Inilah Perempuan Sultra yang Taklukan Puncak Mekongga

 

SUARAKENDARI.COM-Ika Kojo sapaan akrabnya. Perempuan bertubuh mungil ini bukanlah perempuan sembarang. Ia mampu menaklukan puncak Mekongga, gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara yang terletak di Kabupaten Kolaka. Bersama empat rekannya yang tergabung dalam Kelompok Pencinta Alam (KPA) Amcalas Ika Kojo menerobos hutan alam yang terkenal dengan batu cadasnya.

“Ini kecintaan saya pada alam liar dan selalu ingin mencoba tantangan,”ujar perempuan berambut pajnag ini membuka pembicaraan.

Bergabung di pencinta alam terbilang sudah cukup lama. Bahkan di organisasi Amcalas, Ika yang juga alumni Fakultas Komunikasi Universitas Haluoleo adalah salah satu senior dan menjadi salah satu pendiri. Hampir seluruh lokasi alam di Sultra sudah didatanginya, termasuk Mekongga.

Awalnya, di Sultra, pendaki perempuan hanya dapat dihitung jari, namun seiring waktu perempuan-perempuan Sultra kian banyak yang bisa mencapai puncak Mekongga. Bahkan terakhir, di perayaan Hari Kartini sejumlah pendaki perempuan juga mencapai puncak Mekongga.   Selain KPA Amcalas, banyak anggota kelompok pencintaan alam lain yang sudah berhasil menggapai puncak mekongga yang berada di ketinggian 2260 meter dari permukaan laut (MDPL). Namun saja, sebagian besar dari mereka adalah laki-laki. Sedangkan untuk perempuan, menurut sumber kalangan pencinta alam di Sultra, tak lebih dari tiga orang. Ika Kojo adalah salah satunya.

Persiapan menuju puncak Gunung Mekongga memang tak main-main. Butuh kematangan strategis dan tentu saja logistic atau perbekalan yang cukup demi memenuhi nutrisi selama perjalanan.

Ia mengaku, perjalanan menuju puncak mekongga memakan waktu sekitar 3 hari perjalanan. “Kami mengambil jalur selatan. Dari camp 1 ke camp 2 memakan waktu satu hari perjalanan, dan seluruhnya untuk sampai ke puncak ada 3 camp,”urai Ika. Tak hanya melalui hutan belukar, Ika bersama rekan-rekan juga harus melewati derasnya air sungai yang berada di kaki gunung. “Ya, tahap pertama menuju kaki gunung mekongga harus melalui arus sungai. Untuk menyeberang, Kami terpaksa menggunakan tali pengaman agar tidak terseret arus,”jelasnya. SK

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *