Connect with us

Bursa Kandidat Calon Bupati Konsel Mulai Mencuat

Uncategorized

Bursa Kandidat Calon Bupati Konsel Mulai Mencuat

Proyeksi Kepemimpinan Konsel
Siapa Setelah Imran?

Pasca Drs H Imran MSi, memimpin konawe selatan, siapa selanjutnya yang memegang tongkat estafet di negeri berjuluk Laiwoi Selatan?

————————————————–

Jika tak ada aral melintang, Agustus 2015, pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Konawe Selatan akan dihelat. Dan diyakini banyak kalangan akan seru, mengingat pilkada tak lagi diikuti oleh sosok incumbent. Sesuai syarat UU Bupati konawe Selatan Drs H Imran MSi hanya dapat menjabat selama dua periode.

Nah, kendati perhelatan pilkada Konawe selatan masih jauh, namun gaung politik di negeri Laiwoi sudah santer terdengar di masyarakat. Bahkan sejumlah nama-nama yang digadang-gadang sebagai pemegang tongkat estafet pengganti pasca kepemimpinan Imran perlahan telah mencuat ke permukaan. Setidaknya ada 18 nama yang kini santer disebut-sebut masyarakat, yang tentu saja dianggap memiliki nilai jual sebagai calon masa depan konawe selatan.

Sejumlah nama ini tentu berasal dari berbagai latar belakang, ada dari kalangan swasta, pemimpin parpol, tokoh masyarakat hingga birokrasi. Nah untuk kalangan yang disebut terakhir ini memang yang paling banyak disebut. Menariknya, sebagian besar nama-nama yang disebut-sebut itu kini menduduki posisi jabatan strategis di Birokrasi Konawe Selatan.

Lantas siapa saja mereka? Wakil Bupati Konsel, Drs H Sutoarjo Pondiu, Sarjun Mokke (Sekda Konsel), DR Arsalim yang tidak lain Kepala Bappeda Konawe Selatan. Ada juga Drs Beangga MSi, mantan Kadis Pendidikan Konsel, DR Sahlul (Dinas Pendapatan dan Keuangan Konsel), Drs Aswan MSi (Kepala BKD Konsel). Selain itu ada juga nama Drs H Rustam Tamburaka MSi, mantan calon bupati konsel periode lalu yang rival Bupati Imran. Dan calon lain, seperti Amir Hasan juga turut meramaikan bursa pencalonan, yang dapat dilihat dari baleho mereka di sepanjang jalan menuju Konawe Selatan.

Dari luar birokrasi Konsel, khususnya unsur akademisi muncul nama seperti Sarlan AdiJaya SSos MSi (dosen Fisip Unhalu) dan Eka Paksi (Rektor Unsultra). Namun para pamong pemerintah ini harus berpikir seratus kali untuk maju mengingat UU tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengharuskan PNS mundur kini  menghadang langkah para politisi birokrasi.

Dari unsur swasta dan pemimpin parpol muncul nama seperti Endang SA (Ketua DPD Partai Demokrat, Hapsir (Ketua DPC Partai Gerindra Konsel), juga memiliki peluang besar untuk maju meramaikan bursa perhelatan pesta demokrasi di Negeri Laiwoi.

Nama-nama politisi lainnya adalah Surunudin Dangga dan Abd Rasyid juga memiliki magnet dan kini mulai menghangati bursa pilkada. Ya, keduanya memang bukan orang baru di perhelatan politik Konsel. Surunudin, Ketua Partai Golkar sekaligus mantan Ketua DPRD Konsel periode 2004-2009 silam masih memiliki peluang besar, terlebih lagi pengalamannya yang telah lima kali maju sebagai calon bupati membuat Surunuddin kenyang pengalaman bertarung. Sedangkan Rasyid adalah putra Konsel asal kecamatan Laeya yang telah dua periode menjadi anggota DPRD Konsel dan pada Pemilu 2014 lolos sebagai anggota DPRD Provinsi Sultra. Tentu modal dikenal dan putra daerah membuat Rasyid dengan mudah mensosialisasikan diri.

Lantas adakah putra mahkota yang dipersiapkan Imran? Nampaknya masih terkunci rapat. Imran sendiri enggan berkomentar mengenai sosok pemimpin pengganti dirinya kelak. Bahkan orang nomor satu di Konsel ini seolah tidak menunjukkan mimic sedikit pun tentang gonjang-ganjing politik pasca dirinya memerintah nanti.

Ada banyak analisis mengenai sikap ‘diam’ Imran tersebut. Seorang pengamat politik local mengatakan sikap diam Imran bisa jadi merupakan reaksi politik spontan yang dapat diasosiasikan sebagai sinyal demokrasi penuh. Artinya, bisa jadi Imran tidak lagi peduli dengan peta politik yang ada, dia memberikan keleluasaan kepada siapa saja untuk maju bertarung tanpa lagi ada dikotomi putra mahkota atau tidak. Analisis lain menyebutkan, jika sikap diam Imran tersebut merupakan reaksi atas sikap matang berpolitik dari seorang tokoh politik sekaliber Imran, dimana dia masih menyimpan rapat semua nama, dan satu waktu disaat yang tepat akan dibuka ke public. Lagi pula akhir masa jabatan Imran masih ada setahun lagi, jadi memang masih harus melihat dulu figure atau sosok yang pas yang dapat menggantikan dirinya.

Namun, jika melihat historis, peta perjalanan panjang kepemimpinan Imran di birokrasi, maka bisa jadi nama-nama seperti DR Arsalim dan DR Sahlul menjadi kanddidat terkuat dari putra mahkotaa yang dipersiapkan menggaantikan Imran kelak. Kedua nama ini merupakan sosok yang cerdas dan punya semangat loyalitas yang tinggi terhadap atasan mereka. Arsalim dan Sahlul menjadi tulang punggung sekaligus ‘otak’ dari segala proses pembangunan daerah konawe selatan sejak mekar hingga era pembangunan digalakkan.

Keduanya pula, menjadi aktor dari golnya berbagai program pembangunan yang berujung di gelontorkannya dana pusat ke daerah konsel, yang nilainya ratusan miliar membangun berbagai infrastruktur di daerah ini.

Namun politik selalu akan memberikan kejutan. Terlebih setelah memilihat hasil pemilu legislative 2014, dimana mesin partai Golkar mulai menguat, maka sejumlah nama kandidt mulai kembali mencuat. Nama lama dan nama baru kembali disebut-sebut memiliki peluang dan uang untuk masuk sebagai bursa kuat calon bupati Konsel. Apalagi ada idiom politik adalah sebuah perselingkuhan, maka bukan tidak mungkin kejutan-kejutan barupolitik akan segera terdengar.

Misalnya saja, isu dinasti politik yang kini menghampiri Bupati Imran yang mendorong putranya Yuyu untuk masuk bursa kepala daerah pasca dirinya juga kini mencuat kencang. Ini tentu bukan sekadar isu, apalagi melihat sepak terjang Yuyu di Pilcaleg 2014 semakin mengukuhkan Yuyu sebagai salah satu politisi yang tidak bisa dipandang remeh.

Tak hanya Imran yang memiliki kepentingan besar di pilkada Konsel berikutnya, Gubernur Sultra Nur Alam yang juga putra daerah asli Konsel tentu punya libido politik yang sama. Berkaca pada pilkada di sejumlah daerah kabupaten/kota di Sultra, magnet telunjuk Nur Alam pada sosok kepala daerah yang diusungnya memang cukup kuat. Tentu saja bukan sesuatu yang ‘sim salabim’ sebab Nur Alam adalah sosok politisi yang modern dan mengedepankan ilmu pengetahuan melalui lembaga survey dalam menjaring dan menentukan sosok calon yang diusungnya. Dan itulah kunci kemenangan Nur Alam di sembilan kabupaten Kota yang seluruhnya dikuasai Partai amanat Nasional (PAN). Dari informasi yang diperoleh Suara Kendari menyebut, Nur alam kini tengah menjajaki sejumlah nama yang digadang-gadang akan didorong maju sebagai kandidat. “Untuk kandidat calon Bupati Konsel, Pak Nur Alam sudah mengantongi nama, namun masih dirahasiakan,”kata sumber dari kalangan PAN Sultra. Nah dengan melihat peta politik maka tak dapat dipungkiri jika perhelatan politik konsel akan seru, para politisi memang susah ditebak dan terkadang selalu membuat kejutan. Kita lihat saja. (Yoshasrul)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top