Connect with us

Jejak Sejarah Partai Komunis Indonesia di Sultra (Bagian 1)

Jejak Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sultra (Bagian 1)

Pilkada

Jejak Sejarah Partai Komunis Indonesia di Sultra (Bagian 1)

Sejarah mencatat Partai Komunis Indonesia adalah partai terbesar di nusantara. Partai melebur bersama rakyat termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara. Paling tidak inilah kesaksian dari para eks tahanan politik di Kendari. Berikut ulasannya yang ditulis Kiki Andipati, jurnalis muda di Kendari.

————————–
Inilah Nanga-Nanga. Kampung di kecamatan Baruga kota Kendari Sulawesi Tenggara. Kampung ini dibuka tahun 1978,oleh 37 keluarga bekas tahanan politik peristiwa 1965. Mereka dilepas setelah dijeblos ke tahanan, tanpa surat penangkapan tanpa pengadilan. kampung Nanga-Nanga hanya berjarak 20 kilometer dari ibukota Sulawesi Tenggara, Kendari. Saat ini hanya ada 20 rumah disana. sebagian besar masih berbentuk asli seperti ketika dibangun dua puluh tujuh tahun silam. Rumah berdinding papan dicat putih beratap seng campur rumbia dengan satu jendela di bagian depan. Sebuah mesjid dan sebuah gereja, serta puskesmas pembantu dibangun di sana. Bila siang kampung sepi seperti kosong penghuni. Orang-orang masuk ke hutan mencari dolken sejenis kayu anakan penyangga bangunan. Dolken yang mereka cari bakal dihargai 500 rupiah per batang. Tapi dengan cara itu mereka hidup.

Di Sulawesi Tenggara, penangkapan pertama terjadi pada 18 Oktober 1965. Delapan pimpinan PKI (Partai Komunis Indonesia) di tahan Korem 143. Disusul tindakan lain berbau kebencian yang menyebar secara cepat di propinsi ini dan menulari daerah-daerah kabupaten lain. Pada tahun 1968, 200 orang yang dikategorikan bagian dari Partai Komunis masuk tahanan.

“Saya tak bisa tidur mendengar semua itu. Terlebih lagi karena Buton disebut sebut sebagai pemasok senjata bagi Partai Komunis,” Lambatu, salah seorang eks Tapol PKI.

Wa Ode Zatimah, istri Lambatu meriang sejak penyisiran anggota partai dilakukan. Kata Lambatu, Ia tak pernah memikirkan hidupnya akan berubah, Ia hanya mengira dirinya akan diinterogasi (bila penangkapan dilakukan), setelah itu Ia bisa meneruskan hidupnya kembali. Ia menenangkan istrinya dan mengatakan musuh partai komunis hanyalah imperialisme dan feodalis, yang lainnya tak ada. Tapi Ia salah. Pada 7 November 1965, sejumlah anggota pasukan masuk ke rumahnya. Istrinya berdiri gemetar. Anggota pasukan militer itu mencari dokumen yang terkait dengan kudeta jenderal. Ia di gelandang ke kantor militer malam itu, mengalami penyiksaan fisik dengan interogasi berhari-hari, berbulan-bulan dengan pertanyaan sama hingga Ia tak bisa berpikir. Mengapa masuk PKI? Mana dokumen-dokumennya? Struktur PKI seperti apa? dan pertanyaan lain yang membuatnya tercengang-cengang.

Keluarganya ikut diinterogasi. Zatimah mendapat giliran pertama. Perempuan ini menangis dan mengatakan hanya tahu kalau suaminya ikut rapat. Dari anggota tahanan lain, Lambatu tahu istrinya mendapatkan kekerasan seksual selama diinterogasi. Ia menangis karena tak mampu melakukan apapun untuk menolong istrinya. “Hidup seperti apa ini…”

Ia tak bisa lagi berpikir. “Saya hanya ingin ini segera berakhir. Jangan sakiti istri dan keluarga saya lainnya.”

Ia lalu mengamini bahwa benar ada rapat untuk kudeta. Ia bermohon-mohon keluarganya tak lagi di ganggu. Ia dipindahkan ke sel Buton pada tahun 1970. Tak seorangpun pernah menjenguknya, melakukan hal ini sama halnya memindahkan penyakit ke tubuh orang sehat. Di luar tahanan, istrinya meninggal dengan jiwa terganggu. Ia pergi dengan label PKI dan karena memiliki suami yang bertekad ingin mengubah wajah negeri ini. Bupati Buton, Kasim, yang dikategorikan terlibat dalam keanggotaan Partai Komunis dinyatakan bunuh diri dengan cara menggantung diri di tahanannya. Hingga bertahun-tahun berikutnya, istrinya terus meminta penjelasan benar tidaknya bunuh diri ini.

Berita melegakan tiba di tahun 1969, ketika Pangdam Wirabuana Andi Azis Rustam dan Oditur Militer Kol Busono dan Kol Bagyo dari Direktorat Kehakiman Pusat berkata, Buton tak terbukti menjadi wilayah pemasok senjata dari China. Tapi terlambat sudah. Jiwa-jiwa itu telah pergi dengan kekerasan yang dibenamkan dalam tubuh dan pikiran mereka.

Tahun 1977, Lambatu menjalani hari-hari yang disebut ‘dimanusiakan kembali’. Bersama 42 orang lainnya Ia menempati lokasi terkosentrasi Nangananga. Wilayah seluas 84 hektar ini dikapling-kapling dan dirancang terpusat agar mantan tahanan politik ini mudah dimonitoring. Ratusan orang tiba lebih awal disini. Ia mendengar kabar ratusan orang lainnya telah tewas dalam kerja-kerja paksa pembukaan lahan hutan, transmigrasi, jalan-jalan di bawah kontrol militer di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara. Pikiran Lambatu tak lagi jernih, meski Ia tak mati, namun Ia tak punya bayangan seperti apa hari esok.

Ia mengusir sedihnya dengan mengurusi kebun di belakang rumahnya. Kebun yang tak bisa berkembang. Di tahun pertama menetap di Nangananga Ia tak punya nyali bertemu orang lain di luar Nangananga. Ia merasa ada cap PKI di tempeli di kepalanya. Meski Ia tak mengatakan itu, namun ketika orang tahu Ia berasal dari Nangananga, identitas sebagai eks tahanan politik terkuak. Tahun-tahun berikutnya, Ia mencoba berhenti mengenang kejadian buruk di masa lalunya. Tapi ia begitu kesepian, hingga tak mudah beranjak dari kenangan-kenangan tersebut.

Yanasin, eks tahanan politik lainnya menjual tanah depan rumahnya, Ia lalu menyingkir ke rumah kecil belakang tanahnya. Mencoba berdamai dengan hidupnya.. “Saat kami berkunjung, mereka tak tahan untuk tidak bergembira seperti anak kecil. Tamu adalah hal luarbiasa dalam hidup mereka. Menerima orang luar seperti membangunkan kembali rasa percaya diri yang hilang,”ujarnya.

Lambatu selalu menerima tamu dengan sikap gentle. Ia berpakaian rapi, kemeja dimasukkan dalam celana katunnya dan Ia berdiri depan pintu hingga tamu-tamu itu muncul. Ia selalu mengingatkan membawa buku, suratkabar, apapun untuk bisa dibaca-baca membunuh sepi. Ia telah melewati sesuatu di masa lalu, somewhere in time, yang begitu pahit untuk di panggil sebagai memori. Tapi kini pembunuhan lain mengintip mereka ; kesepian dan tersisihkan.

Hari ini di Nanga-nanga hanya 37 keluarga. Mereka merupakan anak dan cucu generasi kedua dan ketiga dari para bekas pengurus dan angggota PKI, hanya tersisa 6 orang bekas tapol PKI yang masih hidup di kampung Nanga-Nanga. Mereka adalah La Mbatu, La Une,Sutami, Maho, Yanasin dan Zakaria. Sedangkan yang lainnya terpaksa meninggalkan kampung Nanga-Nanga, karena tak tahan hidup di tengah hutan, dan sebagian lagi meninggal dunia.

Lambatu, La Une, Sutami dan Maho adalah mantan tapol PKI dari kabupaten Buton, Muna dan Kendari. Sementara, Yanasin dan Zakaria dari Sulawesi Selatan. Sebelum terlibat dalam partai komunis, mereka adalah kepala sekolah, guru dan pegawai negeri sipil.

Lambatu berusia 70an tahun. Ia masih tampak sehat. Sebelum masuk partai, ia bekerja di perpustakaan negara Makkasar tahun 1956. Di sanalah Lambatu mengenal berbagai jenis buku-buku kiri dan membaca semua buku karya lenin, marxisme serta tertarik dengan partai komunis yang menawarkan program lebih baik dibanding partai lain yang katanya kapitalis. La Mbatu mengidolakan buku negara dan revolusi karya Lenin.

Tahun 1964, ia kembali ke Buton Sulawesi Tenggara dan menjadi guru SMP. Pada saat yang sama, partai komunis menarik simpatinya. Ia tidak keberatan ketika ditawari menjadi sekretaris comite sub seksi CSS partai komunis, kecamatan Kapontori kabupaten Buton. Ia mengingat, ketika itu, kegiatan partainya lebih banyak berdiskusi antar simpatisan dan kader PKI tentang, bagaimana memajukan daerah. Karena menurut dia, partai komunis tergolong partai baru di daerah itu.

Menurut Lambatu, kondisi politik lokal Buton masih menyisakan feodalisme kerajaan. Untuk itu, harus diubah secara perlahan dengan mendirikan partai komunis. Ia masih berusia 30 tahun saat itu dan sangat bersemangat. Partai komunis merupakan partai pertama di Sulawesi Tenggara yang memiliki pengurus di tingkat provinsi atau dinamakan CDB. Pengurus di tingkat Provinsi juga terlibat dalam pemebentukan Provinsi Sulawesi Tenggara. Ketika itu, partai komunis sudah mulai menjalankan roda organisasinya dengan membentuk pengurus sampai tingkat kecamatan.

”Politik buton terjadi dua kontradiksi. Buton itu kan sisa-sisa kerajaan,pusat kerajaan di sana. Di sinilah yang bertugas di desa ­desa itu mau menanamkan sisa -2 dulu itu. Inilah yang perlu kita tantang. Ndak kita menggalang front yang baik kerja baik.dalam pros nasakom itu kerja baik,utuh.itu yang kita herankan. Heran, kenapa sesuatu kejadian tidak sama sekali kita cium,kita tau.padahal semuanya satu.yang dimana nasakom itu satu,” tuturnya.

Namun siapa sangka bahwa itulah awal mula kepahitan hidupnya dimulai? Diawali kabar yang didengarnya dari radio transistor milik tetangga, bahwa para jenderal di Jakarta telah diculik dan akhirnya ditemukan tewas mengenaskan. Peristiwa itu, dikenal dengan sebutan gerakan 30 September 1965.

”Ndak ada. sama sekali tidak ada berita. Itu mi yang kita herankan. kemudian rencana partai, tidak ada istilah kup dari partai. sebab partai tidak ada yang dihianati. hanya yang di hianati adalah musuh-musuh imprealis, feodalis. Itulah musuh-musuhnya,” ungkap Lambatu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pilkada

To Top