Connect with us

Kisah Tinus Menjaga Tanjung Batikolo

Uncategorized

Kisah Tinus Menjaga Tanjung Batikolo

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Bertugas di daerah terpencil seorang diri tentu tidak mengenakkan. Selain harus berjuang menjaga aneka satwa di areal kawasan hutan lindung dari penjarahan, juga diperhadapkan dengan minimnya sarana prasarana yang diberikan  pemerintah. Inilah yang dialami  Tinus, seorang petugas kehutanan di Taman Suaka Margasatwa Tanjung Batikolo, Kabupaten Konawe Selatan yang bertugas lebih dua puluh tahun di daerah tak berpenghuni bersama keluarga kecilnya.

Usia Tinus sudah beranjak di kepala enam. Usia yang cukup sepuh. Namun semangatnya menjalankan tugas, tetap berkobar.  Setiap harinya, petugas jagawana taman margasatwa Batikolo ini harus mengawasi sekaligus menjaga kawasan hutan lindung batikolo seluas empat ribu hektar. Berbekal parang, sebagai penjaga diri, Ia Setiap hari Ia harus masuk hutan ke luar hutan mengawasi area kawasan yang di lindungi negara ini,  seorang diri.

Kawasan batikolo sendiri merupakan kawasan hutan lindung tempat habitat berbagai jenis margasatwa endemik Sulawesi,  diantaranya anoa dan burung baleo. Kawasan ini juga terdapat berbagai jenis kayu dan tumbuhan-tumbuhan yang hidup di pulau Sulawesi.

Sayangnya, maraknya penjarahan kayu dan perburuan satwa, membuat populasi margasatwa di kawasan ini mulai menyusut. Bahkan, saat menyambangi kawasan budidaya burung maleo di sebelah utara Tanjung Batikolo, jejak penangkaran burung khas sulawesi ini sudah tidak ada, dan yang tersisa hanya bekas lubang telur maleo saja. Begitu pula lokasi penangkaran anoa kini sudah tidak ditemukan lagi.

Bertugas seorang diri tentu tidak sepenuhnya membuat hidup pria dua orang anak ini bisa leluasa menikmati hidup seperti orang kebanyakan. Minimnya sarana yang disediakan pemerintah kian membuat tugas tinus kian berat. Sejumlah sarana, seperti perahu pengawasan dan radio panggil, tidak lagi bisa berfungsi baik, karena tidak adanya dana untuk perbaikan dan suplay bahan bakar. “Semua peralatan ini sudah berusia tua, jadi sudah tidak berfungsi dengan baik,”kata Tinus.

Kondisi ini, membuat Tinus tidak tidak bisa bergerak dengan leluasa melakukan pengawasan seluruh kawasan.  Apalagi menghadapi para pelaku ilegal logging dan dan pemburu liar yang beroperasi dengan kapal dan peralatan modern, membuat tinus tidak dapat berbuat banyak mencegah terjadinya aksi penjarahan di kawasan hutan yang dilindungi negara tersebut. Bahkan pria berdarah Ambon ini punya banyak pengalaman miris. “Pernah saya merasakan nyaris kehilangan tempat tinggal, setelah sejumlah pencuri kayu mencoba membakar rumah ini,”ungkap Tinus.

Ia sadar pekerjaannya mengandung resiko besar, sebab banyak sekali orang (khususnya pelaku illegal loging ) tidak senang dengannya yang terus mengawasi dan melarang pencurian kayu dan satwa di tempat itu. “Tapi mau bagaimana lagi, sudah tugas ya harus dijalani,”ujarnya.

Lokasi bertugas tinus memang cukup terpencil, jauh dari hiruk pikuk aktifitas masyarakat dan harus menyeberang dengan menggunakan perahu dari Desa Puupi, Kecamatan Kolono, Kabupaten  Konawe Selatan. Dari ibukota kabupaten konawe selatan butuh dua jam untuk mencapai lokasi tanjung Batikolo tempat bertugas.

Tinus sendiri terpaksa memboyong Rohana, isterinya ke tanjung batikolo untuk  hidup bersama di daerah terpencil itu selama lebih dari dua puluh tahun. Untuk bertahan hidup mereka pun membangun rumah dan menanam pohon kelapa di kawasan itu serta memelihara  hewan peliharaan seperti ayam dan anjing.

Tinus sendiri pernah mengajukan pensiun dini namun dari instansi tempatnya bernaung belum memberikan ijin dan membuatnya harus rela bertugas hingga masa pensiun tiba. Pria berambut kriting hanya berharap pemerintah bisa memberikan perhatian besar pada penyelamatan hewan endemik yang hidup di kawasan itu.

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top