Connect with us

Desa Wisata Namu di Mata Wisatawan Mancanegara

Daerah

Desa Wisata Namu di Mata Wisatawan Mancanegara

Desa Wisata Namu di Mata Wisatawan Mancanegara

Jo McRae saat berkunjung di Desa Wisata Namu, Desember 2016. foto: Dhenny Lahundape

Jo MacRae berfose bersama Kepala Desa Namu, Yuddin. foto: blog pribadi (http://indonesanexperience.blogspot.co.id).

Suarakendari.com-Keindahan dan kemolekan Desa Wisata Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara memiliki arti tersendiri bagi Jo McRae seorang wisatawan sekaligus peneliti budaya asal  Australia. Baginya, Desa Namu memiliki kemiripan dengan daerah wisata di Senggigi, Lombok dengan panorama pantai yang indah serta deretan pohon kelapa yang menjorok ke laut.

“Saya berharap pariwisata dan pembangunan tidak diperbolehkan untuk menghancurkan suasana Desa Namu,”kata Jo McRae.

Perjalanan Jo McRae ke Desa Namu pada medio Desember 2016 silam, tak sekedar untuk menikmati pariwisata tetapi lebih dari itu dalam rangka menyelami kehidupan masyarakat desa Namu yang mayoritas beretnis Tolaki. Joe mencoba berinteraksi dengan warga setempat, menggali sejarah budaya dan peradaban masyarakat serta mencermati aktifitas kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Bagi Jo penerimaan masyarakat terhadap orang luar menjadi modal besar untuk mendorong pariwisata desa. “Mereka sangat ramah kepada orang yang datang, bahkan melayani dengan baik setiap tamu yang hadir di desa. ini modal bagi masyarakat Namu untuk memajukan pariwisata desa,”katanya. Perempuan parubaya itu juga menaruh simpati pada sikap anak-anak di Namu yang cukup baik dan dengan setia menemaninya dalam mengunjungi setiap lokasi wisata di Desa Namu.
.
“Fitur utama dari setiap kehidupan desa adalah anak-anak. Tentu saja mereka pemalu tapi tidak takut, karena banyak anak-anak yang saya temui di Indonesia yang menemukan wajah putih saya mereka menjadi aneh melihat saya,”tulis Jo di boq pribadinya (http://indonesanexperience.blogspot.co.id).

Jo McRae menyayangkan ada banyak kerusakan pada lingkungan laut Namu, terutama kerusakan pada terumbu karang yang diakibatkan oleh pratik ilegal fishing seperti pemboman dan pembiusan terumbu karang sebagai jalan pintas mendapatkan ikan. Ia berharap masyarakat dapat menjaga lingkungan laut mereka, sebab dengan menjaga terumbu karang, warga telah turut menyumbang pada pelestarian lingkungan laut sekaligus mengamankan persediaan ikan mereka, mengingat terumbu karang merupakan rumah bagi biota laut seperti ikan dan kerang.

Data yang dirilis tim Ruruhi Project, komunitas penggiat lingkungan dan pariwisata yang kini bekerja sosial di Desa Namu, sejumlah obyek wisata terdapat di Namu, diantaranya, pantai pasir putih yang berjumlah delapan lokasi. Garis pantai mencapai tiga kilo meter ini terletak di empat dusun dengan letak yang terpisah. Namun yang paling indah pantai yang berada di dusun oloa yang panjang garis pantainya mencapai satu kilometer. Masih di dusun Oloa, pasir putih yang terletak dekat dermaga panjang di sisi selatan menjadi daya tarik tersendiri. Saat air pasang, pasir putih akan tenggelam sehingga cocok untuk lokasi snorkeling, dan saat air surut pasir panjang yang membentang luas tersebut dapat digunakan untuk berjemur serta arena olah raga sepakbola atau bola voly pantai. Pemandangan pantai Namu akan semakin elok saat diketinggian, nah pengelola wisata menyediakan spot khusus di kiri kanan bukit lengkap dengan dek selfie buat pengunjung.

Di lokasi yang tak jauh dari pasir panjang, pengunjung disuguhkan dengan keindahan hamparan bebatuan alam berwana hitam pekat (black stone) mirip di wilayah uluwatu Bali dan sangat cocok untuk lokasi pemotretan. Hamparan batu hitam ini terhubung dengan kawasan tanjung dengan bebatuan berwarna merah (red stone). Kedua sisi hamparan batu hitam dan batu merah terdapat kumpulan pepohonan mangrove dan cemara laut yang indah. Di tanjung pantai ini kita akan menyaknsikan keindahan laut di wilayah dusun tiga dan dusun empat Desa Namu serta kawasan pemukiman penduduk. Di wilayah tanjung ini, alam bawah lautnya cocok menjadi lokasi penyelaman atau diving, sebab, hasil explorasi tim penyelam menemukan kondisi terumbu karang yang masih alami, mirip alam bawah laut Wakatobi. Kondisi karang yang masih membaik ini juga ditandai dengan banyaknya nelayan yang mencari ikan di sekitar kawasan tersebut. Dengan demikian lokasi bawah laut Namu sangat cocok menjadi spot wisata selam untuk para penggiat diving.

Di belakang desa terdapat danau biru yang airnya bersumber dari air pegunungan Namu. Masih soal sumber air, sekitar 1 kilometer tepatnya di punggung bukit desa terdapat lokasi wisata air terjun setinggi 12 meter, mirip air terjun Moramo yang berundag-undag. Airnya tidak pernah kering meski di musim kemarau. Hutan alam nan lebat yang masih terjaga kelestariannya dipercaya menjadi penjaga ketersediaan air di wilayah Namu.

Kelestarian hutan Namu ini membawa berkah pada kehidupan flora dan pauna di kawasan hutan Namu. Terbukti, aneka satwa dilindungi masih sering dijumpai di kawasan ini, seperti binatang jenis rusa, anoa,kera hitam Sulawesi, rangkong rimba, elang sulawesi, penyu, hingga babi hutan. Begitu juga aneka flora endemik yang tumbuh subur di hutan Namu, diantaranya anggrek macan (tiger) corak kuning yang sangat langka. Dalam kamus bunga Indonesia, Anggrek macan merupakan flora dilindungi.

Untuk menjangkau Desa Wisata Namu, dapat dilalui melalui dua rute perjalanan; Pertama, melalui rute darat Kota Kendari menuju Kecamatan Moramo, Kecamatan Kolono dan berakhir di Pelabuhan Rakyat Desa Langgapulu, Kecamatan Kolono Timur. Di Desa Langgapulu wisatawan kemudian mengambil kapal /perahu (ada banyak pilihan angkutan laut) untuk selanjutnya menuju Desa Wisata Namu. Jarak tempuh perjalanan dari Kota Kendari ke Desa Wisata Namu selama 3 jam perjalanan. Kedua, menggunakan rute laut yakni, berangkat dari pelabuhan rakyat Kendari (Depan Pasar Sentral Kota Kendari) dengan mengunakan kapal penumpang Laonti menuju ibukota Kecamatan Laonti selanjutnya ke Desa Wisata Namu dengan jarak tempuh kurang lebih 4 jam perjanan. Desa Namu juga cukup mudah diakses dari ibu kota Kabupaten Konawe Selatan yang berada di sisi Utara desa dengan jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan. YOS

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Daerah

To Top