Connect with us

Lima Tahun Tumor Menggerogotinya

Metro

Lima Tahun Tumor Menggerogotinya

KENDARI, SUARAKENDARI.Com- Roijah (50) sudah lima tahun menderita tumor. Kondisi ekonomi yang kritis membuat perempuan tua itu terpaksa menyeret tubuhnya di jalanan demi meminta belas kasihan orang. Ia pasrah dengan penyakitnya.

Lorong Simbo hanya sebuah jalan setapak. Di kiri kanannya adalah tanah perkebunan warga. Pohon jambu mete, mangga, pisang dan pinang berbaris bak tentara dengan buah lebat, menjadikan wilayah yang berada di Wilayah yang berada di perbatasan kota menjadi begitu hijau.

Di ujung jalan setapak itu, nampak kintal yang tidak terlalu luas telentang persegi panjang, di atasnya berdiri sebuah gubuk berlantai tanah, berdinding papan dan beratapkan daun rumbia. Di dalam gubuk nampak seorang perempuan tua duduk dibangku kayu.

Namanya Roijah (50). Ia seorang janda empat orang anak. Wajahnya membengkak, dahinya terdapat garis lekukan yang terputus-putus, kening dan lengan berwarna gelap terbakar sinar matahari. Tubuh warga Kelurahan Watubangga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari terlihat lemah dan berusaha bersandar di dinding. Ehem… ehem.. ehemm…. perempuan itu batuk sambil menahan dadanya, terasa sesak dan sakit.

Di gubuknya yang sempit roijah tidak sendirian. Seorang bocah perempuan bermain di dekatnya. Bocah kecil itu bernama Lina, usianya baru tiga tahun, namun cukup lincah membantu. Lina adalah cucu Roijah, putri dari anak keduanya bernama Romlah yang kini merantau ke Jawa.

“Hari ini saya tidak turun di kota, saya lagi sakit, sesak napas, batuk-batuk, sekali-sekali batuk darah kepala saya terasa sakit dari tadi malam. Makanya hari ini saya nda kemana mana karena masih sakit” katanya.

Tak berapa lama ,anak bungsunya datang, Andi namanya usianya lima tahun. Anak itu merengek minta uang jajan. “Mak, saya mau beli kue katanya”rengek Andi sambil sebuah  warung yang berada disamping gubuk itu. “Nak, ibu belum punya uang. Hari ini mama tidak turun cari uang ibu lagi sakit neh”. kata perempuan tua itu.

Sudah dua tahun belakangan ini harus hidup dibawah tangan orang lain. Setiap pagi berangkat dari rumah untuk mencari rezki dijalanan. harus dua kali naik angkot dari Baruga ke kota setiap hari.

Ditemani cucunya yang masih kecil, mereka mangkal ditempat biasa, menunggu dijalan jalan yang ada lampu merahnya.memanfaatkan lampu merah, menadahkkan tangannya disetiap kendaraan yang sedang berhenti. Demikianlah aktifitas keseharian mereka jika tidak sakit.  Disertai tetesan air mata dia bertutur,“Sekarang untuk makanpun harus mengemis”. Lanjutnya kemudian,“Jangankan untuk biaya operasi, untuk makan pun sudah susah”. Katanya sambil memegang pipinya yang membengkak.

“Anak saya putus sekolah, saya tidak sanggup membiayainya. Kendatipun begini kalau bapaknya masih ada, saya tidak akan terlalu kesulitan seperti ini”. Rini anak perempuannya yang berusia tigabelas tahun terpaksa putus sekolah. Keseharian anak ini tidak seperti anak-anak seusianya, duduk dibangku sekolah untuk belajar dan bermain.

Sayangnya keadaanlah yang memaksanya demikian. Hidup dalam ketiadaan dan kondisi orangtuanya yang sakit-sakitan. Kalau ibunya keluar rumah, Rinilah yang menjaga adik bungsunya di rumah dan membantu menyiapkan Disamping itu, biaya jugalah yang menyebabkan anaknya itu harus putus sekolah. Uang transport Rini yang tidak disanggupinya katanya.

Dua anak Roijah telah mandiri  dan merantau ke Jawa. Ia kini hidup bersama  dua anak lainnya dan satu orang cucunya yang masih kecil.

Wanita kelahiran Jawa Barat ini bercerita tentang  penyakit yang dideritanya. “Saya menderita tumor diwajah sejak lima tahun yang lalu,”ujarnya.

Ijah mengisahakan, lima tahun yang lalu ada bintik kecil yang tumbuh diwajahnya. Menurut persangkaannya, bintik kecil itu hanyalah bintik biasa dan akan hilang dengan sendirinya. Namun seiring perkembangan waktu, bintik itu pelan-pelan bertambah besar. Ia sempat  ke dukun dilakukan pengobatan tradisional. Akan tetapi tidak berhasil disembuhkan. Kemudian setelah dibawa kedokter, sangat mengejutkan, dokter mengatakan bahwa benjolan yang ada diwajahnya itu adalah tumor.

“Saya sudah capek” kata ibu ijah. “Sudah berobat ke dokter tapi obatnya tidak mempan”. Lanjut dia, sambil menunduk. Sekarang yang sering saya rasakkan akibat dari tumor tersebut adalah sering sakit kepala, pusing-pusing, asma dan batuk-batuk disertai darah. Susah tidur karena sakit kepala yang diderita .

Mengidap penyakit tumor dan tidak mampu biaya pengobatan membuat Roijah pasrah menjalani penyakitnya. Maka diya pun hanya berdoa menyerahkan hidup dan nasib anak dan cucunya kepada tuhan.”Kalaupun tuhan memberikan jalan terbaiknya saya bersedia menerimanya apapun itu yang terjadi,”katanya.

Roijah mengaku, pernah mendatangi  Rumah sakit Bahteramas, sayangnya Ia tidak  mendapatkan penanganan medis sampai sekarang. ”Ada saran dokter untuk melakukan operasi ke Makasar namun saya tidak punya biaya. Biayanya operasi sangat besar,” tuturnya.

“Jangankan untuk biaya berobat, makan saja sudah susah. Saya harus turun dijalan, dilampu merah untuk mengharapkan uluran tangan dari orang-orang supaya bisa makan” keluhnya.

Janda tua itu mengaku  setiap hari kepalanya sering sakit dan terasa lembek, dibagiain pipi dan mata yang membengkak sering merasakan nyeri.

Tidur pun susah karena terasa sakit di pipi dan mata kiri. Kepala terasa lembek, tidur tidak boleh menggunakan bantal yang agak keras harus bantal yang empuk biar tidak terlalu sakit katanya. Hanya mampu pasrah terhadap keadaan. “Mau berobat tidak ada biaya ,”ujarnya.  Pembengkakan diwajah semakin membesar sungguh memprihatinkan. Harapan ibu Ijah semoga ada pihak yang bersedia membantu pengobatannya.

Demi menghidupi dua orang buah hatinya yang masih kecil dan satu orang cucu, ibu Ijah terpaksa harus bekerja keras. Kerja apa saja pernah dilakukannya asalkan halal. Menawarkan diri  sebagai buruh cuci pakaian, menyetrika, dan mencuci piring. Bahka, megumpulkan barang bekas pun pernah dilakukannya. Mengitari kota dengan gerobak tua miliknya, mengais tempat-tempat sampah, memungut plastik minuman, koran dan kardus bekas kemudian dijualnya kepembeli barang rongsokan.

Dari pendapatannya itu digunakan untuk membeli beras dan bahan makanan lainnya. pekerjaan tersebut sudah dilakoninya selama bertahun tahun. Tetapi karena keadaan fisiknya yang semakin lemah, digeroroti penyakit selama lima tahun akhirnya untuk bekerja pun hampir tidak sanggup dilakukannya.

Belum lagi penyakitnya yang kian parah Ia harus memikirkan kebutuhan hidup keluarga sehari hari. Untuk itu ibu empat orang anak ini berusaha untuk mencari kebutuhan hidup sehari hari. Apalagi kalau tidak memiliki pekerjaan yang tetap sedangkan kondisi fisik yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja. Suami Roijah mangkat beberpa tahun silam sehingga beban hidupnya semakin berat.

Sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga untuk menghidupi dua anak dan satu orang cucunya ditambah lagi tumor yang mengerogoti kesehatannya ditengah perjalanan usia yang semakin renta itu, menyisakan beban hidup yang berat menimpa ibu empat orang anak ini.

Namun karena desakan kebutuhan sehari-hari walaupun kondisi sakit wanita paroh baya ini berani menantang hidup menyeret tubuhnya dijalanan, menerobos keramaian kota dan menembus bisingnya kendaraan dengan tekad yang bulat mengais rejeki dengan cara mengemis. Untuk turun di jalan meminta belas kasihan orang di lampu-lampu merah, di depan toko,mall, dan restoran di kota Kendari. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kelansungan hidup keluarganya. (Morson)

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top