Ibarat Minum Obat, Listrik Padam Siang Malam

Setiap hari lampu selalu padam terjadi di seantero Kota Kendari. Padamnya pun bukan sekali, tetapi berkali-kali. Bahkan ada yang mengibarat listrik padam seperti minum obat 3 kali sehari . Tak ayal, warga pun mengeluh tiada henti,  semua ‘memaki’ PLN. 

==============

Krisis daya, mungkin begitulah menggambarkan kondisi kelistrikan di Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini. Hampir setiap saat listrik selalu saja padam. Tak hanya di area Kendari, tetapi juga hampir merata di seluruh wilayah Sultra.

Kondisi yang tidak diharapkan itu memang sudah tahap menganggu aktivitas publik. Artinya, pasokan listrik mempunyai arti sangat penting, bagi pegawai kantoran, baik pegawai pemerintahan maupun karyawan swasta karena tanpa listrik, fasilitas kerja seperti komputer, AC dan penerang lampu sangat urgen. Begitu pula untuk usaha industry dan rumah tangga, dari usaha percetakan, foto copy, rumah kaoke, hotel, loundry dan dosmeering, listrik memiliki peran setral untuk usaha  agar tetap berjalan dan semua itu membutuhkan pasokan listrik yang memadai.

Demikian pula di pegawai rumah sakit, rumah ibadah dan  universitas semua membutuhkan listrik dalam menjalankan aktifitas kemanusiaan mereka. Dan bagi warga listrik menjadi sangat penting. Di rumah sakit, sdejumlah pelayanan medis terpaksa sering dihentikan mendadak, karena listik yang tiba-tiba padam. Dalam beberapa kejadian, pasien terpaksa harus menunggu berjam-jam untuk menjalani operasi hanya karena ketiadaan pasokan listrik untuk menjalankan fasilitas. Di ruang-ruang pelayanan di poly gigi dan poly mata misalnya, antrian yang sudah mengular terpaksa buyar, hanya karena listrik padam. Kata dokter, peralatan pembersih gigi dan mata semua membutuhkan pasokan listrik. Tak mungkin memeriksa gigi dan mata pasien dalam keadaan gelap gulita. Ini menunjukkan betapa listrik menjadi sumber energy yang sangat dibutuhkan.

Bila kondisi listrik dalam kota saja megap-megap, lantas bagaimana dengan listrik di luar kota? Batumea, desa kecil di  Kecamatan Wawonii Tengah, Kabupaten Konawe Kepulauan, warganya hanya menikmati listrik 12 jam sehari. Kondisi yang  sudah berlangsung cukup lama, jauh sebelum Pulau Wawonii mekar dari kabupaten induknya, Konawe tahun 2014 silam. Listrik mengalir di rumah penduduk saat matahari tenggelam, tepatnya pukul 18.00 Wita dan baru padam menjelang fajar menyingsing di timur. “Kondisi listrik di pulau ini merata dan berlaku sama di seluruh pelosok desa. Tak terkecuali di Langara yang menjadi ibu kota Konawe Kepulauan,”kata Firman, aktifis lembaga swadaya masyarakat.

Di kawasan ini listrik mengalir dari pukul 18.00 wita dan baru padam pada pukul 12 siang yang berlaku di hari Sabtu dan  Minggu. Pengecualian diberikan PLN, karena, kebutuhan listrik di perkantoran pemerintah cukup urgen. Kendati menyala hanya 12 jam tapi listrik tidak padam rutin seperti yang terjadi di wilayah perkotaan.  Keadaan yang cukup dimaklumi, sebab Konawe Kepulauan adalah daerah baru, indutri belum banyak menggeliat layaknya di wilayah perkotaan. Lagi pula jumlah pengguna daya masih sangat kecil, itu pun tak semua warga menikmati listrik.

Cukup mengherankan  bukan? Melihat sikap PLN di perkotaan yang cuek dan terkesan tidak peduli, nampaknya tidak berbanding lurus dengan fasilitas dan kesejahteraan seperti gaji yang diberikan pada para karyawan di perusahaan tersebut. Gaji seorang Direktur PLN  sebagaimana dilansir JPNN mencapai Rp 15o  juta per bulan, itu di luar tunjangan hidup dan keluarganya.

Seyogyanya kesejahteraan  yang diberikan Negara itu dapat meningkatkan performa kinerja aparat PLN tanpa harus berlindung dengan alasan peralatan mesin PLN yang usang atau tua.   Selama ini, dapat dinilai jika  PLN sangat minim inisiatif membuka  informasi tentang keadaan sebenarnya kelistrikan di wilayah Sultra. Rakyat seolah dibiarkan menerima keadaan  yang “gelap gulita”, tanpa mendapatkan penjelasan informasi tentang kondisi kelistrikan di daerahnya.

PLN Cabang Kendari sendiri beralasan, pemadaman terpaksa dilakukan secara bergilir di seluruh wilayah kota kendari akibat rusaknya dua mesin pembangkit listrik masing-m,asing di PLTD Wuawua dan di PLTU Ni Tanasa, di Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe. Selama ini PLTU menyuplai aliran listrik sebesar 20 MW. Seperti dilansir sejumlah media lokal, PLN mendapat tambahan daya 10 MW melalui  di PLTD Wuawua dan 8 MW di mesin PLTU Tanasa. Jumlah daya itu diharapkan akan menjadi cadangan yang cukup besar untuk ketersediaan listrik di bawa kendari cabang Kendari. Dengan demikian, ketersediaan daya listrik di PLN Cabang Kendari hingga kini seluruhnya mencapai 69 MW. Namun kabar kurang menggembirakan soal kualitas  mesin PLTA Nii Tanasa yang ternyata tak sesuai harapan.

Lantas berapa sebenarnya daya listrik yang ada di Sultra saat ini? Merujuk hasil presentasi pemerindah daerah Sultra saat melakukan kegiatan promosi ke berbagai mancanegara, diperoleh infomasi tentang kondisi kelistrikan di bumi anoa saat ini.

Dimana, kapasitas kelistrikan yang terpasang sebesar 115,569 MW dengan rasio elektrifikasi di tahun 2009 sebesar 41 persen  naik 4 persen dibanding  tahun 2007 yakni 37,16 persen. Ada pun  rasio desa teraliri listrik untuk PLN cabang Kendari mencapai 77,52 %,  sedangkan  di PLN Cabang Baubau 56,20 %  yang mengaliri listrik di 295 desa. Sejak tahun 2010 silam pemerintah Sultra telah pula merencanakaan adanya penambahan pembangkit sebesar 30,5 MW. Meski begitu upaya tersebut belum juga mengatasi krisis listrik hingga kini.

Krisis listrik nampaknya masih akan terus berlanjut seiring tekad Gubernur Sultra Nur Alam yang menjadikan jazirah tenggara sebagai pengembangan Sultra menjadi pusat industry pertambangan nasional.

Nah, jika saja itu rencana  pemerintah Sultra itu terwujud, maka akan menyedot daya listrik yang lebih besar. Dari prediksi kebutuhan listrik untuk pengembangan Sultra menjadi pusat industry pertambangan nasional untuk kebutuhan smelter dan refinery saja membutuhkan daya listrik sebesar 640 MW,  sedangkan kebutuhan listrik untuk pabrik baja (stainless steel) sebesar 230 MW.

Dengan demikian melihat total keseluruhan kebutuhan listrik untuk pertambangan yang  mencapai 870 MW, maka bukan tidak mungkin pemerintah lebih memprioritaskan kebutuhan listrik untuk investasi ketimbang untuk masyarakat. YOSHASRUL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *