Brimob Kok Jadi Penjaga Perusahaan Tambang dan Perkebunan Sawit ?

0

Suarakendari.com-Keberadaan personil polisi khususnya anggota brimob di lokasi-lokasi pertambangan dan perkebunan kelapa sawit di Sulawesi Tenggara kerap dipertanyakan banyak kalangan menyusul seringnya terjadi aksi kekerasan di lokasi pertambangan dan sawit.

Mestinya kepolisian dapat mengoreksi diri mengingat terus berulangnya kasus kekerasan berupa penembakan dan penganiayaan warga atau petani beberapa lahan tambang karena konflik agraria. Kondisi ini merupakan preseden buruk bagi aparat kepolisian. Apalagi, korban penembakan adalah warga yang menuntut hak-haknya atas lahan yang selama ini diklaim oleh perusahaan.

“Sebagai masyarakat bingung mnelihat sikap arogansi kepolisian. Mereka bertindak tidak lagi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, tapi seolah sebagai kaki tangan perusahaan,”kata Abdul Rahman, Kepala Desa Mowila, Kecamatan Mowila, Konawe Selatan.

Seharusnya, aparat kepolisian bertindak adil dalam menangani setiap permasalahan, termasuk adil terhadap rakyat yang tanahnya diambil paksa perusahaan perkebunan. Di Mowila sendiri, sejumlah kasus agraria yang berujung penangkapan dan penganiayaan petani tidak pernah diusut secara serius oleh polisi. “Yang ada justeru sebaliknya, rakyat selalu yang disalahkan,”katanya.
Desakan agar polisi segera berbenah pernah juga disuarakan para aktifis mahasiswa di Kendari. “. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa aparat Brimob selalu menjadi penjaga di wilayah tambang dan perkebunan sawit. Apakah ada deal-deal di balik penggunaan aparat oleh perusahaan? Saya kira petinggi kepolisian di daerah harus segera meninjau kembali keberadaan anggotanya di perusahaan,” Suparman, aktifis mahasiswa dari Universitas Haluoleo. SK

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.