Connect with us

Festival Benua Upaya Pelestarian Budaya Tolaki

Pariwisata

Festival Benua Upaya Pelestarian Budaya Tolaki

Festival Benua Upaya Pelestarian Budaya Tolaki

Suarakendari.com- Pesatnya teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi ini tidak luput dari dampak negatif terhadap kesenian dan budaya lokal sebagai karakter bangsa. Realita saat ini menunjukkan kurangnya apresiasi para pemuda terhadap kesenian dan budaya asli milik Indonesia pada umumnya dan suku Tolaki pada khususnya di Kabupaten Konawe Selatan. Situasi ini lebih diperkeruh lagi dengan akulturasi budaya yang dibawa oleh banyaknya pendatang ke daerah ini dan budaya asing yang dapat berdampak pada perubahan paradigma, sikap dan peradaban bangsa yang bermartabat.

“Masuknya budaya barat yang mendapat respon positif dari kalangan remaja tanpa adanya filter dan penyeimbang dari budaya lokal mengakibatkan para remaja, pemuda dan sebagian besar masyarakat mengalami kerancuan dalam memahami dan membedakan antara budaya asli milik Indonesia dengan budaya asing. Adat istiadat budaya suku Tolaki, yang semestinya kita lestarikan kini tenggelam di tengah-tengah begitu kuatnya arus budaya asing yang masuk hingga ke pelosok-pelosok desa. “Ditemukan fakta bahwa hanya sedikit saja jumlah remaja ataupun pemuda yang bisa membawakan/melestarikan adat tradisional. Kita lihat saja, jarang sekali anak-anak sekarang yang bermain-permainan daerah, yang meraka tahu hanya permainan modern seperti game playstation(PS). Itu contoh yang sangat buruk bagi Indonesia khususnya masyarakat Tolaki,”demikian Rasul Simpatik Nusantara, yang juga Ketua Panitia Festival Benua Lulo Ngganda, saat menggelar konfrensi Pers dihadapan belasan wartawan di Plaza In Hotel Kendari, Senin, (18/12) .

Tentang Budaya Tolaki di Benua

Berdasarkan studi etnografi, hampir semua suku bangsa di muka bumi ini meliputi daerah tropis atau daerah kutub, baik yang bermukim di pedalaman maupun di daerah-daerah pesisir, seluruh atau separuhnya menggantungkan diri pada sumber daya alam sekitarnya. Sumber daya alam merupakan salah satu sumber daya yang berfungsi sebagai basis ekonomi dan kultural (liebenstraum) bagi kelompok-kelompok suku bangsa tersebut. Karena itulah dalam kenyataanya ditemukan fakta dalam kebudayaan setiap suku bangsa selalu memiliki mitologi-mitologi, legenda , atau pun cerita-cerita rakyat yang berisikan atau mengisahkan tentang keterkaitan suatu suku bangsa dengan sumber daya alamnya.

Tolaki merupakan salah satu suku bangsa yang memiliki keterkaitan yang sangat tinggi terhadap sumber daya alam khususnya hasil pertanian dan sumber pangan lokal lainnya. Hal ini sebagaimana dilukiskan dalam mitologi yang mengisahkan asal usul orang tolaki atas tanah. Mitologi seperti ini banyak terdapat pada kelompok suku bangsa lainnya yang menunjukkan karakteristik yang khas, seperti juga yang terdapat pada suku bangsa tolaki di Benua.
Bagi orang Tolaki di Desa Benua, merawat budaya adalah merawat kehidupan yang merupakan berkah yang diberikan Sang Maha Pencipta kepada mereka. Tanah tidak hanya dipandang sebagai kumpulan gundukan tempat pepohonan dan tumbuh-tumbuhan lainnya tumbuh dalam sebuah kawasan. Tanah mengandung nilai yang sangat kompleks, meliputi ekonomi, nilai budaya, maupun nilai religi. Nilai ekonomi yakni hasil tanah memberi manfaat ekonomi bagi orang Tolaki untuk memenuhi kebutuhan subsistensinya melalui berbagai model pengelolaan dan pemamfaatan lahan dan hasil-hasilnya, seperti berladang, menanam aneka tanaman padi dan tanaman jangka panjang seperti kelapa, jambu mete, pala, cengkeh, kakao, lada dan lain-lain.

Tanah dan isinya merupakan ruang ekspresi kultural orang Tolaki di Benua. Hal ini nampak dari berbagai praktek kebudayaan dan adat istiadat orang Tolaki Benua, meliputi bidang mata pencaharian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang paling pokok; penggunaan hasil alam seperti untuk penyelenggaraan perkawinan yang menggunakan tanah yang didalamnya terdapat rotan, sirih dan pinang sebagai mahar adat perkawinan. Sedangkan dalam nilai religius yakni berupa kepercayaan orang Tolaki yang menyakini, bahwa tanah dan segala isinya adalah karunia Tuhan Yanga Maha Esa yang diwujudkan dalam praktek kebudayaan seperti tradisi membuka lahan baru untuk meminta kepada pemilik tanah agar diberi kesuburan.
Praktik kebudayaan itu masih hidup hingga kini yang salah satunya adalah ritual Lulo Ngganda dan Ritual Mosehe Ndiolu.
Dalam konteks inilah Kolektif kerja Masyarakat Adat Tolaki Benua, Pemerintah Kecamatan Benua, Komunitas Ruruhi Project dan Walhi Sulawesi Tenggara menyelenggarakan Festival Benua bertemakan “ Save Our Culture” yang diselenggarakan pada 23 Desember 2018 di Desa Benua Utama, Kecamatan Benua, Kabupaten Konawe Selatan. Dalam Festival Benua 2017 ini dibagi 2 sesi kegiatan, yakni tanggal 1-4 Desember 2018 berupa kegiatan ritual Lulo Ngganda. Dan tanggal 23 Desember 2018 berupa kegiatan prosesi adat istiadat dan budaya berupa seni dan olah raga tradisional suku Tolaki. Pengunjung akan memperoleh pengetahuan tentang budaya Tolaki sebagai sebuah tradisi yang dapat mendapat referensi budaya local di Bumi Sulawesi Tenggara. Degan penyelenggaraan Festival Benua diharapkan dapat menjadi salah satu alat dalam merawat dan melestarikan budaya, adat istiadat dan kearifan lokal dan lingkungan hidup yang pada gilirannya akan mendorong terciptanya kemandirian ekonomi masyarakat melalui industri pariwisata di Kabupaten Konawe Selatan. SK

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pariwisata

To Top