Connect with us

Bocah Keterbelakangan Mental Merawat Ayahnya Seorang Diri

Miranda, bocah berusia 10 tahun merawat bapaknya Andi Sukri Sondo (55) yang lumpuh akibat stroke.Foto:kiki

Metro

Bocah Keterbelakangan Mental Merawat Ayahnya Seorang Diri

KENDARI, SUARAKENDARI. Com- Dengan tekun dan penuh kesabaran, Miranda bocah (10) merawat bapaknya Andi Sukri Sondo (55) yang lumpuh akibat stroke. Namun siapa sangka, bocah malang itu ternyata mengalami keterbelakangan mental.

Di kamar ukuran 3×2 meter, Miranda bersama ayahnya hidup bersama. Selama hampir tiga tahun, seorang diri ia berjuang merawat ayahnya yang hanya terbaring tak berdaya di tempat tidur.
Kamar yang ditempati Miranda dan ayahnya nampak kotor, lembab dan bau. Tak sepantasnya dihuni oleh orang sakit. Kondisi tambah parah bila hujan, atap kamar yang sudah bocor saat air hujan merembes membasahi kasur tempat Miranda dan ayahnya tidur.

Bersama ayahnya, Miranda menumpang tinggal di rumah keluarganya di lorong Tabbaci, Jalan. Ir Soekarno, Kelurahan Dapu Dapura, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Saat wartawan menjenguk, Miranda nampak malu-malu sambil menutup wajahnya. Sesekali Miranda kecil tersenyum dan mengusap rambut ayahnya dengan penuh kasih sayang.
Sore itu, Rabu (26/2/2014) ia menemani ayahnya. Tugasnya menyuapi makan dan memandikan ayahnya sudah selesai dilakukannya .

“ Untung ada anakku yang satu ini yang rawat dan temani kasian. Sudah tiga tahun mi saya tidak bisa gerakkan badanku,” tutur Andi Sukri dengan suara terbata-bata.

Menurut Sukri, Miranda pernah mengenyam bangku sekolah dasar, namun hanya sampai kelas 1 selama 4 tahun. Pasalnya, anaknya yang mengalami keterbelakangan mental bersekolah di SD umum.

“ Di sekolahnya dia sering diejek teman-temannya, jadi tambah parah anakku kasian,” ujarnya sedih.
Kalimat penolakan dilontarkan Miranda, saat Amri S. Herman Ketua RT 02/RW 04 memintanya agar kembali sekolah. “ tidak mau, tidak ada baju sekolahku.

Siapa nanti yang rawat bapakku kalau saya sekolah,” ungkap Miranda spontan.
Kepada Miranda, Amri menjelaskan, akan menitipkan ayahnya ke panti jompo agar ia bisa sekolah lagi. Namun Miranda kecil menangis. “ saya tidak mau bapakku dibawa ke panti, saya tetap merawatnya,” isak Miranda.

Menurut Amri, Miranda sangat telaten merawat ayahnya. Tak hanya menyuapkan makan, memandikan bahkan buang air besar dan air kecil total ia juga yang kerjakan.

“ Dalam rumah itu ada ada dua kepala keluarga yakni ponakan Sukri dan mertua ponakannya, tetapi sepertinya mereka tidak peduli,” ujarnya.
Untuk makan, Miranda terpaksa mengambil makanan ke rumah sepupunya yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Tetapi ia selalu mendengar anak itu menangis ketika lewat di samping rumahnya.

“saya duga Miranda abis dimarahi lagi sama sepupunya saat mengambil nasi,” jelas Amri.

Namun kini, Miranda bersama ayahnya sudah bisa menikmati makanan sendiri. Pasalnya, para dermawan memberikan bantuan setelah melihat langsung kondisinya.

“ Setelah saya menyebarkan foto-foto dan cerita sedih Miranda dan bapaknya melalui jaringan media sosial, banyak masyarakat yang sudah datang memberikan bantuan. Bahkan ada juga yang mengirimkan dana melalui nomor rekeningku dan saya laporkan ke bapaknya, “ paparnya.

Kebanyakan bantuan itu datang dari swasta dan perorangan. Namun lanjut Amri, bantuan dari pemerintah di tingkat Kelurahan sampai pemerintah kota Kendari belum kunjung datang.
Bagaimana kisahnya pilu menimpa Andi Sukri Sondo dan Miranda. Dengan mata berkaca menceritakan, awalnya ia adalah seorang pengusaha kaya raya karena usaha penjulan kayu dan perkebunan saat berdomisili di Kabupaten Konawe Utara.

“ setelah saya terserang stroke delapan tahun lalu, semua usaha dikelola sama istriku. Tetapi sayang kepercayaan dikhianati istriku, semua usahaku dijual dan uangnya dibawa kabur, ditambah istriku selingkuh dengan karyawan di perusahaaku sendiri,’ jelasnya.

Akibatnya, penyakit stroke yang telah diderita tambah parah. Sukri sempat beberapa kali berobat ke Makkasar, namun stroke yang dialami tak kunjung sembuh. Iapun memilih untuk kembali ke Kendari dan menempati rumah pemberian keluarganya.

“ rumahku disita untuk membayar utang bekas istriku, 4 anakku yang lain juga pergi dengan mamanya. Tersisa Miranda anak bungsuku yang mau temani dan rawat saya bu,” terangnya sedih.
Sukri menjelaskan, ia sudah tahu banyak tentang kesakitan dan kehilangan. Mungkin beginilah hidup, tak bisa dibayangkan akhirnya terjadi begitu saja dan semuanya bisa hilang seketika.KIKI

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top