Connect with us

Bombana ‘Miskin’ di Lumbung Emas

Uncategorized

Bombana ‘Miskin’ di Lumbung Emas

BOMBANA, SUARAKENDARI.COM-Tak dapat dipungkiri, Kabupaten Bombana adalah negeri dengan sumber daya alam yang kaya raya. Perut buminya mengandung emas, nikel dan sejumlah material alam berharga lain. Namun, siapa sangka jika negeri berjuluk negeri emas ini harus terpuruk, bahkan menjadi salah satu daerah dengan indicator kemiskinan terbesar di bumi anoa, Sultra. Jumlah angka kemiskian di Bombana saat ini mencapai kurang lebih 21 ribu jiwa dari total penduduk Bombana sekitar 230 ribu jiwa.

Ini tentu tak sebanding dengan investasi yang masuk di daerah itu, yang nota bene diharap bisa mensejahterakan rakyat setempat. Saat ini saja terdapat sekitar 89 perusahaan tambang yang terdaftar beroperasi mengeksploitasi bumi Bombana. Sayangnya, kehadiran puluhan perusahaan tak mampu mendongrak pendapatan daerah, dan faktanya  perolehan royalty yang diterima negeri Moronene ini terbilang ssangat kecil, hanya 3 miliar rupiah per tahun. Hal ini didasari dari perolehan bagi hasil pemerintah pusat.

Jika, melihat peruntakannnya, dana bagi hasil ini hanya bisa digunakan untuk membangun jalan sejauh 2 KM saja. Tak urung hasil royalty sector tambang ini membuat Kepala Dinas Pertambangan Bombana, Yusuf Lara meradang. “Saya kira ini jumlah royalty sector tambang sangat kecil, ini sangat tidak adil,”katanya.

Wajar, Yusuf Lara merana. Pria parobaya ini tak mampu menyembunyikan kegundahannya kala membentang potensi tambang lengkap dengan kalkulasi jumlah yang seharusnya diterima daerah ini yang diperkirakan berada lebih dari jumlah royalty yang diterima Bombana  per tahun.

Masih bercokolnya angka kemiskinan ini pernah disinggung Bupati Bombana, M Tafdil, disela pembacaan dokumen APBD Bombana 2013 silam. Tafdil menyebutkan, kedepannya terdapat tujuh program prioritas pembangunan daerah,

diantaranya adalah program penanggulangan kemiskinan, peningkatan akses pendidikan dan kesehatan masyarakat, penataankelolaan kawasan perkotaan, ketersediaan sarana ruang publik dan penatakelolaan kawasan pertambangan daerah.

“Saat ini angka kemiskinan di Bombana mencapai 14,68 persen atau sekitar 20ribu jiwa,” katanya.

Untuk menanggulangi besarnya angka kemiskinan tersebut, lanjut Tafdil, pihaknya akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya melalui kerjasama yang dibangun dengan pihak swasta seperti perusahaan tambang. Namun, apa yang diharapkan Bupati Tafdil tentu tak dapat sejalan dengan kondisi yang ada mengingat kurangnya kontribusi perusahaan tambang pada kemajuan daerah. Ibarat kata pepatah, “Ayam mati di lumbung padi” begitulah yang menimpa Bombana saat ini.

Kini Pemerintah Bombana harus berani mengolah potensi lain di negeri ini. Sebab, melihat jauh kebelakang, sebelum daerah ini mekar potensi pertanian, perkebunan, peternakan menjadi andalan sebab potensinya cukup besar untuk dikembangkan. Begitu pula potensi laut dengan hasil perikanan yang melimpah ruah. (YS)

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: ANTAM Butuh Modal Tujuh Triliun, Ketua Komisi VII DPR RI Masih Pikir-pikir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top