Connect with us

Digaji Rendah, Puluhan Pekerja Tambang Seruduk Kantornya

Uncategorized

Digaji Rendah, Puluhan Pekerja Tambang Seruduk Kantornya

KOLAKA,SUARAKENDARI.Com- Puluhan karyawan PT. Dewi Jaya yang berada di
Kecamatan Pomalaa menuntut agar perusahaan memberikan gaji kepada mereka sesuai dengan upah minimum kabupaten (UMK). Tuntutan tersebut mereka sampaikan di depan kantor PT Dewi Jaya , Kamis (6/2). PT Dewi Jaya sendiri merupakan mitra PT Aneka Tambang (Antam) UBPN Sultra dan melaksanakan berbagai proyek di perusahaan tersebut.

Mereka sempat melakukan mogok kerja sebagai aksi protes terhadap kebijakan
perusahaan. Sunardi, pekerja PT. Dewi Jaya mengaku jika perusahaan
sebelumnya berjanji untuk memberikan gaji sesuai UMK sebesar Rp 1,7 juta
kepada karyawan setiap bulannya. Kenyataannya, perusahaan tersebut malah menggaji karyawan di bawah upah minimum “Saat karyawan terima, ada yang dapat gaji hanya Rp 1,1 juta, Rp 1,2 juta, Rp 1,3 juta dan Rp 1,4 juta.
Padahal, perjanjian awalnya kan Rp 1,7 juta. Makanya, kami menuntut agar
perusahaan membayar kami sesuai dengan UMK,” tuntutnya.

Dia mengaku, terdapat 80 orang pekerja PT. Dewi Jaya yang mendapatkan upah
di bawah UMK. Untuk itu, mereka menuntut supaya perusahaan memberikan upah
sesuai dengan UMK. Menurutnya, meski perjanjian perusahaan ketika itu
tidak dilakukan secara tertulis, namun PT. Dewi Jaya pernah menyatakan
secara lisan jika gaji karyawan setiap bulannya Rp 1,7 juta. “Jadi apa yang
diberikan perusahaan kepada kami tidak sesuai dengan perjanjian. Saya
protes itu dan kami merasa dirugikan. Kami kan baru satu bulan kerja di PT.
Dewi Jaya. Pada akhir bulan, saya hanya dapat gaji Rp 1,3 juta. Ini sama
sekali tidak sesuai dengan UMK,” ungkitnya.

Karyawan lainnya, Jumran mengaku tidak terima dengan kebijakan perusahaan
yang memberikan upah di bawah UMK. Saat gajian, dirinya hanya mendapatkan
gaji sekira Rp 1, 2 juta. Harusnya, jumlah yang ia terima sebanyak Rp 1,7
juta. “Ini yang kita protes karena sudah ada perjanjian lebih awal bahwa
gaji sesuai UMK,” kesalnya.

Saat menyampaikan tuntutan mereka, para pekerja dimediasi oleh perwakilan
PT Antam UBPN Sultra Subarwan. Subarwan meminta kepada para pekerja untuk tetap melanjutkan pekerjaan mereka.
PT Antam UBPN Sultra, kata dia, akan mengawal apa yang menjadi aspirasi
puluhan pekerja tersebut. Menurutnya, apabila terjadi kekeliruan dalam
pembayaran gaji pekerja maka mereka akan memerintahkan pihak perusahaan
untuk melakukan pengembalian.

“Jadi kita akan selesaikan semua keinginan teman-teman satu minggu ke
depan,” ucapnya.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, puluhan karyawan langsung melanjutkan pekerjaan mereka. Kepala Jasa Pertambangan PT Dewi Jaya, Syawaluddin Samai menyatakan, persoalan tersebut sebenarnya merupakan bentuk kesalahpahaman saja. Selama ini, katanya, para pekerja memahami jika pekerjaan mereka adalah labour suplay.

Padahal, sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2014, pekerja tersebut sudah
masuk dalam jasa borongan.
Dalam jasa borongan, kata dia, tidak ada aturan yang menyatakan bahwa
pemberian UMK kepada karyawan, wajib dilakukan. “Memang berlaku. Tetapi,
mereka dihitung hasil kerjanya per hari karena ini jasa borongan. Kalau
labour suplay kan sudah dipatok memang gajinya per bulan,” jelasnya.

Selama ini, kata dia, pihaknya tidak menyampaikan kepada karyawan bahwa
gaji mereka sesuai dengan jasa borongan . Soalnya, PT Dewi Jaya juga masih menunggu kontrak dari PT Antam UBPN Sultra. “Kontrak di Antam itu baru kami terima tadi (Kamis, red). Dan memang kontrak di Antam adalah jasa borongan. Cuma tenaga kerja belum pahami. Yang mereka tahu selama ini bahwa mereka masih labour suplay,” tuturnya.

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top