Fakta di Balik Bisnis Air Kemasan

SUARA KENDARI.COM- Depot air minum isi ulang adalah salah satu bisnis yang sangat menjanjikan. Bagaimana tidak? Keuntungan yang diperoleh dari usaha ini bahkan bisa mencapai Rp 12 juta setiap bulannya. Namun, setiap usaha yang dilakoni setiap orang, selalu saja ada yang melakukannya dengan cara yang curang ada juga yang melakukannya sudah sesuai dengan standar.

Dibeberapa tempat pengisian air minum isi ulang, ditemukan ada saja pelaku-pelaku yang karena ingin memperoleh keuntungan yang lebih besar, mereka dengan sengaja tidak menggunakan alat yang di dalamnya terdapat sinar ultra violet (UV). Padahal, menurut standar untuk memperoleh air minum yang sehat, alat ini sangat diperlukan untuk membunuh bakteri-bakteri yang bisa menyebabkan penyakit diare dan disentri. Mereka melakukan itu, karena alat itu memakai listrik yang cukup besar, sehingga untuk meminimalisir biaya, makanya alat ini jarang digunakan oleh pengusaha-pengusaha galon.

Seperti yang dilakukan oleh AN (27), salah satu karyawan depot air minum isi ulang yang terletak di wilayah Kelurahan Mandonga. Dari pantauan tim investigasi, ia dengan sengaja tidak menekan saklar yang menghidupkan alat UV itu. Dengan terburu-burunya, AN mengambil galon yang masih melekat di atas sadel bundelan besi yang dibuatnya agar dapat membawa galon lebih banyak dan langsung mengisinya. Mengapa galon itu tidak dicuci, padahal belum tentu galonnya bersih ? Dengan cekatan, satu persatu galon dinaikan ke atas motor dan bergegas pergi menuju ke arah jalan Syeck Yusuf.

Jika faktanya seperti yang ditemukan itu, masyarakat mesti berhati-hati dalam mengkonsunsi air munim isi ulang. Pasalnya, beberapa depot tidak mengikuti standar kelayakan usaha ini. Seperti, alat yang digunakan harus berkualitas. Filternya pun harus disesuaikan dengan bahan baku yang digunakan.

Dinas Kesehatan Kota Kendari, sebagai instansi yang melakukan pengawasan dan pemeriksaan kualitas air yang digunakan oleh pengusaha depot air minum isi ulang, setiap tiga bulannya akan mengunjungi seluruh depot untuk memantau bahan baku yang digunakan.

Kepala Seksi Bina P2PL Dinas Kesehatan Kota Kendari, Erny SKM, Mkes, mengatakan, dalam memulai usaha tersebut, para pelaku usaha mendatangi Dinkes untuk mengurus surat layak sehat. Setelah mengisi formulir, petugas P2PL akan turun ke lokasi untuk mengambil sampel air kemudian dibawa ke laboratorium.

“Ketika hasil laboratoriumnya keluar, dan sama sekali tidak ditemukan bakteri ekoli, maka Dinkes akan mengeluarkan layak sehat pada usaha tersebut. Namun hal itu tidak berhenti disitu saja. Tiap tiga bulannya, petugas kami akan mengecek kembali depot-depot galon itu, jangan sampai sudah ada bakteri yang ada di dalamnya,” ungkap Erny.

Ia juga mengatakan, ada beberapa pemilik depot air minum isi ulang ini, beroperasi sambil menunggu hasil layak sehat dari Dinkes Kota Kendari. Jika harus mengikuti prosedur, hal itu jelas pelanggaran. Namun, karena si pengusahanya yang tidak perduli, Dinkes Kota Kendari juga tidak bisa berkata apa-apa.

Terkait bahan baku air yang digunakan, baik air yang diperoleh dari PDAM atau didapatkan dari sumur bor, tidak akan mempengaruhi standar pemeriksaan dari Dinkes. Karena, uji kelayakan yang dilakukan adalah pada bahan baku air yang digunakan dan air yang siap dikonsumsi oleh masyarakat. Selain itu, dalam mengeluarkan layak sehat dari depot air minum isi ulang, Dinkes Kota Kendari hanya melakukan uji ke bahan bakunya saja, sedangkan fasilitasnya tidak menjadi penialian.

“Beberapa depot isi ulang dalam memfilter air yang dijualnya, bahan yang digunakan yakni RO. Memang juga, agar mesin yang dimiliki oleh depot ini awet, maka bahan baku air yang digunakan baiknya air yang diperoleh dari PDAM. Pasalnya, air itu sudah dilakukan penyaringan terlebih dahulu. Sehingga, kadar kapur lebih kecil dibanding jika menggunakan air dari sumur bor,” jelas Erny.

Jika mengikuti prosedur standar kesehatan dari depot isi ulang air mineral ini, wadahnya (galon), di isi ketika masyarakat datang ke tempat itu. Jika terlebih dahulu dilakukan pengisian, akan terindikasi adanya bakteri Ekoli didalamnya. Apalagi kalau galon tersebut sudah seminggu berada di Depot. Hal ini juga, menghindari perilaku nakal dari karyawan depot isi ulang air mineral yang ingin pekerjaannya cepat selesai, namun tidak memperhatikan kehigienisan dari kemasan itu. SK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *