Kadis PU: Jika Tidak Dikendalikan Kota akan Menjadi Bencana

0

SUARAKENDARI.COM: Permasalahan perkotaan saat ini dinilai sudah sangat kompleks, terutama pada tingginya kebutuhan lahan untuk pembangunan sehingga menyebabkan beralih fungsinya kawasan-kawasan yang sangat berpotensi sebagai kawasan lindung menjadi kawasan terbangun dan berdampak pada berkurangnya areal hijau. Nah, jika tidak dikendalikan maka keberadaan kota justeru akan menjadi bencana.

Hal ini diungkapkan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sultra, Ir Laode Muhammad Saidin MPd saat membuka kegiatan Focus Group Diskusi Fasilitasi penguatan kapasitas pemda pembina pelaksana pemamfaatan ruang kota hijau yang digelar Satker pengembangan kawasan pemukimkan dan penataan bangunan Provinsi Sultra.

“Saya kira tidak saja di kawasan perkotaan, tetapi juga di sebagian wilayah perdesaan. Maka itu butuh manajemen kota yang baik dan program kota hijau adalah solusi dari problematika yang dialami kawasan perkotaan,”kata Saidin.

Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang secara tegas mengamanatkan 30% dari wilayah kota berwujud Ruang Terbuka Hijau (RTH), 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Pengalokasian 30% RTH ini ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda) tentang RTRW Kota dan RTRW Kabupaten.

“Selaras dengan hal tersebut, perlu diwujudkan suatu bentuk pengembangan kawasan perkotaan yang mengharmonisasikan lingkungan alamiah dan lingkungan buatan. Upaya untuk membangkitkan kepedulian masyarakat dan mewujudkan keberlangsungan tata kehidupan kota, antara lain dapat dilakukan dalam bentuk perwujudan Kota Hijau,”jelas Saidin.

Pemerintah provinsi sendiri terus mendorong pemanmgku kebijakan di daerah kabupaten agar membangun ruang terbuka hijau sebagai wujud komitmen membangun wilayah berbasis lingkungan dan diwujudkan pada pembangunan kota hijau. Kota Hijau merupakan kota yang dibangun dengan terus menerus memupuk semua aset kota meliputi manusia, lingkungan terbangun, sumber daya alam, lingkungan dan kualitas prasarana perkotaan. Kota Hijau juga merupakan kota yang melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.

Pengembangan Kota Hijau juga berarti pembangunan manusia kota yang berinisiatif dan bekerjasama dalam melakukan perubahan dan gerakan bersama. Pengembangan Kota Hijau di Indonesia memerlukan gerak bersama seluruh unsur pemangku kepentingan kota. Pengembangan Kota Hijau juga memerlukan perubahan/inovasi/prakarsa mendasar (dari praktek hingga nilai-nilai) dan masif. SK

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.