Connect with us

Melihat Prosesi Pemakaman Ratu Mekongga Kolaka

Uncategorized

Melihat Prosesi Pemakaman Ratu Mekongga Kolaka

 

KOLAKA, SUARAKENDARI.COM-Kerajaan Mekongga merupakan salah satu kerajaan terbesar di Provinsi Sulawesi Tenggara. Meski Indonesia telah memasuki era modern, namun Kerajaan Mekongga masih melekat kuat mengusung khazanah tradisi kerajaan yang begitu kental. Inilah yang terlihat saat prosesi pemakaman Ratu (bokeo) Kerajaan Mekongga ke XI Kolaka, Nur Zaenab Lowa yang meninggal dunia, dilakukan dengan ritual adat kerajaan mekongga.  Reporter suarakendari.com, berkesempatan mendokumentasikan prosesi pemakaman sang ratu. Berikut ulasannya.

Pekan ini adalah pekan yang begitu menyedihkan bagi Kerajaan Mekongga di Kabupaten Kolaka. Negeri Sangia Nibandera tengah berduka, pasca wafatnya Bokeo (Ratu) Kerajaan Mekongga ke XI Kolaka, Nur Zaenab Lowa, di kediamannya di Kelurahan Wundulako, Kolaka, Minggu, (4/5) lalu.

Prosesi pemakaman sang ratu pun berlangsung kidmad dalam nuansa  tradisi kerajaan Mekongga yang agung. Salah satu tradisi yang masih  dapat disaksikan adalah penggunaan keranda jenasah yang bahannya dari  batang pohon pinang yang dirangkai bersama dengan bambu muda.  Bagi kerajaan Mekongga keberadaan delapan batang pinang muda ini  memiliki makna filosofis yakni sebagai simbol kemakmuran perekonomian di masa kepemimpinan raja-raja mekongga. Nantinya dengan keranda ini digunakan mengangkat jenasah sang  ratu menuju liang lahat.

Sebelumnya, prosesi pemakaman Ratu Mekongga dilakukan, jenazah almarhumah dimandikan dan disholati secara Islam,  selanjutnya  jenasah dibawa keluar ke halaman rumah. Pada prosesi ini, pengangkatan jenasah  diiringi tarian Pasalonde dan Umuara, yakni tarian untuk mengusir roh-roh jahat yang ada di sekitar agar sang ratu terbebas untuk menuju peristirahatan terakhir.

Setelah tarian Pasalonde digelar, prosesi selanjutnya dilakukan prosesi penyerahan Kalo Sara  (Adat Negeri) dari tolea(tokoh adat) kepada keluarga ratu. Pada proses ada ini  jenazah dikelilingi delapan orang tamalaki (pengawal kerajaan).

Masih pada proses adat, kerajaan juga mewajibkan mengurbankan  seekor kerbau putih untuk melepas kepergian sang ratu atau di sebut dengan Kotumenau (putus nyawa). Untuk tingkatan raja-raja Mekongga kurban kerbau putih ini wajib dilakukan. Sementara untuk rakyat biasa boleh menggunakan hewan kurban lainya.

Setelah kerbau di sembelih oleh seorang imam, maka keranda jenazah ratu baru boleh diusung  dengan melewati hewan kurban tersebut. Jenazah di angkat oleh keluarga dan masyarakat mekongga saja dengan cara berlari-lari. “Prosesi ini  sebagai simbol kekuatan tamalaki dan kegembiraan saat mengangkat jenazah,”kata Munazer Arifin Ladumaa, salah satu kerabat Almarhumah Nur Zaenab Lowa.

Pada, pemakaman Ratu Mekongga dihadiri oleh beberapa raja tetangga, tokoh adat,  para pejabat dan mantan pejabat se kabupaten kolaka, serta ratusan warga suku mekongga. Suasana haru terlihat saat jenazah ratu mekongga dimasukan ke liang lahat.

Dalam sejarah kerajaan, pengangkatan Nur Zaenab Lowa sebagai  bokeo mekongga (ratu mekongga) dilakukan oleh para tonomotuo (para sesepuh) dalam musyawarah adat. Dengan wafatnya sang Ratu, maka saatnya para tetua bermusyawarah kembali untuk mengangkat raja selanjutnya.

Dalam beberapa literatur sejarah kerajaan mekongga, pernah dipimpin oleh 17 raja sejak sebelum belanda menjajah tanah air, sebagai peletak dasar terbentuknya kerajaan adalah dua bersaudara yakni Sangia Larumbalangi (1200-1260) dan Wekoila yang kemudian melanjutkan perjalanan sendiri menuju ke konawe.

Pasca larumbalangi, kepemimpinan raja dilanjutkan Sangia Lakonggu (1260-1320) kemudian Sangia Melanga (1320-1380), sangia lagaliso (1380-1430)/ sangia lamba-lambasa/rumbalasa ((1430-1490) ,  sangia lombo-lombo/sabulombo (1490-1550), sangia teporambe/nilulo (1550-1630), sangia ladumaa/nibandera (1630-1680).

Nah, Raja Sangia Nibandera disebut-sebut sebagai pembawa islam pertama di bumi mekongga,setelah wafat kepemimpinannya dilanjutkan oleh Bokeo Lasikiri (1680-1690), Bokeo Lasipole (1690-1780), Bokeo Robe (1780-1781), bokeo mburi (1781-1840), bokeo bula (1840-1905), Bokeo Latambaga (1905-1932), Bokeo Indumo (1932-1945), Bokeo Guru (1945-1949) dan Bokeo Puuwatu/hadi (1949). ABDI

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top