Balai TNRAW Tanggapi Positif Perjuangan Masyarakat Adat Hukaea Laeya

0

SUARAKENDARI.COM-Perjuangan warga Huaeya menanti pengakuan negara atas tanah ulayatnya yang berada di lokasi taman Nasioanl Rawa Aopa Watumohai di wilayah Kabupaten Bombana mendapat tanggapan positif dari Kepala Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), Fransisco Moga. Ia mengaku ada harapan atas perjuangan warga Hukaea, pasca lahirnya perda Nomor 4 tersebut.

“Kami akan mengkaji lokasi tempat itu dan akan mencermati kondisi sumber daya alam dan sekitarnya agar wilayah itu untuk masuk dalam zona tradisional,” ujarnya usai jadi pemateri dalam workshop.

Kata Fransisco, saat ini wilayah desa Hukaea masih masuk kawasan zona Rimba. Suatu kawasan yang dilarang melakukan adanya aktifitas kegiatan masyarakat melakukan kegiatan pertanian. ” Segera setelah hadirnya perda itu, Pemkab Bombana melaporkan ke Kementrian lingkungan Hidup dan Pertanian. Sebab wilayah hukaea itu ada ditaman nasioanal,”jelasnya

“Sehingga secara hirarki, kami akan dipanggil disana. Untuk menjelaskan semua. Sebagai langkah solusinya, tentutnya harus ada perubahan zonasi (dari zonasi hutan Rimba menjadi Zonasi Hutan tradisional).

Di zonasi itu sambung Fransisco warga dibolehkan melakukan kegiatan pertanian di lokasi Taman Nasional.

Diketahui masyarakat Hukaea Laea mendiami wilayah ulayatnya sebelum indonesia merdeka. Pasca kemerdekaan, wilayahnya ditetapkan sebagai lokasi Taman Nasional Rawa Aopa wetumohai. Penetapan ini mengusik warga yang kini berjumlah sekitar 110 KK. Warga mulai dilarang atau dibatasi untuk mengembangkan hasil pertaniannya dalam bercocok tanam. Akibatnya warga terus berjuang untuk merebut hak ulayatnya.

“Kami mendukung masyarakat kami itu. Makanya kini sedang kami upayakan agar semua menuai solusi yang bisa diterima baik masyarakat maupun pihak Taman Nasional. Salah satunya itu lahirnya perda ini,” pungkas Sulkarnaeni Kepala Bapeda Bombana. (

Sementara, Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) Sulawesi Institute yang mendampingi nasib etnis Moronene di Desa Hukaea Laea Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana, menyatakan Warga Hukaea yang diklaim sebagai suku tertua di Sulawesi Tenggara itu, kini sementara berjuang menanti pengakuan negara atas tanah ulayatnya yang berada di lokasi taman Nasioanl Rawa Aopa Watumohai di wilayah Kabupaten Bombana.

Kamis (12/11), Sulawesi institute menggelar Workshop untuk Implementasi Perda Kabupaten Bombana, nomor 4 Tahun 2015 tentang pengakuan, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat adat Moronene Hukaea Laea di Aula Bappeda Bombana.

“Hadirnya kegiatan ini sebagai tindak lanjut atas inisiasi kami dalam mendampingi warga Hukaea. Mereka sudah lama memperjuangkan hak-haknya. Sebelumnya, kami sudah melakukan kajian akademik sebagai penopang lahirnya perda nomor 4 itu,” ujar Erwin anggota Sulawesi Institute

Workshop yang dihadiri masyarakat Bombana, tokoh Hukaea dan sejumlah instansi Pemkab Bombana ini membawah angin segar atas perjuangan warga Hukaea yang ingin area pemukiman dan wilayahnya adatnya tidak dimasukan dalam kaplingan Taman Nasional.

DAR)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.