Connect with us

Festival Benua “Save Our Culture” Tolaki

Pariwisata

Festival Benua “Save Our Culture” Tolaki

Festival Benua “Save Our Culture” Tolaki

Suarakendari.com-Berdasarkan studi etnografi, hampir semua suku bangsa di muka bumi ini meliputi daerah tropis atau daerah kutub, baik yang bermukim di pedalaman maupun di daerah-daerah pesisir, seluruh atau separuhnya menggantungkan diri pada sumber daya alam sekitarnya. Sumber daya alam merupakan salah satu sumber daya yang berfungsi sebagai basis ekonomi dan kultural (liebenstraum) bagi kelompok-kelompok suku bangsa tersebut. Karena itulah dalam kenyataanya ditemukan fakta dalam kebudayaan setiap suku bangsa selalu memiliki mitologi-mitologi, legenda , atau pun cerita-cerita rakyat yang berisikan atau mengisahkan tentang keterkaitan suatu suku bangsa dengan sumber daya alamnya.

Sarlan Adijaya, Antropolog dari Universitas Haluoleo menjelaskan, etnik tolaki merupakan salah satu suku bangsa yang memiliki keterkaitan yang sangat tinggi terhadap sumber daya alam khususnya hasil pertanian dan sumber pangan lokal lainnya. Hal ini sebagaimana dilukiskan dalam mitologi yang mengisahkan asal usul orang tolaki atas tanah. Mitologi seperti ini banyak terdapat pada kelompok suku bangsa lainnya yang menunjukkan karakteristik yang khas, seperti juga yang terdapat pada suku bangsa tolaki di Benua.

Bagi orang Tolaki, merawat budaya adalah merawat kehidupan yang merupakan berkah yang diberikan Sang Maha Pencipta kepada mereka. Tanah tidak hanya dipandang sebagai kumpulan gundukan tempat pepohonan dan tumbuh-tumbuhan lainnya tumbuh dalam sebuah kawasan. Tanah mengandung nilai yang sangat kompleks, meliputi ekonomi, nilai budaya, maupun nilai religi. Nilai ekonomi yakni hasil tanah memberi manfaat ekonomi bagi orang Tolaki untuk memenuhi kebutuhan subsistensinya melalui berbagai model pengelolaan dan pemamfaatan lahan dan hasil-hasilnya, seperti berladang, menanam aneka tanaman padi dan tanaman jangka panjang seperti kelapa, jambu mete, pala, cengkeh, kakao, lada dan lain-lain.

Nasruddin Bende, Ketua Lembaga Adat Tolaki, Kecamatan Benua, Kabupaten Selatan mengungkapkan, Tanah dan isinya merupakan ruang ekspresi kultural orang Tolaki di Benua. Hal ini nampak dari berbagai praktek kebudayaan dan adat istiadat orang Tolaki Benua, meliputi bidang mata pencaharian yang merupakan salah satu unsur kebudayaan yang paling pokok; penggunaan hasil alam seperti untuk penyelenggaraan perkawinan yang menggunakan tanah yang didalamnya terdapat rotan, sirih dan pinang sebagai mahar adat perkawinan. Sedangkan dalam nilai religius yakni berupa kepercayaan orang Tolaki yang menyakini, bahwa tanah dan segala isinya adalah karunia Tuhan Yanga Maha Esa yang diwujudkan dalam praktek kebudayaan seperti tradisi membuka lahan baru untuk meminta kepada pemilik tanah agar diberi kesuburan. Praktik kebudayaan itu masih hidup hingga kini yang salah satunya adalah ritual Lulo Ngganda dan Ritual Mosehe Ndiolu.
Tentang Lulo Ngganda

Lulo artinya goyang, Ngganda asal kata kanda. Lulo Ngganda artinya lulo yang diancang-ancang ke atas sambil mengikuti irama gendang. Lulo Ngganda menurut orang tolak khususnya di Kecamatan Benua sudah ada sejak dunia pertama sampai sekarang. Dunia pertama artinya, sebelum tenggelam dunia ini, yakni sebelum jaman Firaun. Lulo Ngganda semula adalah menggunakan gendang-gendang tanah, setelah ini adalah gendang yang dasarnya dari pelepah daun, sekarang adalah kayu yang namanya poli’o.

Lulongganda dilaksanakan setiap setahun sekali sebagai upacara pesta tahunan yaitu satu tahun berlalu dan memohon kepada Allah agar tahun berikutnya panen menghasilkan hasil yang lebih banyak. Dahulu lulongganda ada 7 macam, tapi dalam perjalanan waktu kini tinggal 5 macam, itu pun yang lazim dipakai di Benua tinggal 3 macam lulo, yakni pertama lulongganda Titiisu, kedua lolongganda kolialiangako, dan lulongganda polerusi. ada pun yang keempat, lulongganda watolengga dan lulongganda leseahoa sudah tidak digunakan karena sudah tidak ada yang tau.
Lulongganda Titiisu menurut orang Tolaki Benua adalah dewa padi, burung Titiisu adalah jenis burung puyu yang hidup di tengah-tengah padi saat musim padi hinbgga menjelang panen padi. Lulongganda kolialiangako artinya lulu saat membuka hutan dimana hutan lebat dengan kayu-kayu besar jadi kolialiangako adalah melewati kayu-kayu besar. Lulongganda polerusi artinya kalau kita bekerja keras maka kita akan mendapatkan hasil yang banyak.
Lulongganda dilakukan tiga malam, pertama malam ke 13 bulan di langit, atau orang tolaki menyebut tombaralenggea, malam kedua disebut matamolambu dan malam ke tiga adalah mataumehe. Setelah tiga malam ketiga dilakukan Lolongganda maka selanjutnya dilakukan Mosehe sebagai upacara syukuran atas hasil panen melimpah yang diperoleh tahun ini. Sekaligus membuang kesalahan yang kita perbuat di tahun-tahun yang silam dan tanaman yang tidak menguntungkan di tahun-tahun lalu kita ganti dengan tanaman baru.
Mosehe Ndiolu artinya mosehe dengan cara sederhana dengan menggunakan telur sebagai upacara doa kepada Allah agar mendapatkan hasil lebih baik di tahun-tahun berikutnya. Setelah acara mosehe selesai maka dilakukan acara kesenian dan olah raga sebagai bagian dari pesta syukuran yang dirayakan dengan kegembiraan.
Adapun urutan acara Festival Lulongganda terdiri:
Acara Ritual:
Lulo Ngganda
mosehe
Acara Seni:
lariangi
mewuwuho
meoreore wuku
meoreore nggowuna
moanggo
mekabia
metainango
mesongguru
melolama
Acara Olahraga:
cakalele/umoara
mekonda’u / pencaksilat
modinggu
mobiti
mehule
tumotadi
metinggo
Dalam konteks inilah Kolektif kerja Ruruhi Project, Walhi Sulawesi Tenggara dengan Pemerintah Kecamatan Benua, Kabupaten Konawe Selatan menyelenggarakan Festival Benua bertemakan “ Save Our Culture” yang diselenggarakan pada 1-24 Desember 2018 di Desa Benua Utama, Kecamatan Benua, Kabupaten Konawe Selatan. Dalam Festival Benua 2017 ini serangkaian kegiatan prosesi adat istiadat dan budaya berupa seni dan olah raga tradisional suku Tolaki. Pengunjung akan memperoleh pengetahuan tentang budaya Tolaki sebagai sebuah tradisi yang dapat mendapat referensi budaya local di Bumi Sulawesi Tenggara. Dengan penyelenggaraan Festival Benua diharapkan dapat menjadi salah satu alat dalam merawat dan melestarikan budaya, adat istiadat, kearifan lokal dan lingkungan hidup yang pada gilirannya akan mendorong terciptanya kemandirian ekonomi masyarakat melalui industri pariwisata di Kabupaten Konawe Selatan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pariwisata

To Top