Berharap Ada yang Spesifik di Kampung Adat  Hukaea Laea

0

Pemerintah Kabupaten Bombana menyambut baik produk Peraturan Daerah Perda No  4 tahun 2015 tentang Pengakuan, Perlindungan dan  Pemberdayaan Masyarakat Adat Moronene HukaEa LaEa di Bombana. Lahirnya perda tersebut dipandang sebagai  hal positif dalam rangka memberikan kepastian hokum bagi masyarakaat adat. Berikut wawancara wartawan Suarakendari.com dengan Wakil Bupati Bombana, Hj Mashyura Ila Ladamay.

Apa tanggapan Anda terkait Perda No  4 tahun 2015?

Essensinya Masyarakat Adat Hukaea Laea  harus mendapat perlindungan dan keadilan hidup, khususnya mereka yang telah turun temurun tinggal di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW).  Bagi pemerintah pengakuan melalui lembaran daerah Perda Nomor 4 tahun 2015 ditambah rekomendasi dari kementraian PU, menteri Kehutanan  dan Mendagri  merupakan hal positif dan tentu saja menjadi harapan besar masyarakat adat hukaea laeya karena  sudah lama mereka nantikan. Dengan demikian nantinya akan peraturan ini menjadi legitimasi untuk memberikan keadilan di kawasan tersebut. Seperti diketahui untuk mendirikan sebuah desa adat bukan hal yang mudah, karena tidak semua daerah memiliki desa adat.

Apakah tidak bertabrakan dengan peraturan yang ada di atasnya?

Saya kira pemerintah telah mengeluarkan peraturan perundang-undangan desa adat, yang artinya masyareakat adat hukaea laea juga telah mendapatkan pengakuan sebagai bentuk legitimasi keberadaan mereka. Karena desa adat berada dalam kawasan, maka diharapkan tidak ada kepemilikan individu, apalagi penguasaan lahan untuk diperjualbelikan. Kita harapkan lahan itu menjadi lahan milik bersama jadi tidak ada satu orang yang menguasai lahan, tapi itu nanti akan diatur  berdasarkan aturan adat.

Untuk  luas kawasan adat Hukaea sendiri berapa?

Untuk luas kawasan adat sampai kini belum ditetapkan, nantinya akan dibahas selanjutnya. Tetapi yang terpenting bagaimana pengakuan dulu terhadap keberadaan masyarakat adat di sana.

Harapan Anda kepada Masyarakat Adat Hukaea Laea?

Kita semua tentu bersyukur dan berharap, setelah adanya pengakuan, masyarakat adat tetap mempertahankan kearifan local mereka, mulai dari rumah adat, spesifik sekolah yang bernuasa adat atau berbeda dengan bangunan sekolah-sekolah lain pada umumnya. Kita berharap, ketika masuk ke kampung adat hukaea laea maka kita menemukan hal yang spesifik yang tidak kita dapatkan di daerah lain, contoh pembangunan perumahan di kampung adat ini tidak menggunakan bahan permanen layaknya bangunan modern berbahan beton semen. Warga sebaiknya membangun perumahan dengan mempertahankan kearifan local dengan menggunakan bahan tradisional yang ada di sekitar situ, misalnya, rumah-rumah  tidak  menggunakan seng dan dindingnya menggunakan bahan ramuan dari alam, sehingga desa adat itu mencerminkan kearifan local di sana.  Saya pernah ikut acara adat moronene di hukaea laea itu dan saya benar-benar  terkesan karena menjadi hal luar biasa yang tidak di dapatkan di daerah-daerah lain, kita  mendapatkan suguhan budaya tradisional.  Jadi, kalau memang kita punya tujuan untuk menjadikan desa adat hukaea menjadi sesuatu yang spesifik, maka saya berharap semua yang masuk ke sana (kawasan adar, Red) bisa ada satu dan dua kalimat yang kita ucap, yang bernuasa adat.  Termasuk sekolah-sekolah yang ada di sana, kalau kita ada kesepakatan bersama sedapat mungkin tidak menggunakan bahan modern seperti beton, tetapi bias lebih tradisional yang ditata dengan rapi agar murid atau siswa nyaman bersekolah. Batas wilayah kawasan mungkin bisa ditetapkan dengan jelas, termasuk kegiatan-kegiatan di atas lahan tersebut, baik untuk peningkatan  sumber daya pangan, ternak, dsb saya kira ini penting untuk menjadi ketetapan bersama sehingga kegiatan-kegiatan yang ada di desa adat tersebut dapat terlindungi. Saya kira ini menjadi konsen pemerintah untuk mengawal desa adat nantinya. Perda ini penting dasarnya untuk kita ketahui, jangan sampai setelah perda ditetapkan masih ada yang menganulir atau tidak mengakui desa adat ini.  Kita harap masukan-masukan yang sifatnya fundamental terhadap   terbentuknya desa adat melalui pengakuan perda dan surat tiga menteri .

Harapan untuk Masyarakat Bombana ?

Kita tidak dapat menafikkan di Bombana masyarakatnya cukup heterogen, namun seperti kata pepatah “dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung”, maka tidak ada salahnya jika keheterogenan yang ada di Kabupaten Bombana diikuti dengan tetap menjaga dan menghormati adat istiadat masyarakat setempat yakni adat Moronene. Adat istiadat Moronene ini perlu untuk terus dilestarikan karena merupakan salah satu suku yang tertua di dunia. Jadi Kita tidak pernah merasa diri besar, tetapi bagaimana kita menghargai adat budaya yang ada di suatu tempat. ***

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.