Connect with us

Ancaman dari Gas Metan

Metro

Ancaman dari Gas Metan

TEMPAT pembuangan akhir sampah (TPAS) merupakan subsistem akhir dari sistem pengelolaan sampah. Gas dari TPA terdiri dari beberapa jenis yang sebagian besar berasal dari pembusukan sampah. Gas yang ditemukan di TPA sebagian besar terdiri dari ammonia (NH3), karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), hidrogen (H2), asam sulfide (H2S), metana (CH4), nitrogen (N2 ) dan oksida (O2).

Gas-gas yang dihasilkan TPA ini beberapa diantaranya merupakan gas-gas rumah kaca yang menjadi penyumbang terjadinya pemanasan global. Untuk mengurangi  pelepasan gas rumah kaca, salah satunya dilakukan dengan pengelolaan TPAS yang baik. Data badan perlindungan lingkungan Amerika Serikat(US-EPA) tahun 2003, menyebutkan sebanyak 34 % emisi metana yang dihasilkan TPAS memberikan kontribusi terhadap pemanasan global.

“Makanya gas metan ini harus dimanfaatkan karena daya rusaknya sangat besar, 20 – 30 kali lipat bila dibandingkan dengan gas CO2, sehingga mempercepat penipisan lapisan ozon,”  kata  Ketua Program Studi Teknik Lingkungan,Universitas Muhammadiyah KendariIlham.

Pengelolaan gas metan yang dilakukan Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puwatu merupakan salah satu langkah maju pengurangan dampak gas rumah kaca. Meskipun sumbangsih Kendari terhadap gas rumah kaca masih kecil, namun ia mengakui sebuah perubahan  harus dimulai dari yang kecil.

Listrik yang dihasilkan dari gas metan kata Ilham hanya merupakan dampak dari pengelolaan sampah.  “Tujuannya sebenarnya ialah pengurangan gas ini yang mempercepat penipisan lapisan ozon. Kalau kita mulai dari Kendari dan diikuti   semua daerah kan bisa memberikan pengaruh yang signifikan,” katanya.

Dia mengakui pengelolaan sampah di TPA Puwatu merupakan sebuah terobosan, namun menurutnya sampah harus dikurangi sejak dari sumbernya sehingga tidak terjadi penumpukan di TPA.

Jika pengurangan sampah dari sumbernya sudah berjalan, maka potensi gas metan yang timbul akibat penghancuran sampah di TPA bisa diminimalisir. Penghematan biaya operasional truk pengangkut sampah yang juga menghasilkan gas karbon sudah bisa dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan dari sisi masyarakat bisa menambah pendapatan dengan mengolah sampah untuk aneka jenis barang daur ulang.

Dia menyarankan Pemerintah Kota Kendari membangun sistem pengelolaan sampah di TPA Puwatu sehingga program ini bisa berjalan terus menerus, meskipun terjadi pergantian kepemimpinan daerah. “Harus membuat sistem yang baku, dengan menyerahkan pengelolaan sampah pada swasta dengan kontrak jangka pendek dan diperbaharui setiap tahun,” katanya. (Sumarlin)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Metro

To Top