Connect with us

Denyut Kehidupan di Sampela

Suara Lingkungan

Denyut Kehidupan di Sampela

 

WAKATOBI, SUARAKENDARI.Com-Karakteristik wilayah Kepulauan Wakatobi memang menyimpan berbagai  keunikan. Salah satunya kampung bajo sampela. Di daerah ini kita dapat menyaksikan aktifitas sehari-hari masyarakat suku bajo yang masih sangat tradisional.

 Kampung Bajo Sampela berada dalam wilayah administrasi  Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa ,  merupakan potret kecil dari sekian banyak  kampung-kampung orang bajo di wilayah Kabupaten Wakatobi. 

 Di kampung Bajo Sampela yang terletak di sebelah timur wilayah Kecamatan Kaledupa ini, dapat disaksikan aktifitas sehari-hari masyarakat suku bajo yang masih sangat tradisional.

 Saat memasuki kampung, kita akan disuguhi denyut kehidupan di atas laut. Menyusuri gang-gang berupa jembatan kayu yang membentang panjang. Dari atas jembatan kita dapat melihat anak-anak bajo berperahu dan bermain di laut.

 Rumah suku bajo, umumnya beratap rumbia. Dindingnya terbuat dari papan kayu dan kombinasi anyaman bambu.

 Mereka bertahan  dengan tradisi, seperti memasak di bawah kolong rumah bersama anak-anak mereka. 

 

Salah satu masakan pavorit orang bajo adalah jenis keang-kerangan yang mereka sebut raci. Memang menu laut paforit yang kerap disantap masyarakat bajo sampela. Pengolahan kerang raci  menjadi makanan jadi membutuhkan waktu tak sedikit.

 Kerang raci dimasak sekitar dua jam lamanya sesudah  itu di diangkat dan isinya dikeluarkan dari tubuh  kerang. Lalu isi kerang dimasak lagi dicambur aneka bumbu.

 Raci biasanya dijadikan menu santap siang. Bagi orang  bajo raci paling enak di makan dicampur dengan kasuami  atau ubi kayu yang dikukus dan dibentuk menyerupai tumpeng.

 ”Enak dan nikmat kata Bahar, warga bajo sampela,”kayamya.

 Tak hanya urusan masak,  saat beristrahat pun orang bajo lebih senang berada di kolom rumah sambil menikmati angin laut yang menerpa.

 Suku bajo atau bajau banyak berdiam di perairan sulawesi dan kepulauan sekitarnya. Populasi bajo sesungguhnya menyebar dari kepulauan filipina dan laut cina selatan, kalimantan hingga pulau-pulau sunda. Dulu nenek moyang bajo juga dikenal sebagai manusia perahu. Kini suku bajo mendiami “negeri di atas karang”.

 Sebutan bajo, sebenarnya dipakai untuk orang-orang yang menggunakan perahu sebagai tempat tinggal. Konon mereka berasal dari laut cina selatan. Itulah sebabnya mereka digolongkan suku laut nomaden. Namun, saat ini, suku bajo yang masih tinggal di atas perahu sudah berkurang. sebagian besar menetap, walaupun masih di atas laut.

 Permukiman suku bajo memang cukup banyak di sekitar pulau sulawesi. antara lain perairan manado, kendari, kepulauan togian, selat tiworo, teluk bone, perairan makassar dan kepulauan wakatobi. meskipun tersebar berjauhan, mereka masih menjalin hubungan kekerabatan.

 Beberapa peneliti tertarik melakukan penelitian terhadap suku bajo. Salah satu peneliti suku bajo adalah Chris Majors, antropolog berkebangsaan amerika yang telah sepuluh tahun meneliti seluk beluk etnis bajo.

Chris majors mengaku, ada keyakinan masyarakat bajo  akan adanya  Umbo Madilao yaitu nenek moyang suku bajo yang  bermukim di laut dan senantiasa menjaga keberlangsungan hidup mereka. Keyakinan inilah yang merujuk aktivitas mereka dilaut termasuk bila menggunakan bom ikan atau pengrusakan lainnya.

 Menurut Chris, masyarakat bajo yang menggunakan bahasa boang sama untuk mewujudkannya membutuhkan waktu yang sangat lama mengingat keterbelakangan pola pikir yang dimiliki. sehingga butuh waktu mengajak orang bajo belajar koservasi.

 Sayangnya,  untuk urusan kesehatan, orang bajo masih jauh dari sentuhan peralatan kesehatan. Ini mengandalkan kepercayaan akan kekuatan dukun yang disebut sandro  yakni  orang  yang dipercayakan menyembuhkan penyakit-penyakit yang diwujudkan dalam 5 macam upacara. Disesuaikan dengan tingkat  penyakit yang diderita mulai ringan hingga berat. Selain itu penamaan waktu berkunjung disesuaikan dengan lama kunjungan.   Bila berangkat pagi hingga siang hari  disebut pallilibu, pergi selama seminggu disebut pongka, sebulan disebut sakkai  dan kunjungan tahunan disebut lama.

 Menurut keragaman budaya dalam suku bajo dapat terjaga melalui pendekatan humanity, yakni sosialisasi pemahaman tanpa  merusak keyakinan ataupun kebudayaan yang telah mereka anut.

 Berbagai permasalahan tak lepas dari kehidupan bajo/ yang kadang berimbas pada perilaku mereka. Masalah  pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat bajo menjadi  masalah pelik. Hasil penelitian Yayasan Bajo Matila, selama ini masyarakat bajo  benar-benar tak mendapat  perhatian oleh pemerintah. Apalagi kurikulum sekolah  yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan hidup orang  bajo. JS

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Suara Lingkungan

To Top