APIK Bangun Kolaborasi dengan Sektor Bisnis untuk Pertanian Berkelanjutan

0

. Dok.foto: ADE.SIP

Suarakendari.com-Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim (APIK) bersama dengan sejumlah sektor bisnis yaitu PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara (Bank Sultra), PT Asuransi Central Asia (ACA), dan Syngenta Indonesia menandatangani nota kesepahaman untuk berkolaborasi mendukung pertanian berkelanjutan melalui program pembiayaan bagi petani jagung untuk pertanian cerdas iklim di Konawe Selatan berbasis Akselerasi Sinergi dan Inklusi (AKSI PANGAN). Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan dalam acara Temu Usaha (Business Gathering) Membangun Kerja Kolaboratif antara Pemerintah dan Dunia Usaha untuk Memperkuat Ketangguhan Masyarakat menghadapi Risiko Bencana dan Iklim di Sulawesi Tenggara.

Jagung merupakan salah satu komoditas unggulan di Sulawesi Tenggara. Permintaan jagung semakin tinggi dan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian juga menargetkan penanaman 3 juta hektar lahan jagung di tahun 2017 untuk menghentikan impor. Meski demikian, jumlah rata-rata produktivitas jagung di Sulawesi Tenggara masih jauh di bawah rata-rata dengan 2,84 ton/ hektar dibandingkan dengan jumlah rata-rata produktivitas nasional sebesar 4,1 ton/ hektar. Dengan kondisi potensi yang ada dan rendahnya produktivitas yang disebabkan oleh beberapa penyebab, faktor cuaca dan iklim dapat memperparah kondisi tersebut. Cuaca ekstrem dan tidak menentu telah menyebabkan munculnya penyakit dan hama, banjir dan kekeringan menyebabkan gagal panen. Untuk itu, penting untuk meningkatkan pemahaman petani mengenai cuaca dan iklim sebagai salah satu cara untuk meningkatkan ketangguhan mereka terhadap kondisi yang ada, dan di saat yang sama berpotensi meningkatkan produktivitas.

Dengan alasan itulah, program USAID APIK menggandeng Bank Sultra, ACA, dan Syngenta untuk bekerja sama mengimplementasikan program pilot pertanian cerdas iklim untuk budidaya jagung di Konawe Selatan yang akan dimulai pada Januari 2018. Bank Sultra akan menyediakan plot lahan, peralatan budidaya, serta akses permodalan untuk petani. Direktur Pemasaran Bank Sultra, Depid mengatakan, “Bank Sultra bangga dapat berkontribusi untuk meningkatkan potensi pertanian di Sulawesi Tenggara khususnya Konawe Selatan. Bank Sultra memiliki mandat untuk mendukung pengembangan sektor potensial dan dengan adanya perubahan iklim yang berdampak pada petani, secara langsung dan tidak langsung juga berdampak pada Bank Sultra. Melalui program ini, diharapkan dapat menghindari adanya kredit macet karena debitur terkena bencana, sekaligus sebagai bentuk kontribusi dalam upaya peningkatan ketangguhan petani.”

Sementara itu, pihak ACA akan menyediakan produk asuransi pertanian berbasis parameter atau indeks. Senior Vice President Micro Insurance ACA, Jakub Nugraha mengatakan, “ACA menyediakan jasa asuransi tanaman untuk mendukung program pemerintah dan meminimalisir kerugian petani melalui konsep manajemen risiko secara luas. ACA berkomitmen untuk mendukung upaya-upaya peningkatan produktivitas yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pembangunan daerah. Kehadiran asuransi pertanian yang berbasis rantai nilai, merupakan pendekatan lunak yang manfaatnya dirasakan oleh banyak pihak. Asuransi pertanian akan mempercepat petani memulihkan kembali usahanya pasca musibah sehingga petani dan keluarganya lebih terjamin untuk menjalani kembali bisnisnya pasca musibah. Inilah peran yang ingin dijalankan ACA bagi dunia pertanian Indonesia, yaitu mempercepat pemulihan usaha petani pasca musibah, sehingga akan tercipta petani Indonesia yang tangguh terhadap bencana, tanpa semata-mata menggantungkan diri kepada bantuan atau uluran tangan pemerintah. ”

Selain asuransi dan permodalan, dari sisi teknologi agrobisnis, Syngenta turun tangan dan membantu menyediakan produk benih unggul jagung hibrida, menyediakan tenaga pendamping petani, serta bersama-sama menyediakan pelatihan untuk petani. Regional Sales Manager Syngenta untuk Sulawesi, Bahtiar Manadjeng menyatakan, “Syngenta menyediakan solusi untuk petani melalui inovasi teknologi pertanian agar petani lebih produktif, kami menyadari adanya risiko bencana dan iklim yang mengancam mereka. Diharapkan melalui program ini, petani menjadi lebih sejahtera dan pada akhirnya dapat membantu pencapaian ketahanan dan kedaulatan pangan”.

Program pembiayaan bagi petani yang berbasis rantai nilai pada akhirnya akan memberikan akses terhadap industri keuangan, pasar, dan teknologi untuk petani. Dengan kolaborasi antara ketiga akses ini, petani menjadi subjek, sehingga petani menjadi pintar dan mandiri tanpa harus disubsidi dan berkelanjutan. Produktivitas hasil panen tidak saja meningkat, namun biaya produksi menjadi lebih rendah, sementara kualitas hasil panen meningkat karena antara lain terjadinya penurunan gagal panen akibat serangan hama penyakit. Pertanian yang berkelanjutan di tengah ancaman bencana dan iklim diharapkan dapat dicapai melalui program kerja sama ini.

USAID APIK mengapresiasi seluruh sektor bisnis yang bersedia bekerja sama serta berkontribusi dalam upaya peningkatan ketangguhan masyarakat khususnya petani. Direktur Program USAID APIK, Paul Jeffery mengatakan, “Upaya peningkatan ketangguhan tidak hanya menjadi tugas kami dan juga pemerintah tetapi membutuhkan upaya dari berbagai pihak termasuk sektor bisnis. Semoga apa yang telah dirintis ini dapat menjadi penyemangat dan pendorong bagi para aktor bisnis lainnya agar menyadari adanya ancaman bencana dan iklim yang jika didiamkan dapat merugikan aset serta investasi perusahaan.” Ini hanyalah permulaan dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Untuk mencapai masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana, kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Dengan bekerja bersama-sama, maka upaya peningkatan ketangguhan akan terasa lebih ringan dan pada akhirnya semua pihaklah yang akan merasakan manfaatnya di tengah kondisi cuaca dan iklim saat ini yang semakin ekstrem dan tidak menentu. Selain itu diharapkan kerja sama ini juga dapat menjadi contoh bagi sektor bisnis lainnya untuk mulai melihat faktor bencana dan iklim sebagai bagian dari manajemen risiko internal serta peluang untuk pengembangan bisnis yang berkelanjutan.SK

Leave A Reply

Your email address will not be published.