Connect with us

Jejak Bencana Banjir Bandang di Kendari

Uncategorized

Jejak Bencana Banjir Bandang di Kendari

Jejak Bencana Banjir Bandang di Kendari

SUARAKENDARI.COM-Banjir besar yang melanda Kota Kendari pada tanggal 13 dan 31 Mei  2017 adalah banjir yang terjadi untuk kesekian kalinya. Jejak banjir yang terjadi di wilayah ini sudah terekam sejak lama. Berikut jejak banjir yang terjadi di Kota Kendari.

1.Banjir bandang terjadi tahun 2006 di Kelurahan Benu-benua, Kota Kendari. Banjir menerjang pemukiman warga menyebabkan 14 rumah rusak berat dan hanyut terbawa banjir. Banjir juga merendam sekolah dan rumah sakit santa ana Kendari sehingga mengganggu aktifitas pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Di tahun yang sama banjir juga meredam wilayah kemaraya dan kelurahan kampung salo dan Mandonga. Warga menuding banjir akibat aktifitas perusakan kawasan hutan nipa-nipa oleh onum warga.

2. Tahun 2007, banjir besar yang menimpa Kelurahan Kampung Salo yang merendam rumah warga dan merendam asrama TNI serta fasilitas umum di wilayah itu. Warga menuding aktifitas perambahan hutan di wilayah hulu di pegunungan nipa-nipa menjadi penyebab banjir besar  yang merugikan warga.

3. Tahun 2009. Banjir melanda wilayah kelurahan kemaraya dan Kelurahan Lahundape dan merendam sebagain besar kawasan di wilayah itu.

4. Tahun 2013. Banjir melanda di bulan Juli saat curah hujan cukup tinggi dan turun selama berhari-hari. Hampir seluruh anak sungai meluap dan merendam hampir separuh wilayah Kota Kendari di 11 Kecamatan. Banjir sempat melumpuhkan transportasi di kota kendari dan melumpuhkan aktifitas ekonomi warga. Kerugian diduga mencapai puluhan miliar rupiah. Banjir diduga akibat kerusakan kawasan hutan tahura nipa-nipa, hutan nanga-nanga, buruknya drainase dan pembangunan tata kota yang tidak memperhatikan aspek lingkungan. Banjir juga dikaitkan dengan hilangnya sebagian besar kawasan tangkapan air di wilayah teluk kendari akibat praktik jual beli lahan oleh mafia tanah serta adanya aktifitas pendangkalan teluk kendari.

5. Tahun 2017. Tepatnya tanggal 13 dan 31 Mei 2017, banjir besar melumpuhkan transportasi dan aktifitas ekonomi, merusak sarana transportasi seperti jalan yang longsor dan merendam pemukiman ribuan warga. Pemerintah merilis, kerugian ditaksir mencapai Rp 75 miliar rupiah.  Banjir diduga akibat kerusakan kawasan hutan di tahura nipa-nipa, hutan nanga-nanga. Buruknya drainase dan pembangunan tata kota yang tidak memperhatikan aspek lingkungan juga dinilai memberi sumbangsi banjir. Banjir juga dikaitkan dengan hilangnya sebagian besar kawasan tangkapan air di wilayah teluk kendari akibat praktik jual beli lahan oleh mafia tanah serta adanya aktifitas pendangkalan teluk kendari. SK

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top