Belajar dari “MAHUZE”

Ditulis Oleh : Zainal A. Ishaq

Dua orang jurnalis memutuskan meninggalkan kehidupan mapan di kota dan memilih nomaden di pedalaman. Mengembara. Melepas kebiasaan sarapan roti ditemani capuccino hangat yang disajikan pelayan-pelayan cafe yang manis.

Mereka harus berhadapan dengan sagu atau jagung yang diolah dan disajikan seadanya tanpa garnish. Tidak ada meja makan berukir Jepara yang melegenda itu, atau ukiran Bali yang akhir-akhir ini digandrungi para bule. Dari yang terbiasa pipis di closed keramik hingga berdiri ngangkang dibawah pohon ditepi jalan.

Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru
Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru

Pengembaraan dua jurnalis itu mengingatkan kita pada Che Guevara dan sahabatnya saat mengelilingi Amerika Latin di tahun 1949. Bedanya, selain bermodal dua motor bebek butut, dua jurnalis itu telah berbekal kamera canggih.

Foto: Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru
Foto: Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru

Mereka adalah Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz. Kisah itu bermula dari Jakarta pada tanggal 1 Januari 2015. Dari perjalanan bertajuk Ekspedisi Indonesia Biru, kedua lelaki itu mendokumentasikan kegelisahan Papua dalam film “The Mahuzes”

Distrik Marind

Beberapa sub marga dari suku Marind-anim yang mendiami Merauke, yaitu: Kaize, Gebze, Balagaize, Mahuze, Ndiken dan Basik-basik.

Seorang mama dari Marga Mahuze dikelilingi beberapa bocah memamerkan beberapa jenis burung ditangan mereka. Tak berselang lama, burung-burung itu telah berubah menjadi daging panggang siap santap. Beberapa bocah saling merebut daging burung Tangis pecah.

Ditempat terpisah, seorang kepala suku bersama beberapa mama, bekerja keras menebang sebuah pohon sagu menggunakan kapak. Lalu masing-masing mengambil bagian untuk memangkur. Setelah remah-remah batang sagu direndam, mengendaplah saripati sagu berwarna putih pucat.

Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru
Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru

Sembari mengunyah pinang yang baru saja dipetik tidak jauh dari pohon sagu, mama lainnya sibuk memasukkan beberapa genggam tepung sagu kedalam buluh berdiameter sekira 3 cm. Bambu-bambu berisi tepung sagu itu lalu dideret diatas bara api. Sagu panggang siap dihidangkan.

Mereka bisa makan kapan saja dan dimana saja tanpa aturan khusus. Dibawah rindang pohon sesaat setelah memangkur sagu, atau ditepi sungai setelah memancing mujair.

Syaratnya, ambillah secukupnya dan jangan meninggalkan sisa. Sebab mereka percaya, jika makanan dari alam itu tidak dihabiskan, bisa membuat murka pemilik alam.

Program Ketahanan Pangan

Pemukiman-pemukiman Marga Mahuze tersebar di dalam hutan di distrik Marind. Rumah-rumah mereka umumnya berdinding papan. Sementara Gereja telah menjadi pusat dari siklus kehidupan manusia disana.

Di bulan Mei 2015, dari atas sebuah traktor raksasa, Jokowi berdiri memandangi hamparan lahan terbuka. Dibelakangnya, beberapa pejabat dengan kemeja putih tergopoh-gopoh mengikuti traktor itu. Presiden Jokowi mencanangkan program ketahanan pangan di Merauke. Dalam pidatonya, Jokowi memutuskan membuka 1,2 juta hektar lahan sawah.

Warga Merauke menanggapi pidato menggebu-gebu itu dengan santai. Sebab mereka juga tau pangan bukan hanya beras. Jagung, ubi dan sagu juga termasuk.

“1,2 juta hektar mungkin lima tahun belum ketemu,” ujar Efraim, pegawai Dinas Pertanian setempat sembari tertawa lepas. Efram sehari-hari menangani bagian irigasi.

“yang pertama sumber airnya, karena ini kan seperti yang saya katakana tadi hanya mengharapkan hujan. Kali ini bisa tapi buat bendungan diatas. Buat bendungan raksasa disana baru tidak perlu hujan, baru bisa. 1,2 juta hektar dalam tiga tahun kalau menurut saya pribadi tidak masuk akal,” jelasnya.

Kepala Suku Mandobo, Darius Nenob, punya alasan tersendiri kenapa sulit menerima padi. Ia tahu betul bahwa hutan mereka telah menyediakan makanan melimpah.

“karena begini, kita punya pohon-pohon ini menyimpan binatang dengan burung-burung. Babi, kasuari, rusa, itu dia simpan. Kalo padi itu mungkin setengah tahun baru bisa kita panen, terus kita bisa makan. Tapi kalau sagu ini tidak. Hari ini tidak ada makanan, hari ini kita tebang lalu pangkur, hasilnya bisa setengah tahun lah. Untuk satu keluarga.”

Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru
Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru

Ekspansi Kelapa Sawit

Suatu hari, persoalan lahan sawit memaksa para pemimpin suku bertemu di gereja. Mereka resah. Beredar isu ada kepala suku yang telah menyerahkan tanah ulayat kepada pihak perusahaan. Asap rokok yang mengepung seisi ruangan menambah tegang suasana.

“saya minta ada kejujuran. Hari ini kita bicara begini, besok lain lagi. Kenapa terjadi seperti ini lagi. Berarti ada permainan didalam. Betulkah tidak?” pertanyaan seorang mama memecah keheningan.

Keresahan makin bertambah ketika Agustinus Mahuze, Kepala Suku Mahuze berusaha membuka kesadaran Keluarga Mahuze Besar.

“itu perusahaan ambil kita punya tanah 6000 hektar. Terus kita mau kemana. Ini hari kita ambil satu petak trus ambil tiga. Besok anak-anak punya turunan lagi, dorang bikin rumah dimana. Dorang mau ambil kayu darimana. Mau ambil atap darimana, kalau sagu sudah ditimbun,” Agustinus mengungkapkan keresahannya.

Ketegangan memuncak ketika seorang anggota suku mulai berdiri dan menunjuk-nunjuk anggota suku lainnya.

“boleh baku bahasa. Dengan fisik tidak boleh. Pake otak boleh. Dengan tenaga tidak. Kita duduk disini untuk perbaiki,” Agustinus menenangkan situasi.

Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru
Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru

Pertemuan itu diahiri dengan sebuah keputusan bersama antar kepala suku. Menolak menyerahkan tanah kepada pihak perusahaan.

Dari pertemuan itu, semua anggota suku lalu mendatangi lokasi perusahaan. Alat berat milik perusahaan yang sedang membongkar hutan diminta keluar dari hutan. Tidak ada kekerasan. Dengan ritual suku dan doa, patok didirikan sebagai penanda menolak ekpansi perusahaan sawit dan segala intimidasi yang menyertainya.

Belakangan patok itu juga dihancurkan. Ini yang membuat marga Mahuze murka. Sebab masalah bukan lagi sekedar urusan lahan. Ini soal penghinaan adat. Kepala Babi ditanam. Dalam kepercayaan marga Mahuze, upacara tanam Kepala Babi adalah ritual tertinggi. Taruhannya nyawa.

Penguasa dan Pemilik Modal

Sebelum lahan 1,2 juta hektar itu dicanangkan, sawit sudah lebih dulu menginvasi tanah Merauke. Sementara luas wilayah Merauke lebih kurang 44.071 Km persegi dengan jumlah penduduk kurang lebih 300.000 jiwa.

Perusahaan sawit di Merauke menerapkan pola plasma dengan system bagi hasil 80:20. Tentu saja 80 untuk perusahaan dan 20 untuk pemilik lahan. Kontrak lahan rata-rata 35 tahun. Tetapi warga merauke menginginkan system bagi hasil 80 untuk pemilik lahan dan 20 untuk perusahaan.

Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru
Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru

Berkaca di Sumatera, rata-rata pohon sawit panen setelah berumur empat tahun. Jika buah melimpah bisa hasilkan 2 ton per hektar. Jika beruntung sekilo buah sawit berusia satu tahun bisa dihargai Rp. 1.400. Namun jika anjlok, harganya bisa Rp. 400/Kg.

Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru
Foto : Courtesy Ekspedisi Indonesia Biru

Beberapa hari kemudian, Dandhy Dwi Laksono mendapati kabar jika Marga Mahuze memutuskan membawa kasus ini ke ranah hukum. Namun belum lagi ada kabar perkembangan sejak dilaporkan ke kantor polisi setempat.

“THE MAHUZEs” telah menuntun kesadaran kita, untuk lebih memahami persoalan yang terjadi di Papua. Bahwa persoalan Papua bukan sekedar persoalan keterbelakangan. Lebih dari itu, persoalan Papua adalah panggung aksi serakah dan perselingkuhan menjijikkan antara penguasa dan pemilik modal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *