Connect with us

Lestarikan Tahura sebagai Hutan Pendidikan

Metro

Lestarikan Tahura sebagai Hutan Pendidikan

KENDARI, SUARAKENDARI.Com- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari kembali menggelar diskusi dengan menghadirkan sejumlah nara sumber dengan mengangkat tema “Rehabilitasi Taman Hutan Raya dan Munculnya Penanaman Pohon Karet”.

 Diskusi yang digelar kali ini mengangkat tema yang cukup menarik, pasalnya keadaan Taman Hutan Raya (Tahura), saat ini yang sudah didiami oleh sejumlah penduduk tentu cukup mengancam keadaan lingkungannya. Apalagi, adanya isu bahwa Tahura akan ditanami pohon karet, tentu saja pemerintah setempat harus mengambil langkah cepat untuk mengatasi masalah tersebut.

 Kepala Balai Tahura Nipa-nipa, La Ode Yulardi Yunus, menjelaskan bahwa dalam rangka mengamankan keadaan Tahura, maka pihaknya sudah melakukan koordinasi perihal tanaman yang boleh untuk ditanami, diutamakan tanaman yang memiliki daya ikat air.

 “Kami sudah menegaskan bahwa Tahura itu merupakan hutan yang dapat menyelamatkan kita dari musibah banjir, hal ini sangat jelas ketika musibah yang terjadi pada Juli 2013 lalu, Tahura seakan-akan menjadi penyelamat bagi kita semua, sehingga kami tegaskan bahwa tanaman yang boleh ditanam yang punya daya ikat air sangat kuat, seperti kemiri,” jelasnya.

 Selama ini, Tahura juga telah didiami oleh penduduk yang sudah terlanjur bermukim di daerah tersebut, sehingga untuk menyelamatkan Tahura haarus dijadikan sebagai Hutan Pendidikan dan kawasan wisata, jadi semua orang menjaganya.

 “Kalau saat ini kami juga mengaku kesulitan dengan masyarakat yang bermukim, tidak mungkin setiap hari kami kontrol, jadi saya ada pemikiran kenapa kawasan Tahura ini tidak dijadikan sebagai Hutan Pendidikan, sehingga memberikan nilai tersendiri,” ujarnya.

 Sebuah keunggulan tersendiri, lanjutnya, karena Tahura terletak di tengah Kota Kendari, sehingga hutan ini bisa dimanfaatkan sebagai salah satu sarana pendidikan. Dengan demikian, semua orang pasti akan ikut menjaga kelestarian hutan.

Sisi ekonomi yang dapat diambil, ketika Tahura dijadikan sebagai kawasan wisata, maka semua pengunjung yang datang di Kendari harus diajak ke Tahura, jadi ada nilai ekonomisnya. Sayangnya, hal ini masih sebatas wacana, jika semua pihak tidak mendorong hal tersebut, maka Tahura pasti akan terus mengalami kerusakan. Kesadaran dari penduduk yang bermukim di Tahura tentu sangat diperlukan pula untuk tetap menjaga agar tidak sembarang menanam.

 “Kami sebenarnya dilema, mau dilarang juga sudah terlanjur bermukim, tapi bukan berarti lahan bermukin yang digunakan masyarakat saat ini bisa bertambah, kami juga selalu berusaha untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat agar jika ingin menanam atau berkebun, maka harus tetap menjaga lingkungan sekitar dan jangan sembarangan mematok lahan,” tukasnya. (LINA)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top