Bokori dan Senandung Kaju Angin

0

Oleh : Riza Salman

Jika kapal yang anda tumpangi akan memasuki kawasan Teluk Kendari, konsentrasilah dan lepaskan pandangan anda sejauh mungkin sembari menengok kearah kanan sebelum menyesal melewati satu pulau mungil nan eksotik, pulau Bokori.

Ungkapan di atas mungkin terkesan memaksa, tetapi sudah teruji ratusan tahun silam ketika awal masuknya Belanda di kawasan perairan Teluk Kendari. Dikisahkan saat itu, pelayar Belanda tidak melihat keberadaan satu pulau kecil membentang panjang seluas dua hektar lebih, nanti setelah melewati pulau itu kemudian tampak satu pulau terlihat dari arah belakang kapal.

Dari kejadian itu, penghuni pulau tersebut memberi nama pulau Bokori, yang dalam bahas Bugis berarti dibelakangi. “Pada masa penjajahan pelayaran Belanda, pulau itu tidak kelihatan dari depan, nanti setelah dilewati baru terlihat, dan diberi nama Bokori yang artinya kampung belakang”, ujar Rizal, tokoh pemuda berdarah campuran Bugis Bajo, yang menetap di pesisir desa Bajo Mekar, tak jauh dari pulau Bokori.

Merunut sejarah kota Kendari, boleh jadi awal mula penamaan pulau Bokori sekitar abad 18, bersamaan dengan penamaaan Teluk Kendari yang kala itu masih bernama Vosmaer Baai atau Teluk Vosmaer . Nama Vosmaer berasal dari nama pelaut Belanda, J.N Vosmaer, yang dalam sejarah tertulis pelaut pertama kali menemukan orang Bajo dan Bugis hidup di pesisir teluk kendari.

————————————————————————

Lain Generasi, Lain Cerita

Nabisa, nenek tua 60 tahun hanya bisa tertegun kaku dibalik balutan kerudung merah melihat aksi para atlit voly pantai berlaga di atas pasir tanah kelahirannya. Pikirannya seolah melayang tebang bersama angin menjejaki perubahan kondisi pulau Bokori, jauh berbeda dengan kondisi Bokori puluhan tahun lalu.

Dalam kenangannya, pulau Bokori yang pernah dihuninya lebih luas dari yang terhampar kini. Pohon Kelapa dan Kaju Angin (penyebutan nama lokal pohon pinus) rindang berdiri kokoh melindungi pulau dari gerus hempasan gelombang laut.

Perlahan, pulau Bokori alami abrasi semenjak ditinggal kosong penduduk setempat karena direlokasi pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) ke wilayah pesisir darat yang kini bernama desa Bajo Mekar, dan empat desa tersebar lainnya pada tahun 1993.

“sekarang sudah bagus, bagian tengah pulau sudah digali dibuatkan kolam besar” nada Nabisa sambil tersenyum ceria sambil menonton jenis olah raga yang tidak pernah ia mainkan, voly pantai di pulau Bokori.

Di waktu dan tempat berbeda, sontak Gita lontarkan nada optimis “nanti pulang saya kasih tahu bapakku” untuk tidak melakukan aksi pengrusakan karang di sekitar pulau Bokori.

Ucapan itu spontan keluar dari mulut Gita, bocah perempuan kelas enam SD (Sekolah Dasar) setempat saat mendapat penjelasan dari seorang guru sekolah non formal Sikola dilao. Dalam penjelasan itu, karang rumah ikan di sekitar pulau Bokori akan rusak kalau tertancap tombak ikan dan tersangkut jangkar perahu dan kapal.

Anak-anak suku Bajo ramai berangkat ke Sikola Dilao untuk memperoleh pelajaran kearifan lokal mengelola kawasan laut. Sikola Dilao merupakan lembaga non formal yang didirikan untuk membentuk karakter generasi suku Bajo melestarikan laut demi kelangsungan sumber kehidupan mereka. Kini anak-anak tersebut tahu bagaimana seharusnya mengelola laut secara bijak. Foto: Riza Salman
Anak-anak suku Bajo ramai berangkat ke Sikola Dilao untuk memperoleh pelajaran kearifan lokal mengelola kawasan laut. Sikola Dilao merupakan lembaga non formal yang didirikan untuk membentuk karakter generasi suku Bajo melestarikan laut demi kelangsungan sumber kehidupan mereka. Kini anak-anak tersebut tahu bagaimana seharusnya mengelola laut secara bijak. Foto: Riza Salman

Sikola Dilao adalah sebutan lokal warga Bajo yang berarti Sekolah Dilaut. Lembaga pendidikan non formal ini berdiri pada tahun 2013 lalu. Ialah Rizal pencetus Sikola Dilao.

“Sikola Dilao didirikan untuk meilhat permasalahan generasi Bajo yang sekarang hidup di pesisir kurang memahami kearifan lokal Bajo. Olehnya itu Sikola Dilao untuk memberi pemahaman kembali” , papar Rizal.

Selang berjalan dua tahun, murid Sikola Dilao kini berjumlah 32 anak, diantaranya pelajar SD, SMP dan SMA sederajat yang tersebar di pesisir darat. Metode pembelajaran Sikola Dilao tergolong unik. Bagi mereka yang masih tergolong pelajar SD, diwajibkan tonton serial karton Sponge Bob dirumah masing-masing sebagai pengantar materi bahan ajar para guru dikelas nantinya.

Selanjutnya di hari Minggu saat air laut surut, para murid diajak langsung ke pesisir laut pulau Bokori untuk melihat langsung contoh jenis karang dan biota laut lain yang mereka lihat dalam tayangan kartun Sponge Bob. Disini sejumlah materi konservasi diajarkan guna membangun kesadaran dini anak-anak Bajo untuk lestarikan Pulau Bokori.

Bukan hanya anak-anak, orang tua mereka juga dilibatkan langsung mengajarkan anak mereka melestarikan terumbu karang menjadi rumah ikan. Para orang tua memperlihatkan cara tradisional ala Bajo memilih bibit karang untuk di transplatasi. Upaya ini tergolong berhasil, meski baru mencapai tahap membuat pelampung untuk bibit karang.

Guru Sikola Dilao melibatkan sejumlah relawan mahasiswa Perikanan Universitas Halu Oleo (UHO) untuk materi konservasi laut dan Guru Madrasah Tsanawiah bahrul Mubaraq di wilayah setempat untuk memberi pendidikan karakter agar bijak dalam pengelolaan hasil laut.

“sekolah ini menciptakan karekter untuk tidak melupakan melupakan identitas kami sebagai orang Bajo yang sumber kehidupannnya berasal dari laut” papar Rizal di sela-sela mengajar anak-anak Bajo.

“kami juga ingin memberi pemahaman sejak dini bagaimana menjaga laut sehingga suatu saat generasi penerus tetap melihat laur sebagai bagian dari sejarah kami” tegasnya.

Pulau Bokori Bisa Mendunia

Lasara, seorang Profesor pakar kelautan UHO optimis pulau Bokori menjadi destinasi wisata andalan Sultra. Ia mengatakan, Bokori pulau kecil dengan sumber daya pesisir dan laut lepas memiliki karakteristik untuk menarik wisatawan domestik maupun wisatawan asing.

Secara demografi , Bokori punya aksebilitas tinggi mudah dicapai karena berdekatan langsung dengan Kendari, ibu kota Sultra. “para wisatawan dapat berkunjung ke Bokori sambil menghabiskan waktu menunggu jadwal keberangkatan ke Wakatobi” kata Lasara.

Hal itu tidak mustahil terwujud, jika Pemerintah setempat membangun infrastruktur, sarana dan parasaran pelengkap untuk memanjakan pengunjung. Selain itu, promosi melalui berbagai macam media harus gencar dilakukan tanpa harus bergantung pada pelaksanaan event tahunan.

guide professional berkemampuan bahasa asing harus disiapkan untuk mendampingi wisatawan asing, serta agen travel wisata dan perhotelan dilatih mempromosikan wisata pulau Bokori” jelas Lasara.

Lasara menyarankan kepada pihak Pemprov untuk segera membuat regulasi penataan wilayah agar pengunjung pulau Bokori tidak terganggu dengan aktifitas perhubungan laut yang sewaktu-waktu dapat mencemari laut. Tentu hal ini dapat mengurangi nilai keindahan pulau Bokori.

“masyarakat sekitar pulau Bokori juga harus ikut menjaga keletarian pulau Bokori” tegas Lasara.

Ia menilai, pulau Bokori dapat diandalkan seperti halnya pulau Borocay di Filipna Tengah yang dalam pengelolaanya mampu menyedot perhatian wisatawan dunia.

Relaksasi Kaju Angin Dari Masa Ke Masa

Pulau ini untuk meregangkan syaraf-syaraf yang tegang, lantang suara Nur Alam saat membuka kejuaraan nasional Voly Pantai Sesi III, di pulau Bokori, Jumat sore (29/10).

Pernyataan itu bukanlah pepesan kosong belaka, karena di pulau Bokori kini memiliki 10 sarana bangunan rumah panggung semi permanen sebagai tempat peristrahatan plus fasilitas memadai untuk memanjakan pengunjung menikmati eksotisme pulau mungil itu.

Akses ke pulau Bokori tergolong mudah dan murah, anda hanya menghabiskan waktu perjalanan darat selama 20 menit dari kota Kendari menuju desa pesisir di kecamatan Soripia, Konawe dan menggocek kantong sebanyak 25 ribu rupiah/orang membayar jasa antar jemput menggunakan perahu bermesin motor yang disediakan warga pesisir.

Bagi anda yang ingin relaksasi hilangkan kepenatan hiruk pikuk perkotaan, cobalah merasakan semilir hembusan angin merangkai nada harmoni diantara dedaunan pohon Kaju Angin, pohon yang dari dulu menjadi penghuni tetap pulau ini. Anda akan mendapati senandung dari masa kemasa terbukti menenangkan mereka yang pernah tinggal dan berkunjung disini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.