Connect with us

Masa Depan Kawasan Ekologi Wawonii Terancam

Suara Lingkungan

Masa Depan Kawasan Ekologi Wawonii Terancam

KENDARI, SUARAKENDARI.COM- Ancaman masa depan ekologi di pulau wawonii sangat besar pasca daerah itu menjadi daerah otonomi baru. Pembangunan infrastruktur memberi konsekwensi besar pada kebutuhan ruang, di tambah dengan dibukanya kran investasi, disamping investasi yang telah lebih dulu diprakarsi oleh pemerintah induk (kabupaten konawe).

Imanche al Rachman, Direktur LSM Komnasdesa-Sulawesi Tenggara menguraikan bahwa, kebijakan politik-ekonomi yang bernuansa “pintu-terbuka” oleh pemerintahan Orde Baru masih kerap dipraktekkan pemerintahan di masa kini, menyebabkan merebaknya konflik agraria di tanah air dalam bentuk dan manifesnya yang beragam. Kebanyakan dari konflik yang terjadi berwujud konflik antara negara dan rakyat.

Ditambah lagi dengan dibukanya kran investasi yang didukung berbagai prangkat aturan perundang-undangan seperti UU Penanaman Modal Asing, secara langsung memberikan dampak bagi komunitas lokal yang mata pencahariannya sangat tergantung pada pertanian tradisional. Dengan berpayung pada kekuatan hukum baru ini, pemerintah dengan leluasa mengeluarkan berbagai kebijakan pertanahan yang dominan berupa pengadaan tanah untuk proyek pemerintah maupun usaha bisnis skala raksasa.

“Sebagai daerah baru, tentu saja pemerintah konawe kepulauan tidak menutup diri akan membuka akses pada dunia investasi sebagai upaya menggenjot pendapatan daerah, misalnya dengan masuknya perusahaan pertambangan yang nota bene membutuhkan luas lahan dalam jumlah besar. Investasi yang dikenal sangat rakus lahan ini dengan sendirinya akan membatasi akses masyarakat terhadap tanah atau lahan pertanian mereka, terlebih di kawasan hutan,”kata Imanche Al Rachman, Direktur LSM Komnasdesa-Sultra, kepada wartawan di kantornya.

Akibatnya, orang desa yang menggantungkan dirinya pada tanah ulayat untuk melakukan kegiatan pertanian perlahan-lahan teralienasi. “Satu dari sekian orang pedalaman yang teralienasi akibat dari dominasi negara terhadap pertanahan dan menggantungkan dirinya pada kegiatan pertanian tradisional adalah orang wawonii,”demikian Imanche Al Rachman.

Kehadiran investasi pertambangan diduga telah mengusik kehidupan para petani akibat sumber daya ekonomi lokal mereka yang mulai direbut oleh investor. Salah satunya yang dialami para petani di kawasan Batulu (Kelurahan Polara, Desa Kekea dan Tondonggito) yang areal perkebunan kelapa dan pala mereka dikalim masuk dalam areal konsesi tambang PT Derawan Berjaya Mining (DBM). Kondisi tersebut pula diduga sebagai pemicu konflik antara masyarakat dan investor.

Seperti diketahui, pulau Wawonii kaya potensi sumber daya alam. Pulau yang secara georafis terletak di bagian timur khatulistiwa, tepatnya berada di perairan Laut Banda, bagian Utara dan Timur berbatasan dengan perairan pulau Menui, bagian Selatan berbatasan dengan kawasan hutan Peropa Konawe Selatan, sebelah Barat berbatasan dengan Tanjung Buton atau Laut Banda. Pulau ini dulunya adalah wilayah administratif Kabupaten Konawe, melalui desakan masyarakat, wawonii akhirnya dimekarkan dalam sidang paripurna DPR RI sebagaimana tertuang dalam UU No 13 tahun 2013.

Umumnya masyarakat wawonii bermukim di kawasan pesisir, namun sekitar 90 persen masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani kebun (agriculture), sedang sisanya adalah nelayan dan pegawai kantoran. Bagi penduduk wawonii dari generasi ke generasi, hasil perkebunan adalah tempat bergantung, penyokong berbagai sendi kehidupan. sebagian besar masyarakat yang tergantung dari perkebunan menggabungkan kegiatan berladang dan berkebun dengan memancing ikan di laut dan mengumpulkan berbagai jenis produk hasil pertanian.

Sumberdaya alam lokal paling dominan seperti kelapa, cengkeh, jambu mete, kakao, pala, dan pisang. Dan tanaman jangka pendek (tanaman semusim) seperti padi, jagung, dan kacang hijau. Bagi mereka, pertanian adalah pekerjaan utama dan sumber kehidupannya. Keahlian bertani orang wawonii adalah warisan yang disakralkan secara turun temurun. YOS

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Suara Lingkungan

To Top