidat di pasar di Indonesia cukup tinggi, terutama untuk restoran-restoran Jepang,” kata Rokhmin.

Saat ini, pembibitan ikan sidat masih sangat sulit dilakukan. Banyak peneliti Jepang yang sudah menelitinya, namun tidak berhasil. YOS/VIVA

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis

To Top