Connect with us

Kompor dan Regulator Tidak Sesuai Standar

Metro

Kompor dan Regulator Tidak Sesuai Standar

KENDARI, SUARAKENDARI.Com-Kebijakan pemerintah pusat untuk melakukan konversi minyak tanah ke gas sudah mulai dijalankan di Sulawesi Tenggara (Sultra). Ini ditandai  dengan pembagian gratis kompor dan tabung gas elpiji 3 Kg kepada seluruh masyarakat yang sudah masuk dalam daftar  pemerintah setempat.

Sayangnya, dalam pembagian tersebut, masih banyak kompor dan regulator yang dinilai bermasalah dan tidak layak digunakan oleh masyarakat karena cukup berbahaya. Ibarat bom waktu, keberadaan kompor dan regulator yang tak sesuai standar dapat memicu masalah baru bagi warga.

Anggota Tim Koordinasi Pelaksanaan Program Konversi Mitan ke Gas Elpiji 3 Kg, Yani Kasim Marewa, menyayangkan pembagian kompor gas dan regulator yang tidak sesuai dengan standar yang ada.

Menurutnya, pembagian kompor yang dibagikan kepada masyarakat ada dua merk yang berbeda, dimana merk Multitech yang berwarna hitam, tidak layak digunakan, sementara kompor yang berwarna putih dengan merk Kompindo hampir sempurna, sehingga aman digunakan.

“Merk Multitech itu tungkunya salah konstruksi antara spuyer tempat keluar gas dengan tungku leher angsanya tidak simetris, menyebabkan gas keluar pada dua sisi, dimana sisi utama keluar ke burner tempat api dan sisi kedua keluar pada bagian bawah kompor, sementara untuk Kompor Kompindo spuyernya terbuat dari kuningan hanya agak rapuh, jadi kalau bisa diganti, hanya dia sudah hampir sempurna,” jelasnya kepada wartawan Suara Kendari.

Tidak hanya pada kompor yang bermasalah, pada regulator juga terdapat masalah, dimana pembagian yang diberikan kepada masyarakat ada dua macam dengan merk yang sama, yakni merk Gatur warna biru dan warna kuning.

“Masalah yang lain terdapat pada regulator, dimana regulator yang berwarna biru tidak bisa digunakan karena jarumnya pendek sehingga gasnya tidak bisa keluar, kalau yang warna kuning masih agak mendingan,” jelasnya lagi.

Menurutnya, pemerintah kurang hati-hati dalam pembagian kompor gas yang diberikan kepada masyarakat, banyak terjadi kesalahan, dimana modifikasi kompor tidak sesuai dengan standar keamanan. Padahal pada kompor juga jelas terdapat label SNI, artinya aman untuk digunakan karena sesuai dengan standar.

“Saya juga heran kenapa ada label SNI, tapi setelah saya periksa masih belum aman digunakan oleh masyarakat, kalau tidak diperhatikan baik-baik, bisa rawan juga,” sesalnya.

Jumlah penerima kompor gas di Sultra untuk tahap ini yakni sebanyak 120 ribu yang tersebar di beberapa kabupaten/kota, artinya jika tidak sesuai dengan standarnya, maka banyak kerugian yang terdapat didalamnya.

“Bayangkan saja kalai penerima kompor gas sebanyak 120 ribu orang, berarti pemerintah pusat telah menganggarkan banyak anggaran, tapi modifikasi kompor yang dibagikan dilapangan tidak aman, artinya ada penyelewengan anggaran disini, tentu yang bertanggung jawab atas semuanya itu pemerintah,” cetusnya.

Yani juga menyayangkan pembagian yang dilakukan kepada masyarakat tidak disertai dengan edukasi, hanya berdasarkan selembaran yang ada dalam kompor.

“Bisa ditanya pada masyarakat, itu kompornya pasang sendiri, tidak ada sosialisasi yang dilakukan pemerintah, untung kalau cara pasangnya benar, kalau tidak, maka bisa membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Pipin, salah seorang warga Kelurahan Korumba sempat protes terhadap pembagian kompor gas yang diterimanya. Pasalnya, cara pemasangan kompor tidak dijelaskan dengan baik.

“Kompornya ini saya pasang sendiri, hanya berdasarkan selembar kertas yang ada dalam bungkusan, memang sudah ada tata caranya, tapi saya juga ragu,” ujarnya.

Ia juga mengaku ragu akan menggunakan kompor tersebut, jika tidak dalam keadaan terpaksa, ia lebih memilih untuk memasak dengan menggunakan minyak tanah. “Kebetulan tidak ada yang jual minyak tanah, jadi terpaksa saya gunakan kompor gas pembagian pemerintah, tapi inipun saya masih takut, jangan sampai meledak tiba-tiba,” pungkasnya.

Yani juga menghimbau kepada Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Sultra agar dapat menjemput permasalahan yang ada di lapangan, jangan sampai hanya ingin memasarkan gas elpiji 3 Kg saja. “Kalau bisa para pengusaha gas memberikan sosialisasi juga kepada masyarakat, jangan sampai hanya mencari untung saja, tapi tidak ingin buntung, kasihan masyarakat jika sudah gunakan kompor gas, tapi karena tidak paham, jadi rugi,” himbaunya.

Ia menyadari bahwa adanya konversi Mitan ke Gas ini memiliki nilai ekonomis yang cukup strategis dan punya dampak sosial yang luar biasa, Sehingga jika terdapat permasalahan di lapangan, harus cepat ditindaki agar tidak berlarut-larut.

Namun demikian, ia juga menyampaikan kepada masyarakat agar tetap tenang dalam menggunakan kompor gas yang telah diberikan kepada masyarakat, jangan sampai terlalu panik. “Sebenarnya lebih berbahaya jika gunakan kompor, karena kalau kompor sekali meledak semua langsung kena, tapi kalau tabung gas, jika terdapat kebocoran gas, maka tidak perlu panik, langsung dimatikan saja, lebih bagus lagi jika kompor gas diletakkan didekat pintu, sehingga jika gasnya bocor, bisa langsung keluar, jadi lebih aman,” pesannya.

Yani menambahkan lebih aman lagi dalam penggunaan kompor gas, regulatornya dibuka pasang saja. “Nanti pada saat akan digunakan baru regulatornya dipasang, jika tidak, maka lebih aman jika dilepaskan, jadi kalaupun bermasalah, gasnya tidak akan keluar,” tambahnya.

GM Marketing Operation PT Pertamina regional VI, Dani Adrianata,kepada pers di Sultra mengatakan, meskipun telah dilauncing namun penyaluran paketnya dilakukan pada Awal Januari 2014.

Sebelumnya, Kepala Bidang Migas, Ketenagalistrikan dan Energi Baru Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Tenggara, Andi Azis mengatakan, Sultra akan mendapatkan 407.138 paket kelengkapan gas, untuk 8 Kabupaten Kota. (LINA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top