Connect with us

Cerita Sukses Pemkot Kelola TPAS Puwatu

Metro

Cerita Sukses Pemkot Kelola TPAS Puwatu

Cerita Sukses Pemkot Kelola TPAS Puwatu

SUARAKENDARI.com-Sejak tahun 2002 hingga 2007, pengelolaan TPA Puwatu menggunakan sistem open dumping atau menumpuk sampah tanpa pemrosesan. Tahun 2008, keluar Undang-Undang Persampahan Nomor 18 yang melarang sistem tersebut. Pemerintah kota kemudian memakai sistem lahan urug kendali atau control landfill .
Tahun berikutnya, mereka memanfaatkan gas metan dengan pemasangan ventilasi gas secara sederhana. Setelah beberapa kali studi banding dan peningkatan kapasitas aparat dinas kebersihan yang difasilitasi Kementerian Pekerjaan Umum, tahun 2011 dimulai uji coba pemanfaatan gas metan sebagai sumber energiterbarukan. Hasilnya
dimanfaatkan untuk kebutuhan khusus di TPA.

Tahun 2013, Dinas Kebersihan mendapat alokasi dana Rp 150 juta untuk menambah kapasitas mesin pembangkit listrik dan pemasangan instalasi perpipaan untuk kebutuhan warga di kampung mandiri energi.

Luas kawasan TPA Puwatu 18 ha dengan topografi bukit dan lembah serta berada pada ketinggian 300 meter dari permukaan laut. Kawasan ini terdiri dari 3 zona, zona A merupakan kawasan non-aktif yang sudah ditanami tanaman penghijauan. Zona B merupakan zona yang baru ditutup dan gasnya sedang dimanfaatkan dan zona C merupakan kawasan sampah aktif.

“Fasilitas TPA yang ada sekarang terdiri dari 2 unit alat berat dozer ada D3 dan D6, ada eksavator, kemudian ada juga mesin untuk gas metan, fasilitas kantor,” tuturnya. Berdasarkan kajian terhadap TPA Puwatu yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum, komposisi sampah yang masuk didominasi sampah organik sebesar 41 % dan sampah plastik sebesar 31 %.

Sedangkan sampah yang bernilai ekonomis seperti kertas dan logam cenderung sedikit karena diambil pemulung sebelum diangkut petugas dinas kebersihan. Potensi gas metan TPA Puwatu berdasarkan jumlah sampah yang masuk setiap hari, sekitar 608 meter kubik. “Potensi gasnya pada tahun 2013 diperkirakan sekitar 593 meter kubik
per jam dan tahun 2023 diperkirakan sekitar 875 meter kubik tiap jam,” ujarnya.

Kesukesan mengelelola TPAS Puwatu membuat Pemerintah Kota Kendari berhasil meraih penghargaan Adipura Kencana tahun 2014 melalui terobosan kampung mandiri energi. Sebelumnya Pengelolaan TPAS Puwatu tahun 2013 juga mendapat penghargaan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) kategori Komitmen Daerah dalam Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan dari Bappenas.

Cita-Cita Pemerintah Kota Kendari

Ide mengembangkan TPAS Puwatu cukup sederhana yakni mengubah paradigma masyarakat bahwa sampah dari barang yang jorok menjadi sesuatu produk yang bermanfaat. Pada sisi lain, pertumbuhan kota Kendari cukup pesat lima tahun terakhir. Pertumbuhan ini melahirkan sejumlah masalah, salah satunya degradasi lingkungan yang disebabkan persoalan sampah.

Wali Kota Kendari Asrun menjelaskan ingin TPA Puwatu menjadi sarana edukasi dan wisata. “Pemandangannya cukup bagus sehingga bisa dikembangkan untuk itu,”katanya. Pada awalnya, mengembangkan dari sistem open dumping menjadi sistem control landfill bukan sesuatu yang mudah hingga bisa menghasilkan gas metan.
Berbagai uji coba dilakukan pemerintah kota melalui dinas kebersihan hingga sistem ini bisa berjalan dengan baik. Namun masih ada kendala yakni pemukiman kumuh pemulung masih berdiri di kawasan yang mulai tertata rapi.

Beruntung, tahun 2013, Pemerintah Kota Kendari mendapat bantuan dari Kementerian Sosial sebesar Rp 1 miliar untuk pemukiman kumuh. Pada lahan 1 hektar ini dibangun rumah untuk 122 keluarga sebagai bagian dari Kampung Mandiri Energi.

Selain dihuni para pemulung, komplek ini untuk petugas dinas kebersihan yang belum memiliki rumah sendiri. Wali Kota menjelaskan, warga yang tinggal hanya memiliki hak pinjam terhadap rumah dan lahannya, dengan waktu penggunaan 10 tahun.
Harapannya setelah masa itu mereka memiliki rumah sendiri. Setelah masa itu, rumah dipinjamkan ke pihak lain yang membutuhkan. Sukses memanfaatkan gas metan, Pemerintah Kota Kendari mencoba menduplikasi sistem
pengolahan sampah dengan kapasitas lebih kecil di kawasan pedagang kaki lima. Mereka membangun sumur gas untuk menangkap gas metan yang akan digunakan memasok kebutuhan listrik dan bahan bakar kompor di kawasan pedagang kaki lima.

Jika uji coba ini sukses pemerintah kota akan membangun TPA mini disejumlah kawasan pemukiman padat penduduk untuk memasok energi di pemukiman-pemukiman warga. Pembuatan TPA mini di pemukiman penduduk juga merupakan salah satu strategi pengelolaan sampah untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk di TPAS Puwatu.

“Biaya angkutnya bisa dikurangi, TPA-nya juga bisa berumur panjang,” katanya. Setelah gas metannya habis diambil lagi komposnya. Jadi, ujarnya, kita balik keadaan dari sampah yang tidak bernilai bisa menjadi pendapatan.

Strategi lain yang dibuat pemerintah kota kendari untuk mengurangi sampah ialah menggunakan sistem reuse atau menggunakan ulang, reduce atau mengurangi dan recycle atau mendaur ulang, istilah ini biasa dikenal dengan sebutan 3 R.

Pemerintah kota juga meyakini pengelolaan sampah mulai dari timbulan ditingkat Rumah Tangga menggunakan sistem 3 R bisa memberikan tambahan penghasilan pada pada warga dan mengurangi jumlah produksi sampah yang dibuang.

Pengurangan jumlah sampah mulai dari rumah harus segera dilakukan, sambil menunggu perubahan pola pikir warga, pemerintah kota harus memaksimalkan pengelolaan sampah di TPA Puwatu, sehingga warga yang tinggal dikampung mandiri energy benar-benar merasakan dampak pengelolaan sampah yang baik.

Pengelolaan gas dari TPA merupakan salah satu langkah untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan akibat penumpukan gas rumah kaca. Hampir 50% gas yang ditimbulkan akibat degradasi sampah secara anaerob adalah gas metana. Selain dengan cara dibakar, penghancuran gas metana dapat pula dilakukan dengan pembangkit
listrik berbahan bakar gas metana.

Dengan memanfaatkan 500 m3/jam gas dari TPA maka Kota Kendari sudah menyumbang pengurangan gas rumah kaca setara dengan 20.000 MTCO2e (metric ton carbon dioxide equivalent) per tahun. (Sumarlin)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top