Kemlu Tawarkan Sultra Promosi Investasi PMA Sektor Ekstraktif dan Pariwisata

KENDARI, SUARAKENDARI.COM-Dalam acara Indonesia Mining for Development Alumni Day, di Hotel JS Luwansa, 27-29 Mei 2015, International Mining for Development Centre (IM4DC) berkolaborasi dengan Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral, kader-kader sultra bersama dengan pakar dan specialist pertambangan dari seluruh wilayah Indonesia diundang untuk bertukar pikiran tentang upaya peningkatan kebijakan tata kelola dan manajemen industri ekstraktif, dan interaksinya dengan masyarakat.

Acara ini di buka oleh Menteri ESDM, Sudirman Said, dan menghadirkan keynote speaker di antaranya James Gilling, Menteri Kerjasama Pembangunan Australia, Ian Satchel, Direktur IM4DC, dan Sudaryomo Hartosudarmo, mantan Dubes RI untuk Brasil dan Pokja Diplomasi Ekonomi Kementrian Luar Negeri (Kemlu).

Dalam sesi workshop, Muhammad Syukril, Bappeda Sultra, memberikan paparan tentang perencanaan spasial untuk mendukung perencanaan tata guna lahan untuk sektor pertambangan.

Omar Pidani, Akademisi UHO, memberikan paparan tentang dampak sosial, ekonomi dan lingkungan dari aktifitas industri ekstraktif di wilayah Sultra dan upaya mitigasi dampaknya. Sementara Fitrilailah Mokui, juga akademi UHO, memaparkan dampak kesehatan dari penambangan emas tradisional dan skala kecil di Bombana.

Ian Satchel, Direktur IM4DC, mengatakan bahwa Sultra merupakan daerah yang memiliki potensi pertambangan yang kaya. Negara bisa mendapatkan manfaat penyediaan lapangan pekerjaan, dan penerimaan dari bea perizinan, royalti, pajak dan retribusi. Ini belum termasuk berbagai manfaat dan penerimaan yang dihasilkan dari sektor-sektor manufaktur dan jasa yang tumbuh berkat aktifitas pertambangan. Namun masih banyak dampak sosial lingkungan yang perlu diremediasi dan semua ini hanya butuh komitmen. Teknologi dan pengalaman2 sebelumnya memungkinkan kita untuk minimalisasi dampak. “Jangan lupa aktifitas ekstraksi konsekuensinya ya perubahan bentang lahan. Mineral perlu digali untuk bisa dimanfaatkan”, ujar Ian.

Sementara itu, Sudaryomo Hartosudarmo menuturkan bahwa Brasil adalah salah satu negara penghasil mineral dunia. Namun ia, sebagaimana Indonesia, juga menghadapi persoalan inefisiensi dalam tata kelolanya. Akarnya sama, praktik korupsi dari oknum-oknum pejabat.

Omar Pidani, mengulas bahwa bahwa sektor pertambangan mineral merupakan salah satu kontributor GDP utama dalam ekonomi negara. Sejak krisis finansial 1998 sampai saat ini pun masih demikian. Daerah2 yang baru terbuka sangat mengandalkan sektor ini untuk memboosting penerimaan. Namun untuk bisa berkelanjutan, sektor ini membutuhkan teknologi yang cukup tinggi. Pemda perlu merencanakan alokasi dan strategi pengembangan sektor ini secara hati2. Bila tidak, ia malah melemahkan sektor-sektor lain yang juga memberi kontribusi ekonomi. Ia melemahkan, karena output sektor ini, termasuk limbah air dan sedimennya, selalu menjadi input bagi sektor lain seperti pertanian, perikanan dan turisme.

Dalam pertemuan informal di akhir sesi, Sudarmo, menawarkan kepada Pemprov dan Pemkab Sultra untuk mempromosikan kepada investor asing yang telah mereka data, pengelolaan sumberdaya mineral dan pariwisata. “Siapkan saja paparannya dan undang kami ke daerah. Kami akan jembatani upaya promosinya ke mitra investor asing yang tertarik”, ujar ketua bidang pariwisata, pokja diplomasi ekonomi kementrian luar negeri Indonesia (PID).(SK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *