Kontradiksi Penyelamatan Pangan Lokal Sultra

SUARAKENDARI.COM-Hilangnya sumber-sumber pangan lokal yang diakibatkan ekploitasi sumber daya alam menjadi tanda tanya besar banyak pihak, disaat optimisme pemerintah daerah Sultra memantafkan isu ketahanan pangan. Kran investasi pertambangan dan perkebunan yang dibuka pemerintah adalah contoh terdagradasinya sumber-sumber pangan lokal.

“Saya kira, dibukanya kran investasi pertambangan dan perkebunan sawit menjadi salah satu penyebab hilangnya sumber pangan lokal kita, yang sebenarnya sangat disadari oleh pemerintah kita,”kata Kisran Makati, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Tenggara.

Kendati demikian Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara tak ambil pusing, sebab, saat ini pemerintah sedang membina 86 kelompok lumbung pangan masyarakat (LPM) yang tersebar pada sejumlah wilayah di daerah itu.

“Ini merupakan upaya pemerintah memantapkan ketahanan pangan pada aspek distribusi di daerah sentra pangan di Sultra,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Sultra Yesna Suarni, di Kendari, Jumat.

Ia mengatakan, secara harfiah lumbung pangan yang dimaksud bukan hanya untuk tempat penyimpanan cadangan makanan, tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu lembaga yang bergerak di bidang penyimpanan, pendistribusian, pengolahan dan perdagangan pangan.

“Memang kami akui selama ini sebagian besar lumbung pangan berfungsi sebagai lembaga cadangan pangan masyarakat untuk mengatasi paceklik,” katanya.

Sedangkan pengolahannya, kata Yesna, masih bersifat sosial dan terbatas pada kegiatan simpan pinjam dalam bentuk natura dalam skala yang relatif kecil. “Setiap kelompok LPM sudah dibantu sebesar Rp40 juta untuk dua tahun,” katanya.

Menurut dia, pengembangan LMP dilakukan dalam tiga tahapan yaitu tahap penumbuhan, tahap pengembangan dan tahap kemandirian. SK/AN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *