Connect with us

Jejak Tarsius di Belantara Lambusango

Suara Lingkungan

Jejak Tarsius di Belantara Lambusango

Keanekaragaman hayati yang kaya membuat hutan lambusango, kabupaten Buton menjadi surga peneltian berbagai jenis flora dan fauna. Salah satunya penelitian hewan endemik Sulawesi, tarsius.g

Napas saling memburu. Langkah kaki kian dipercepat. Menjejak jalan setapak yang dipenuhi tumpukan daun kering, jauh ke dalam belantara hutan lambusango.  Kami benar-benar berkejaran dengan waktu. Harus tiba di lokasi sebelum hari terang.  Ketika sampai kami mengendap-endap. Memolototi batang pohon di hadapan kami. Berusaha keras mencari dengan mata dan telinga yang dipasang tajam-tajam.

Setengah jam berlalu, Lasamudi, seorang pemandu peneliti tarsius di hutan lambusango memberi isyarat dengan menyorot senter ke arah sebatang ranting pohon di depannya. Seekor primate bertengger di sana. Mata besarnya benar-benar awas menatap tajam ke arah lampu yang menyorotnya. Inilah Tarsius, hewan bertubuh mungil, endemic Sulawesi yang kami cari sejak dua hari di hutan ini. Suara khasnya memudahkan Lasamudi mengendus keberadaannya.Bbutuh waktu singkat untuk melihat hewan satu ini. Sebab, Tarsius menampakkan diri antara 7-10 menit saja. Ia keluar dari persembunyian di batang beringin raksasa hanya untuk berburu makanan.

 

Primata endemik Sulawesi yang keberadaanya kian langka memang terus menjadi salah satu obyek penelitian para ilmuwan. Tidaklah gampang menemukan keberadaan tarsius, sebab, hewan satu ini tergolong sensitif dengan kehadiran manusia. Biasanya saat mengetahui keberadaan manusia, tarsius segera melarikan diri dengan cara bergelantungan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya.

 

Butuh kesabaran waktu dan pemandu yang  tepat untuk dapat menemukan primata satu ini. Biasanya waktu untuk mengamati kemunculan tarsius mencari makan antara pukul lima lewat empat puluh lima menit sore hari, dan pukul lima lebih empat puluh menit pagi hari. “Para peneliti harus mengendap-endap berlama-lama  untuk bisa mengamati dan mendokumentasikan tarsius,” kata Lasamudi, pemandu peneliti tarsius yang sudah bekerja belasan tahun di belantara hutan lambusango.

Berlama-lama mengamati di hutan memang memacu adrenalin, dan tentu saja ada kepuasan tersediri dari para pencinta hewan  saat berhasil mendokumentasikan hewan langka ini.

Tarsius sendiri merupakan hewan bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar, tiap bola matanya berdiameter sekitar enam belas mili meter dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang. Tulang tarsius di kakinya sangat panjang dan dari tulang tarsus inilah tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala dan tubuhnya sepuluh  sampai lima belas centimeter. Namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang dua puluh  hingga dua puluh lima centimeter. Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang dengan lengan atas.

Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak.

Masa kehamilan betina tarsius berlangsung enam bulan, kemudian melahirkan seekor anak. Tarsius muda lahir berbulu dan dengan mata terbuka serta mampu memanjat dalam waktu sehari setelah kelahiran. Mereka mencapai masa dewasa setelah satu tahun. Tarsius dewasa hidup berpasangan dengan jangkauan tempat tinggal sekitar satu hektar. Karena itu, butuh kelestarian hutan agar primata satu ini bisa terus bertahan hidup di bumi.

Seperti diketahui, hutan Lambusango adalah jantung Kabupaten Buton. Memiliki keindahan alam yang menawan. Keindahannya tercipta dari perpaduan hamparan aneka flora dan fauna yang menjadi ciri khas satwa dan tumbuhan di sulawesi tenggara. Jenis flora yang terdapat di hutan tersebut mewakili jenis tumbuh-tumbuhan, seperti kayu besi, kayu  bayam dan rotan.  Sementara, aneka jenis fauna yang dapat kita jumpai di hutan ini meliputi, hewan kus-kus, musang Sulawesi, anoa, kera hitam dan satwa lainnya.

Oleh karena memiliki kekayaan flora dan fauna yang beragam, hutan lambusango juga sering dimanfaatkan oleh para ahli sebagai tempat penelitian, baik peneliti dalam negeri maupun dari luar negeri. Penelitian dilakukan dalam rangka mencermati kehidupan hayati, kondisi ekologi, sampai upaya konservasi alam warga sekitar hutan lambusango. Yoshasrul

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Suara Lingkungan

To Top