Connect with us

KNPI Minta Polda Usut Gratifikasi Honorer di Bombana

Uncategorized

KNPI Minta Polda Usut Gratifikasi Honorer di Bombana

BOMBANA,SUARAKENDAR.COM-Pelaksana Ketua Kominte Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)Kabupaten Bombana, Laode Rahmat Apiti meminta kepada Polisi Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara untuk mengusut tuntas kasus gratifikasi Honorer K1 dan K2 yang terjadi di Kabupaten Bombana.

Rahmat mengaku, dugaan gratifikasi honorer sudah lama menggema di Kabupaten Bombana. Namun anehnya, meski sudah meresahkan banyak pihak, namun aktivitasnya belum disentuh oleh jajaran kepolisian.

Parahnya lagi, Kata Alumnus Universitas UGM Jogjakarta ini, gratifikasi itu dilakukan sejumlah oknum tertentu, sementara transaksinya sudah dilakukan secara terang-terangan. “Bayar- membayar itu seolah perkarah lumrah. Di jadikan barang wajib dalam urusan honorer,” tandasnya.

Menurut Rahmat Apiti, sukses  personil tindak pidana korupsi (Tipikor) Polda Sultra ungkap dugaan gratifikasi honorer di Kabupaten Muna, harus menjalar pula dikabupaten lain, seperti Bombana. “Kami minta polisi melebarkan penyidikannya, bukan cuma di Muna tapi ikut menjangkau di daerah lain termasuk di Bombana,” pinta Laode Rahmat Apiti.

Apalagi kata Plt Ketua KNPI Bombana ini, modus operandi  kasus Gratifikasi di Kabupaten Muna mirip-mirip dengan yang terjadi di Kabupaten Bombana. “Honorer di Bombana itu dimintai juga dana yang bervariasi. Mulai belasan juta, puluhan juta bahkan ada yang capai ratusan juta lebih. Persoalan ini sudah lama dikeluhkan banyak pihak di Bombana,” terangnya.

Harusnya jajaran Polda kata Rahmat mengusut pula kasus serupa di daerah lain termasuk wilayah Bombana. Sebab menurut analisisnya, aliran dana hasil dugaan gratifikasi honorer di Bombana, bisa capai miliaran rupiah.

“Kasian masyarakat dibuat begitu. Kerasnya himpitan hidup, harus mengucek kantong puluhan hingga ratusan juta rupiah dengan janji untuk di-PNS-kan. Kami tantang Kapolda untuk segra mengusut kasus ini,” tegas Rahmat.

Padahal ratusan honorer di Bombana sudah tertipu oleh bualan sejumlah oknum-oknum yang meminta uang. Tapi nyataannya lanjut Rahmat, hingga sekarang  iming-iming dijadikan PNS tidak kunjung ada.

“Anehnya,  ada juga yang mengaku lulus bila diuruskan, tapi saya yakin menembak diatas kuda. Mengapa? Karena ada honorer yang membayar 80-an juta ternyata tidak lulus. Yang membayar Rp 30 juta ternyata lulus. Padahal oknum yang mengurusnya sama. Jadi ini sama dengan mujur-mujuran. Kasian honorer, padahal uang yang mereka pakai belum tentu uang sendiri. Kadang uang pinjaman dari pihak lain dengan sistem bunga berbunga, jual lahan, hingga perabot lainnya yang berharga” tukas Rahmat. (DAR)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top