Connect with us

Bupati Membasuh Muka dengan Air dari Guci Suci di Makam Raja Mekongga

Uncategorized

Bupati Membasuh Muka dengan Air dari Guci Suci di Makam Raja Mekongga

 

KOLAKA, SUARAKENDARI.COM- Disela-sela kunjungan ziarah di makam Raja Sangia Nibandere (Raja Mekongga yang memeluk Agama Islam pertama kali,red), Bupati Kolaka, Ahmad Safei menyempatkan diri membasuh muka dengan air suci yang ada didalam guci, yang berjarak beberapa meter dari pusara Raja. Tentunya masih berada dalam satu kawasan makam Raja Sangia Nibandera.

Hal ini merupakan suatu keharusan bagi siapaun yang berziarah ke makam raja yang terletak di Desa Tikonu, Kecamatan Wundulako itu. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, air suci didalam guci dapat memberikan berkah, yang tentunya atas kehendak Allah SWT.

Saat berada didekat guci, tokoh adat setempat nampak menimba air dalam guci dengan menggunakan daun sirih. Secara bergantian air itu diberikan kepada orang yang ada didekatnya, seperti Bupati Kolaka, wakil Bupati Kolaka, Kepala Kejaksaan Negeri Kolaka serta sejumlah rombongan lain. Setelah itu bagi yang berada diluar pagar juga mendapat percikan air dari semburan sang tokoh adat yang menggunakan daun sirih sebagai wadahnya.

Pemuka adat Mekongga, Hj. Nursainab menjelaskan kenapa air didalam guci itu sangat spelasial. Ternyata tidak semua tamu yang berziarah ke makam raja dapat mendapatkan air dalam guci. Bahkan saat musim hujan, guci yang tidak memiliki penutup itu kosong, tapi saat musim kemarau akan terisi air dengan sendirinya.

“Pertanda baik, pak Bupati dan rombongan mendapatkan air dari guci itu. Sebab tidak semua orang yang datang ziarah ke makam ini akan mendapatkan air yang berasal dari guji tersebut. Padahal guji itu tidak pernah ada yang mengisi. Kalau musim hujan mongering, kalau musim kemarau berisi. Semoga ini berkah bagi pak Bupati dan kita semua warga Kolaka dan juga umat manusia,” tegasnya.

Dia pun menjelaskan bahwa sebenarnya guji itu ada sejak ratusan tahun lalu saat masa raja ke tujuh yang bernama Raja Teporambe Sangia Nilulo.

“Zaman raja ke tujuh ada guji yang dibawah kedalam gua Tawatu Ulaa yang berjarak satu kilo dari sini. Dan kita percaya ini adalah salah satunya.

Disekitar guji ini juga tidak pernah ada daun yang jatuh padahal diatas guji itu pohon beringin yang rindang. Tapi semuanya kita kembalikan pada yang maha kuasa. Mugnkin ini adalah wadah untuk selalu berdoa dan ingat sang pencipta,” cetusnya.

Keberadaan guji “ajaib” didalam makam Raja Sangia Nibandera ini bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Kolaka maupun Sulawesi Tenggara. Hampir seluruh tokoh masyarakat, pemuda dan politikus pernah bertandang ke makam tersebut untuk berziarah.

Bupati Kolaka pun berharap dengan kunjungannya ke makam ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat untuk tetap melestarikan budaya yang ada disekitar. Termasuk budaya Mekongga. ABDI

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top