Connect with us

Edisi Kendari Undercover (3)

Investigasi

Edisi Kendari Undercover (3)

Mumbul Gaya  Anak Muda Kendari

KENDARI, SUARA KENDARI-Istilah mumbul atau mabuk murah, telah menjadi trend tersendiri bagi segelintir remaja di Kota Kendari yang ingin mabuk namun tidak sampai harus mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah. Cukup dengan kurang lebih Rp 50.000, bersama dengan tujuh orang teman, kita akan mendapatkan efek ‘fly’ dengan reaksi yang hampir tidak jauh berbeda dengan orang yang menggunakan Narkotika, bahkan lebih. Mumbul itu sendiri sebenarnya merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan obat-obatan atau produk tertentu yang dapat memberikan efek tenang dan membuat pemakainya serasa melayang-layang.

Seperti yang dilakukan oleh Selfi (nama yang diperkenalkannya kepada Suara Kendari) bersama dengan rekannya Ita, disalah satu rumah yang terletak di Kelurahan Mandonga.

Dengan menggunakan potongan celana dari bahan jeans yang cukup pendek, serta dada yang hanya ditutup dengan rajutan benang yang masih bisa menampakan warna yang ada di dalamnya, keduanya duduk manis di kursi sofa ruang depan rumah RD (inisial), salah satu rekan yang memberikan informasi kalau teman-teman wanitanya sering mumbul. Untuk membuktikannya, makanya Suara Kendari ngotot agar dipertemukan dengan kedua dara yang usianya tergolong masih muda yakni 19 tahun itu.

“Kalian mau minum apa?” RD (21) mempersilahkan kepada kedua tamunya sambil mencolek Suara kendari seraya ingin menunjukan keindahan dunia yang ada pada kedua gadis tersebut. “Teh Kotak, kalau teman saya ini cocacola saja. Yang dingin,” jawab selfi dengan nada yang sedikit cempreng sambil memperbaiki posisi duduknya, mencari kenyamanan suasana ruangan yang sedikit panas karena jarak kanopi rumah itu hanya 3 meter, apalagi waktu itu jam di dinding ruang tamu masih menunjukan pukul 14.23 Wita.

Setelah minuman dingin yang dipesan datang, Selfi mendekatkan bibirnya ke telinga Ita, entah apa yang mereka bicarakan. Ita hanya menganggukan kepalanya seolah berkata ‘iya’ kepada Selfi. Dengan senyuman tipis yang dilemparkan kepada Ita, Selfi kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas berbahan kulit berwarna coklat.

RD kemudian mencolek Suara Kendari lagi, seperti memberitahukan kalau yang diambilnya itu adalah mumbul, dan tenyata benar. Kemasan obat yang terlihat agak kusut karena lipatan, dibuka oleh Selfi dan dibaginya ke Ita. Sambil melemparkan senyum bersahabat, Selfi kemudian menegak obat itu yang jumlahnya lumayan banyak, 7 butir. “Biar enjoy bang. RD tidak mau pakai? Tapi tinggal 3. Mau?” dengan aksen Betawinya yang cukup terasah agar terlihat bahwa keduanya dari Jakarta, padahal Keduanya berasal dari Pudai, daerah yang terletak di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, ditawarkannya butiran-butiran kecil yang digemgam dengan tangan kanannya.

Beberapa menit kemudian, keduanya terlihat mulai berbicara ngawur sambil cengar-cengir sendiri walaupun  saat itu tidak ada yang mesti ditertawakan. Dengan mata terlihat sayup bak lampu yang sedikit lagi redup, mereka akhirnya larut dalam suasana mereka sendiri.

Peradaran mumbul ini, ternyata tidak hanya terjadi dilingkungan masyarakat saja. Parahnya, kebanyakan para pemakai mereka yang tergolong masih sangat belia. Dari pengakuan seorang pelajar yang masih duduk di bangku kelas 2 di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Kendari, Sasa (nama samaran) mengungkapkan bahwa, sejak 6 bulan terkahir ini di sekolah tempat dia menuntut ilmu, sudah beredar mumbul. Jenis obatnya pun bermacam-macam, mulai dari tramadol sampai dekstro. Pengedarnya pun dari kalangan pelajar di SMK itu sendiri, bahkan yang lebih mencengangkan lagi, para pengguna obat ini adalah pelajar siswi.

“Disekolah saya saja, banyak pengedar mumbul ini. Dan kebanyakan yang sering memesan, mereka para siswi kelas dua. Tidak tahu, apakah barang itu (mumbul,red) mau digunakan hanya untuk mabuk saja, atau digunakan dalam waktu yang berbeda,” ujar Sasa.

Dari pengakuannya juga, dirinya pernah mengkonsumsi mumbul jenis tramadol meskipun hanya 1 butir saja. Namun, tidak memberikan reaksi, sehingga dia pun menambah dosisnya menjadi sepuluh butir. Alhasil, efek fly dari obat itu pun didapatkannya.

“Dari sepengatahuan saya, obat ini beredar di sekolah karena dibawa oleh orang yang inisialnya AN. Dia ini satu kelas saya. Transaksi yang dilakukan tergolong seperti mafia, secara sembunyi-sembunyi. Dia pun mendapatkan barang itu dari temannya dari luar, istilahnya peluncur,” ungkapnya.

Dari informasi yang didapatkan dari Sasa, Suara Kendari kemudian mengambil keputusan untuk membututi aktifitas dari AN. Alhasil, warga Kelurahan Tobuuha, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari itu, terlihat keluar dari pintu rumahnya yang terbuat dari Jati lokal dengan ukiran sederhana, menuju ke arah mandonga. Ternyata, AN memperoleh barang tersebut (mumbul,red) dari seseorang yang berdomisili di jalan Samratulangi Kelurahan Mandonga. Yang lebih mengherankan lagi, transaksi yang terjadi bukan di apotek, namun di tempat yang tidak sewajarnya obat yang fungsinya untuk menyembuhkan berada di tempat service Jam tangan di wilayah itu.

Tidak banyak orang yang dengan cepat menyadari bahwa, dengan mengkonsumsi obat ini secara berlebihan, akan memberikan efek yang dapat menghancurkan fungsi hati itu sendiri. Bukan hanya itu saja, jika dosis yang di masukan ke dalam tubuh sudah melebihi sistem kekebalan tubuh, maka penyebab yang paling mengerikan yakni kematian.

Seperti pengakuan yang diperoleh dari salah seorang mantan pengguna yang kini mengisi live musik di salah satu tempat nongkrong di Kota Kendari, istilah mumbul, mulai dikenal dikalangan ABG Kota Kendari, pada tahun 2011. Sebelumnya, mereka hanya menyebutkan mindex untuk istilah mabuk murah dengan menggunakan golongan stimulan sistem saraf pusat, contohnya dekstroamfetamin.

Untuk dirinya sendiri, DI (inisial) (37) mengakui, menggunakan dekstroamfetamin hanya untuk menghilangkan dahak yang ada di tenggorokannya saat dia masih berprofesi sebagai pengamen jalanan. Dengan menegak 40 sampai 120 butir, efek fly dari obat itu sudah bereaksi.

“Awalnya saya tidak tahu, kalau minuman beralkohol yang dibeli oleh teman sudah dicampur dengan dekstro. Setelah kami selesai minum, pikiran sudah dibawah sadar. Kondisinya seperti orang yang gila. Walaupun hal yang tidak begitu lucu, namun penglihatan kita sangat lucu,” jelasnya.

Ia mengakui, untuk mendapatkan obat itu tergolong sangat mudah selain itu harganya sangat terjangkau. Hanya dengan membawa Rp 10.000 ke salah satu apotek yang terletak di jalan Lasandara, Kelurahan Mandonga, ia sudah mendapatkan obat dengan jumlah 100 butir.

Dekstroamfetamin yang sering saya gunakan kemasannya menggunakan plastik bening. Namun, kalau ingin mendapatkan efek yang lebih asik lagi, bagusnya itu belinya yang dikemas seperti obat generik. Hanya saja harganya sedikit lebih mahal yakni Rp 5.000 per sepuluh butir,” ungkapnya.

Untuk jenis somadryl dan tramadol, DI mengatakan belum pernah menggunakan jenis yang seperti itu. Pasalnya, ayah satu anak dari hasil pernikahannya yang pertama ini, keburu insaf.

“Saya hampir menghembuskan nafas terakhir saat itu. Bagaimana tidak? Ternyata obat ini, sangat tidak cocok dengan minuman beralkohol jenis ciu. Sebelumnya, saya sudah minum 110 butir saat teman yang bekerja di kapal memberikan minuman jenis mension yang isinya ciu, tanpa pikir panjang saya langsung minum saja. Namun, beberapa menit kemudian saya mulai merasakan badan ini terasa kaku dan dingin. Teman perempuan yang berasam dengan saya saat itu langsung mengambil inisiatif memanjat pohon kelapa dan meminumkannya kepada saya,” katanya sambil memperbaiki kacamata yang dikenakan dibagian kepalanya.

Sejak saat itu, dia memutuskan tidak akan menyentuh lagi obat yang hampir saja membuat statusnya menjadi almarhum.

Lemah Pengawasan

Kepala Seksi Pemberdayaan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari, Nur Adnan Aga SKM Mkes, mengatakan, berkaitan dengan penyalahguna obat, pihaknya tetap akan melakukan rehabilitasi jika yang bersangkutan mempunyai niat untuk berobat. Tetapi, jika ingin melakukan pemberantasan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena untuk kasus tersebut yang mempunyai wewenang adalah pihak kesehatan dan Bada Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM).

“Untuk dampak yang ditimbulkan, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jenis narkoba lainnya, sehingga kalau ada orang yang mau direhabilitasi, maka kami akan memberikan fasilitas tersebut. Karena, BNN sendiri lebih fokus ke Narkotikanya,” jelasnya saat berbicara via telepon, akhir pekan lalu.

Ia juga mengatakan, saat ini pihak kepolisian hanya memberikan sanksi kepada pengedar. Pasalnya, hal yang dilakukan tersebut menyalahi aturan peredaran obat, yang semestinya legal karena pihak apotek mempunyai izin, dibuat ilegal oleh oknum-oknum yang sengaja mencari keuntungan di bisnis ini.

“Kalau ingin menekan peredaran obat ini, harus ada komitmen yang dibangun oleh masing-masing institusi yang terkait. Baik dari aspek regulasi, maupun pengawasan yang ketat dari pihak kepolisian dan BPOM,” terangnya.

Untuk indikasi ada permainan yang dilakukan oleh pihak-pihak apoteker, pihaknya tidak bisa memberikan statement yang lebih jauh seperti itu karena BNN sendiri belum pernah melakukan penelitian yang lebih mendalam terkait kasus tersebut. Namun diakui, para penyalahguna obat ini sangatlah pandai. 1001 cara akan dilakukan agar mereka memperoleh mumbul ini.

Sementara, Kasubdit I Dit Narkoba Polda Sultra, AKBP Pambudi Sik, juga mengatakan, peredaran obat ini sepenuhnya kewenangan Dinas Kesehatan serta BPOM, karena keduanya lebih mengetahui proses peredaran obat ini.

“Para pengedar maupun penggunanya hanya dikenakan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Tapi, yang diberikan hanya sanksi adminstrasi saja berupa denda,” jelasnya.

Lebih lanjut, Pambudi mengatakan, pihaknya hanya melakukan pengawasan saja. Selain itu, ketika mendapat kasus yang seperti itu, kepolisian juga memberikan sedikit wejangan tentang dampak yang ditimbulkan oleh obat ini bagi kesehatana, kepada para penyalahguna yang kedapatan membawa ataupun mengkonsumsi. (MIN/MAN)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Investigasi

To Top