DPS Tidak Rasional KPU Diminta Klarifikasi

0

KENDARI – Di dalam Pemilihan Umum (Pemilu), daftar pemilih selalu saja dipermasalahkan baik dari pesertanya maupun dari pengawas pemilu. Jika bukan menyoal tentang tingkat keakurasian data itu ataupun tidak rasionalnya penyelenggara dalam menentukan jumlah pemilih di salah satu daerah.

Mengacu pada migrasi, pemilih pemula, serta angka kelahiran dan kematian, untuk menentukan peningkatan jumlah pemilih di satu daerah, hal itu sama sekali sangat tidak rasional dengan data yang dipublish/diberikan ke Panwas oleh KPU di tujuh daerah di Sulawesi Tenggara.

Seperti di Kabupaten Konawe Selatan. Dari data yang diperoleh di Bawaslu Sultra, jumlah Daftar Pemilih Sementara (DPS) untuk Konsel adalah 216,217. Jika mengacu pada jumlah DPT Pilpres pada tahun 2014 yang hanya kurang lebih 195 ribu, maka hal itu sangat tidak rasional.

“Kemarin DP4nya sampai kurang lebih 235 ribu. Dalam waktu satu tahun, sangat tidak masuk akal jumlah pemilihnya melonjak sampai 35 ribu. Setelah kita rekomendasikan untuk dilakukan perbaikan, diperoleh jumlah DPSnya 216,217. Ini juga masih tetap tidka masuk akal. Ketika disingkronkan lagi dengan DPT Pilpres tahun 2014, sangata tidak rasional bisa meningkat sampai kurang lebih 16-17 ribu pemilih begitu,” terang Divisi Pencegahan Bawaslu Sultra, Munsir Salam, saat ditemui di kantornya, Kamis (17/9).

Makanya, hasil coklit (pencocokan dan penelitian) dari PPS di lapangan yang menunjukkan sangat tidak rasional, akan dilakukan klarifikasi oleh Panwas. Hasilnya nanti, Panwas berharap KPU akan kembali mempublishnya sebab itu merupakan informasi yang harus diketahui oleh masyarakat.

Senada dengan itu, Panwas Konsel, Hajaruddin, saat dikonfirmasi via selulernya, Kamis (17/9) mengatakan, pihaknya telah melakukan klarifikasi belum lama ini. Hasilnya, seperti di Kecamatan Laonti ketika disingkronkan lagi dengan DPT Pilpres tahun 2014, maka peningkatannya sampai kurang lebih 1000 pemilih.

“Setelah mendapatkan softcopy dari KPU Konsel, Panwas kemudian melakukan coklit karena tidak percaya kok sampai banyak begitu. Dari temuan kami dilapangan, Ranomeeto meningkat sampai kurang lebih 2800 pemilih. Di Laonti juga ada satu desa yang sudah kurang 100 orang yang telah berkurang,” paparnya.

Yang menjadi persoalan lainnya, lanjut Hajaruddin, adalah portal sidalih (Sistem Data Pemilih) yang nantinya akan digunakan oleh KPU untuk melihat data pemilih ganda. Sedangkan hingga saat ini, sistem tersebut belum bisa diakses oleh KPU. (Arn)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.